Peningkatan kasus dengue tidak dapat dijelaskan hanya oleh banyaknya nyamuk atau perubahan cuaca. Penularan dengue merupakan hasil interaksi yang kompleks antara kondisi manusia, lingkungan, karakteristik nyamuk Aedes, serta dinamika virus dengue.
Temuan tersebut terangkum dalam artikel ilmiah berjudul 鈥淯ncovering Key Drivers of Rising Dengue Cases in Malaysia: A Systematic Review鈥� yang dipublikasikan dalam Malaysian Journal of Public Health Medicine Volume 26 Nomor 1 Tahun 2026. Artikel itu melibatkan Prof Ririh Yudhastuti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat 东京热 bersama peneliti dari Universiti Putra Malaysia, University of Cyberjaya, dan Mahidol University.
Mengkaji Dua Puluh Penelitian Dengue
Penelitian tersebut menggunakan metode tinjauan sistematis untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mendorong peningkatan kasus dengue di Malaysia. Tim peneliti menelusuri publikasi pada basis data ScienceDirect dan EBSCOhost dengan cakupan artikel yang diterbitkan pada 2011鈥�2024.
Sebanyak 331 artikel ditemukan dalam penelusuran awal. Setelah duplikasi dihapus dan dilakukan penyaringan judul, abstrak, serta teks lengkap, sebanyak 20 penelitian dinyatakan memenuhi kriteria untuk dianalisis.
Proses pemilihan artikel mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses atau PRISMA. Kualitas metodologis penelitian juga dinilai menggunakan Mixed Methods Appraisal Tool atau MMAT.
Berdasarkan hasil sintesis, tim peneliti mengelompokkan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus dengue menjadi empat kelompok besar, yaitu faktor manusia, lingkungan, vektor, dan virus. Keempat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi dalam membentuk pola penularan dengue.
Mobilitas dan Kondisi Sosial Memengaruhi Risiko
Faktor manusia meliputi usia, jenis pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, karakteristik tempat tinggal, pengetahuan, serta perilaku pencegahan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kelompok usia muda dapat mengalami angka kejadian dengue yang tinggi karena mempunyai mobilitas dan aktivitas di luar rumah yang lebih besar. Sementara itu, kelompok usia lebih tua memiliki kemungkinan paparan dengue yang lebih besar secara kumulatif karena telah hidup lebih lama di wilayah endemis.
Paparan berulang terhadap serotipe virus yang berbeda juga dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Kondisi tersebut berhubungan dengan mekanisme antibody-dependent enhancement, yaitu keadaan ketika antibodi dari infeksi sebelumnya justru dapat memperkuat proses infeksi oleh serotipe dengue yang berbeda.
Pekerjaan turut berpengaruh terhadap risiko penularan. Pekerja yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, perkebunan, dan jasa pengiriman, berpotensi lebih sering terpapar gigitan nyamuk.
Selain itu, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi tantangan yang lebih besar dalam melakukan pencegahan. Kondisi tempat tinggal yang padat, sanitasi yang belum memadai, keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan, serta kurangnya sarana pengendalian nyamuk dapat meningkatkan kerentanan terhadap dengue.
Pengetahuan Belum Selalu Menjadi Tindakan
Tinjauan tersebut juga menemukan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik pencegahan. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa dengue merupakan penyakit berbahaya. Namun, pemahaman tersebut belum selalu diikuti oleh tindakan pencegahan yang dilakukan secara rutin.
Sebagai contoh, masih terdapat masyarakat yang tidak memantau informasi mengenai wilayah berisiko atau lokasi hotspot dengue. Penggunaan obat antinyamuk dan pemeriksaan tempat penampungan air juga sering kali baru dilakukan setelah terjadi peningkatan kasus.
Keterlambatan mencari pelayanan kesehatan menjadi persoalan lainnya. Beberapa pasien memilih melakukan pengobatan sendiri selama beberapa hari sebelum mendatangi fasilitas kesehatan. Keterlambatan tersebut dapat mengurangi kesempatan untuk melakukan deteksi dini dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi dengue tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Program kesehatan perlu diarahkan pada pembentukan perilaku yang konsisten, termasuk pemeriksaan tempat penampungan air, penggunaan perlindungan pribadi, dan pencarian pertolongan medis sejak muncul gejala.
Urbanisasi Menciptakan Habitat Nyamuk
Faktor lingkungan menjadi salah satu pendorong utama peningkatan dengue di Malaysia. Urbanisasi yang cepat, tingginya kepadatan penduduk, sistem drainase yang kurang baik, serta pengelolaan sampah yang tidak memadai dapat menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk.
Permukiman padat memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih sering antara manusia dan nyamuk. Wadah bekas, botol, ember, saluran air tersumbat, tempat penampungan air, dan sampah plastik dapat menampung air serta menjadi habitat larva Aedes.
Risiko juga ditemukan lebih tinggi pada beberapa jenis hunian padat, seperti apartemen, rumah susun, dan rumah teras. Kondisi tersebut berkaitan dengan kepadatan penghuni, penggunaan tempat penampungan air bersama, serta keterbatasan sistem pembuangan air.
