UNAIR NEWS – Tim mahasiswa 东京热 (UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Muhammad Fauzil Adhim, Yemima Fara A, dan Maghfirahima G Prasiefa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat () berhasil meraih juara III dalam ajang policy brief Direktorat Penelitian dan Keilmuan (Ditlitka) PPI Dunia. Ketiganya mengangkat isu mengenai tantangan distribusi dan ketahanan pangan lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nunukan.
Mereka mengemas isu tersebut dalam karya berjudul SMART: Kebijakan Adaptif Berbasis Pangan Lokal dalam Urgensi Program Makan Bergizi Gratis Wilayah Perbatasan Nunukan, Kalimantan Utara. Kompetisi tersebut diumumkan pada Jumat (1/5/2026).
Muhammad Fauzil Adhim, mewakili tim memaparkan latar belakang pemilihan topik terkait implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nunukan.Menurutnya, daerah tersebut memiliki potensi pangan lokal yang besar, tetapi masih menghadapi berbagai tantangan. Seperti keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, hingga ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.
“Menurut kami, keberhasilan program MBG sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah. Terutama pada wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan yang masih termasuk ke dalam daerah 3T. Potensi pangan yang besar belum termanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Konsep Kebijakan Adaptif Berbasis Pangan Lokal
Lebih lanjut, Fauzil menjelaskan bahwa inovasi berbasis pangan lokal yang diusulkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi secara inklusif. Tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai sinergi antarmasyarakat. Hal ini karena Kabupaten Nunukan memiliki potensi pangan lokal yang melimpah. Mulai dari rumput laut, telur, sayuran, umbi-umbian serta hasil perikanan.

鈥淜onsep kebijakan adaptif berbasis pangan lokal ini dirancang dengan mengintegrasikan kebutuhan gizi, keamanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal,鈥 ungkapnya.
Selain itu, tim turut menyoroti bahwa isu gizi tidak dapat terpisahkan dari keamanan pangan, distribusi, maupun kesiapan sistem daerah dalam mendukung keberlanjutan program pangan nasional. Kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan bergizi, tetapi juga oleh keberlanjutan sistem pangan yang mendukungnya. Oleh karena itu, konsep kebijakan yang diusulkan dirancang dengan menyesuaikan kondisi dan potensi wilayah setempat.
Dampak terhadap Ketahanan Pangan dan Masyarakat
Selain berdampak pada aspek pangan dan gizi, tim juga menyoroti potensi kebijakan tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keterlibatan petani, nelayan, UMKM, serta komunitas lokal dalam penyediaan pangan. Hal tersebut dinilai mampu membangun sistem pangan yang mandiri dan adaptif bagi Kabupaten Nunukan sesuai dengan kondisi wilayahnya.
Fauzil menegaskan bahwa keberhasilan konsep kebijakan adaptif tersebut harapannya mampu menghadirkan sistem pemenuhan gizi yang aman, merata, dan berkelanjutan. Khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil yang hingga kini masih menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan distribusi pangan.
鈥淜ami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengamat. Tetapi juga dapat berkontribusi dalam menghadirkan gagasan kebijakan yang relevan, adaptif, dan aplikatif. Kami juga meyakini bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjembatani ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, serta pengambilan kebijakan yang solutif sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan bangsa,鈥 pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah Putri Iswara
Editor: Yulia Rohmawati





