Pertumbuhan ternak merupakan salah satu aspek fundamental dalam industri peternakan yang sangat menentukan efisiensi produksi dan keuntungan ekonomi. Karakteristik pertumbuhan seperti bobot badan, konsumsi pakan, dan konformasi tubuh memiliki hubungan erat dengan performa produksi, khususnya pada ternak penghasil daging. Peningkatan sifat-sifat tersebut tidak hanya berdampak pada nilai ekonomi ternak, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan serta mendukung sistem produksi yang berkelanjutan.
Faktor genetik memegang peranan kunci dalam menentukan variasi individu terhadap sifat pertumbuhan. Sejumlah gen kandidat telah diketahui memiliki hubungan kuat dengan karakteristik pertumbuhan, di antaranya growth hormone (GH), growth hormone receptor (GHR), myostatin (MSTN), serta insulin-like growth factor 2 (IGF2). Gen-gen tersebut berperan dalam mengatur berbagai proses biologis penting seperti metabolisme, diferensiasi sel, perkembangan otot, hingga efisiensi konversi pakan menjadi massa tubuh. Namun demikian, ekspresi sifat pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik semata. Kondisi lingkungan, status nutrisi, manajemen pemeliharaan, serta kesehatan fisiologis ternak juga memiliki pengaruh yang signifikan. Ternak dengan potensi genetik unggul tidak akan mampu menunjukkan performa optimal tanpa dukungan nutrisi yang memadai dan manajemen pemeliharaan yang baik. Oleh karena itu, program pemuliaan yang efektif harus mengintegrasikan perbaikan genetik dengan strategi nutrisi dan manajemen lingkungan yang optimal.
Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan efisiensi produksi ternak sering dikaitkan dengan sistem insulin-like growth factor (IGF), baik melalui pendekatan nutrisi, seleksi genetik, maupun strategi peningkatan pertumbuhan. IGF1 diketahui mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan pada sapi potong dan unggas. Sementara itu, IGF1 dan IGF2 memiliki peran esensial dalam mengatur proliferasi dan diferensiasi sel, terutama pada jaringan otot, tulang, dan organ vital. IGF2 berfungsi sebagai mediator utama aktivitas hormon pertumbuhan (GH) dan bekerja melalui mekanisme sistemik, parakrin, maupun autokrin dalam jaringan tubuh. Karena perannya yang sentral dalam mengatur pertumbuhan dan metabolisme, IGF2 menjadi target penelitian yang sangat penting dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak secara alami dan berkelanjutan. Ekspresi gen IGF2 tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi juga oleh kondisi lingkungan seperti nutrisi, manajemen pemeliharaan, dan tingkat stres. Ternak dengan potensi genetik unggul umumnya menunjukkan laju pertumbuhan lebih cepat dan efisiensi pakan yang lebih baik. Sebaliknya, kondisi nutrisi yang buruk atau stres lingkungan seperti pembatasan pakan dan penyakit dapat menurunkan ekspresi IGF2 dan menghambat performa pertumbuhan.
Regulasi IGF2 melibatkan interaksi kompleks antara variasi genetik, status nutrisi, modifikasi epigenetik, serta jalur regulasi molekuler yang berbeda antar spesies ternak. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji peran IGF2 pada spesies tertentu, kajian komprehensif yang mengintegrasikan aspek genetik, nutrisi, epigenetik, dan bioteknologi masih terbatas. Selain itu, pengaruh faktor eksternal seperti komposisi pakan, keseimbangan energi, stres lingkungan, serta mekanisme epigenetik terhadap ekspresi IGF2 dan jalur sinyalnya belum dievaluasi secara terintegrasi. Padahal, faktor-faktor tersebut dapat secara signifikan memodulasi aktivitas sistem IGF dalam tubuh ternak. Kemajuan bioteknologi modern seperti genome editing, analisis transkriptomik, dan modulasi epigenetik membuka peluang baru dalam mengatur ekspresi IGF2. Namun demikian, potensi manfaat, keterbatasan, serta implikasi terhadap kesejahteraan ternak masih memerlukan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif. Mengintegrasikan ilmu biologi molekuler, nutrisi ternak, genetika, dan bioteknologi, IGF2 berpotensi menjadi kunci utama dalam pengembangan sistem produksi ternak yang presisi, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi. Ke depan, pemanfaatan IGF2 secara optimal diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi ekonomi dalam industri peternakan modern.
Penulis: Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., M.P
Nama jurnal: Veterinary WorldLink jurnal:





