UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin () ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) kembali mengukir prestasi internasional. Tim kolaborasi yang beranggotakan Raka Argha Ahsantya, Reizo Nararya Alinandito, dan Muhammad Daffa Tristan dari prodi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (TRKB), bersama Alifah Rahmah, Dyah Ajeng Kencana Putri, Nabiel Faiz Rusdinar, dan Bonifasius Christian Alfandhika dari prodi Rekayasa Nanoteknologi, sukses menyabet Gold Medal serta Special Award dalam ajang World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 17–20 Mei 2026. Mereka berhasil memukau juri lewat inovasi “WhisPr”, sebuah alat pemantau kualitas makanan berbasis Cloud-AI, IoT, dan sensor silver nanoprism.
Solusi Cepat Cegah Keracunan Makanan
Inovasi WhisPr lahir dari kepedulian tim terhadap program pemenuhan gizi anak sekolah yang rawan tercemar. Berbeda dengan metode konvensional berbasis pH atau suhu yang memakan waktu lama, WhisPr menawarkan solusi deteksi kebusukan yang cepat dan sangat sensitif. Alat ini memanfaatkan modifikasi nanopartikel perak berbentuk prisma segitiga untuk mendeteksi gas Volatile Organic Compounds (VOC) yang dihasilkan oleh bakteri pengurai makanan busuk.

Saat mendeteksi VOC, sensor dapat mengalami perubahan warna dari biru menjadi kuning atau hitam. Jika perubahan warna yang terjadi tipis atau sulit dibedakan, spectral sensor akan membantu membacanya untuk menentukan status makanan, yaitu aman (safe) saat warna tetap biru dan tidak aman (unsafe) saat mulai terjadi pergeseran warna. Selain itu, WhisPr juga dilengkapi fitur analisis AI melalui kamera smartphone untuk memperkirakan kandungan nutrisi.
“Tujuan utama programnya itu kan untuk pemenuhan gizi mereka, tapi banyak sekali terjadi case keracunan. Kita ingin prevent itu dengan membuat inovasi yang bisa mendeteksi kebusukan makanan secara cepat,” ujar Ian, salah satu perwakilan tim.
Sinergi Lintas Disiplin
Melahirkan WhisPr bukan perkara mudah. Tim harus menyatukan dua disiplin ilmu berbeda dalam linimasa yang singkat, yakni hanya sekitar dua hingga tiga bulan. Tim Nanoteknologi berfokus pada sintesis kimia, sementara tim TRKB merancang perangkat IoT dan aplikasi.
Reizo, anggota tim dari TRKB, mengakui adanya tantangan tersebut. “Hambatan itu ya di timeline cukup mepet. Sempat kesulitan karena kurang paham dengan disiplin mereka (Nanoteknologi), tapi pada akhirnya kami tetap bisa bikin semuanya bekerja,” ungkapnya.
Target Hak Cipta dan Rencana Komersialisasi
Pasca-kompetisi, WhisPr menarik perhatian investor global dan akademisi Malaysia yang tertarik mendanai inovasi ini. Saat ini, tim tengah bersiap mematangkan dataset AI untuk fitur analisis nutrisi dan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Respons positif tersebut disambut baik oleh tim dengan segera menyusun strategi pitching yang matang dan memaksimalkan setiap saran dari para pakar yang mereka temui selama pameran.
“Rencananya mungkin beberapa minggu ini kita akan coba untuk mengajukan hak cipta untuk proyek kita, dan kita akan langsung gerak ke funding. Alat kita ini sangat affordable dan sangat mungkin untuk di-scale up,” ungkap Ian.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





