Penyakit ginjal kronis (CKD) adalah gangguan ginjal progresif dan ireversibel yang ditandai dengan hilangnya nefron fungsional secara bertahap dan penurunan fungsi ginjal dari waktu ke waktu. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas paling umum pada anjing geriatrik. Studi epidemiologi telah melaporkan bahwa prevalensi CKD pada anjing dapat mencapai hingga 25% dari pasien yang dirujuk ke institusi kedokteran hewan (Barlett et al., 2010; Pelander et al., 2015). Prevalensi yang tinggi ini menyoroti pentingnya deteksi dini, penentuan stadium yang akurat, dan strategi manajemen komprehensif untuk meningkatkan hasil pasien.
Dari perspektif patofisiologis, CKD ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR), gangguan kemampuan konsentrasi ginjal, dan fibrosis progresif jaringan ginjal. Penyakit ini bersifat dinamis, dengan adaptasi kompensasi yang terjadi pada nefron fungsional yang tersisa, yang pada akhirnya menjadi kewalahan, menyebabkan insufisiensi ginjal progresif. Hal ini mengakibatkan berbagai konsekuensi sistemik, termasuk azotemia, ketidakseimbangan elektrolit, asidosis metabolik, hipertensi, dan hiperparatiroidisme sekunder ginjal (Polzin, 2007).
Manifestasi klinis CKD seringkali tidak spesifik pada tahap awal, sehingga diagnosis menjadi sulit. Tanda-tanda umum meliputi poliuria, polidipsia, anoreksia, penurunan berat badan, muntah, lesu, dan ulserasi mulut, yang mencerminkan akumulasi racun metabolik dan gangguan keseimbangan air dan elektrolit (Cathy, 2008). Kelainan laboratorium, seperti peningkatan BUN dan kreatinin serum, hiperfosfatemia, anemia, dan isostenuria, biasanya digunakan untuk mendukung diagnosis dan menilai tingkat keparahan penyakit. Sistem penentuan stadium International Renal Interest Society (IRIS) banyak digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan CKD dan memandu keputusan pengobatan.
Penanganan CKD pada anjing diarahkan pada beberapa tujuan utama, seperti perbaikan tanda-tanda klinis uremia dan peningkatan kualitas hidup, meminimalkan gangguan metabolisme dan elektrolit, termasuk gangguan keseimbangan air, fosfor, kalium, dan asam-basa, mendukung nutrisi yang memadai melalui modifikasi diet untuk menyediakan kalori, asam amino esensial, dan mikronutrien yang cukup, Alfarisa dan Soedarmanto, (2017) sambil membatasi fosfor dan protein untuk memperlambat perkembangan penyakit, memperlambat perkembangan gagal ginjal dengan mengendalikan hipertensi, proteinuria, dan komplikasi metabolik sekunder (Polzin, 2007; Cathy, 2008).
Karena CKD pada dasarnya progresif dan dinamis, manajemen optimal memerlukan rencana terapi individual berdasarkan stadium klinis penyakit, temuan laboratorium, dan kebutuhan spesifik pasien. Pemantauan serial merupakan aspek penting dari manajemen, yang memungkinkan klinisi untuk memodifikasi terapi seiring perkembangan penyakit atau meningkatnya komplikasi (Roudebush et al., 2010).
CKD pada anjing merupakan tantangan klinis yang signifikan karena prevalensinya yang tinggi, sifatnya yang progresif, dan efek multisistemiknya. Pengenalan dini, penentuan stadium yang akurat, dan penilaian ulang yang berkelanjutan merupakan landasan strategi manajemen yang efektif yang bertujuan untuk menjaga kesejahteraan pasien dan memperpanjang kelangsungan hidup.
ARTIKEL ILMIAH POPULER dari artikel yang dipublikasikan pada: Open Veterinary Journal, (2026), Vol. 16(2): 1389-1393 dengan title:
Chronic kidney disease in a dog with hematologic and cardiovascular alterations: A case report
Link artikel:





