UNAIR NEWS – Fenomena kurban online kian masif dan menjadi tren di tengah masyarakat modern. Hadirnya kurban online dinilai memberikan efisiensi pada tenaga dan waktu oleh masyarakat secara luas. Menanggapi hal tersebut, 东京热 (UNAIR), Prof Dr Bagong Suyanto Drs M Si menyatakan bahwa pergeseran tata cara ibadah ini merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi di era digital.
Menurutnya, digitalisasi dalam ritual keagamaan seperti kurban merupakan bagian dari adaptasi struktural masyarakat yang menuntut efisiensi. Kurban online dinilai menjadi solusi bagi masyarakat modern yang memiliki keterbatasan waktu dan menjadikannya hambatan untuk bisa merealisasikan keinginannya dalam beribadah kurban.
“Kurban online tidak terhindarkan. Ini adalah implikasi dari perubahan masyarakat di era digital,” ungkapnya pada tim UNAIR NEWS.
Meskipun mengubah pola interaksi fisik yang biasanya kental dalam ritual keagamaan konvensional, ia pun menilai sistem digital dapat membawa dampak positif yang signifikan dari sisi distribusi.

Manfaat Pemerataan Hasil Kurban
Menurut Prof Bagong, kurban online dinilai mampu mengatasi masalah ketimpangan jumlah hasil kurban, khususnya penumpukan stok daging yang selama ini sering terjadi di wilayah perkotaan. Kurban online memungkinkan pemetaan data yang lebih rapi, sehingga penyaluran hewan kurban bisa dialihkan ke wilayah yang jauh lebih membutuhkan bantuan pangan. Hal itu sekaligus mengurangi ketimpangan konsumsi daging antara kota besar dan daerah pelosok.
“Lebih praktis dan bisa menjangkau kelompok sasaran yang memang membutuhkan. Misalnya masyarakat miskin di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar),” tambahnya..
Dengan kemudahan yang tersedia, masyarakat hanya memberikan donasi secara mudah dan melalui jarak jauh, serta lembaga pengelola menyalurkan hasil berdasarkan pemetaan wilayah distribusi yang tepat agar pemerataan dapat tercapai secara penuh.
Menjaga Akuntabilitas Penyaluran DNA
Namun, di samping kemudahan dan jangkauan yang lebih luas, Prof Bagong memberikan catatan kritis mengenai aspek kepercayaan di ruang digital. Lantaran masyarakat yang memberikan donasi dan ikut beribadah kurban secara online tidak bisa melihat dan terlibat langsung dalam proses penyembelihan, maka transparansi pengelola menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.
Secara sosiologis, kurban online juga mengubah pola hubungan sosial dari yang semula berorientasi pada tatap muka menjadi hubungan yang bersifat transaksional. Sehingga akuntabilitas lembaga pengelola sangat diuji dalam fenomena ini. Masyarakat perlu untuk memperhatikan kesungguhan dan kredibilitas lembaga penyedia layanan kurban online agar ibadah yang mereka jalani tetap terjaga esensinya.
“Tapi lembaga yang menyalurkan harus kredibel,” tegas Prof Bagong..
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih platform, dan mendesak lembaga-lembaga penyedia layanan kurban online untuk menjaga transparansi mereka di hadapan publik secara konsisten.
Penulis: Nur Ibad Khasani
Editor Khefti Al Mawalia