Rumah yang berada di sekitar lokasi konstruksi, taman, area bermain, dan lingkungan dengan banyak vegetasi juga dapat menghadapi risiko lebih besar apabila terdapat wadah atau bagian lingkungan yang dapat menampung air.
Salah satu penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa rumah tangga dengan pengelolaan sampah yang tidak baik memiliki risiko penularan dengue 3,2 kali lebih tinggi. Temuan tersebut menegaskan bahwa pengendalian dengue perlu menjadi bagian dari perencanaan kota, pengelolaan permukiman, dan pelayanan kebersihan lingkungan.
Dengue Tidak Lagi Hanya Menjadi Penyakit Perkotaan
Selama ini dengue kerap dianggap sebagai penyakit yang terutama terjadi di perkotaan. Namun, kajian tersebut menunjukkan bahwa penularan dengue juga semakin meluas ke daerah perdesaan.
Pembangunan infrastruktur, perubahan penggunaan lahan, mobilitas penduduk, perjalanan antardaerah, serta perluasan habitat nyamuk dapat menyebabkan risiko dengue di wilayah perdesaan meningkat.
Perbedaan habitat turut memengaruhi jenis nyamuk yang dominan. Aedes aegypti lebih sering ditemukan di kawasan perkotaan, sedangkan Aedes albopictus banyak dijumpai di lingkungan perdesaan. Namun, kedua spesies tersebut dapat hidup berdampingan pada wilayah tertentu.
Keberadaan dua spesies nyamuk dengan karakteristik habitat yang berbeda membuat upaya pengendalian menjadi lebih kompleks. Program pengendalian tidak dapat hanya berfokus pada satu jenis tempat perkembangbiakan atau satu karakteristik wilayah.
Cuaca Hangat dan Basah Tingkatkan Risiko
Suhu, curah hujan, dan kelembapan juga berperan dalam dinamika penularan dengue. Kisaran suhu sekitar 22鈥�32 derajat Celsius mendukung perkembangan nyamuk, meningkatkan aktivitas menggigit, dan memperpendek waktu yang dibutuhkan virus untuk berkembang di dalam tubuh nyamuk.
Curah hujan mempunyai pengaruh yang tidak sederhana. Hujan deras dapat menghanyutkan larva dari tempat perkembangbiakan. Namun, beberapa minggu setelah hujan, air yang tertinggal dalam wadah, saluran, dan cekungan dapat membentuk habitat baru bagi nyamuk.
Kajian tersebut mencatat bahwa peningkatan populasi nyamuk dapat muncul sekitar dua hingga enam minggu setelah hujan. Oleh karena itu, data cuaca dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan periode peningkatan risiko dan mendukung pengembangan sistem peringatan dini dengue.
Kondisi hangat dan basah secara bersamaan ditemukan meningkatkan risiko dengue. Sebaliknya, kondisi dingin dan kering cenderung berkaitan dengan risiko yang lebih rendah.
Keragaman Virus Memengaruhi Keparahan
Faktor virus menjadi bagian penting dari peningkatan beban dengue. Virus dengue memiliki empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.
Hasil tinjauan menunjukkan bahwa DENV-3 menjadi salah satu serotipe dominan yang dikaitkan dengan tingkat keparahan dan kematian yang lebih tinggi pada periode tertentu di Malaysia. Infeksi campuran oleh beberapa serotipe juga meningkatkan kemungkinan terjadinya dengue berat.
Salah satu penelitian yang ditinjau menemukan bahwa pasien dengan infeksi campuran memiliki kemungkinan sekitar 13 kali lebih besar mengalami dengue berat. Meskipun demikian, besarnya pengaruh serotipe dapat berbeda menurut lokasi, periode penelitian, dan karakteristik populasi.
Temuan itu menunjukkan perlunya surveilans virus yang dilakukan secara berkelanjutan. Pemantauan tidak hanya mencatat jumlah kasus, tetapi juga perlu mengidentifikasi serotipe yang beredar dan perubahan karakteristik virus dari waktu ke waktu.
Pengendalian Memerlukan Kerja Lintas Sektor
Tim peneliti menegaskan bahwa peningkatan dengue tidak dapat diatasi melalui satu jenis intervensi. Pengasapan atau fogging yang dilakukan secara reaktif setelah munculnya kasus tidak cukup untuk memberikan dampak jangka panjang apabila tempat perkembangbiakan nyamuk tetap tersedia.
Pengendalian dengue memerlukan kolaborasi antara sektor kesehatan, lingkungan, perumahan, pendidikan, tata kota, dan pemerintahan daerah. Upaya tersebut meliputi perbaikan sistem drainase, pengelolaan sampah, pengawasan lokasi konstruksi, pemantauan vektor, surveilans serotipe virus, serta edukasi masyarakat.
Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan peringatan risiko secara waktu nyata. Informasi mengenai hotspot, perubahan cuaca, dan peningkatan kasus dapat membantu masyarakat dan pemerintah mengambil tindakan lebih awal.
Secara keseluruhan, penelitian tersebut menegaskan bahwa pengendalian dengue harus bergeser dari pendekatan reaktif menuju pendekatan terpadu dan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan faktor manusia, lingkungan, vektor, dan virus, kebijakan pencegahan dapat disusun secara lebih tepat sesuai karakteristik kelompok dan wilayah berisiko.
Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.





