
Nyeri saraf atau neuropathic pain merupakan kondisi nyeri kronis yang terjadi akibat kerusakan sistem saraf. Kondisi ini sering menimbulkan rasa nyeri berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya. Di Indonesia, angka kejadian nyeri saraf dilaporkan mencapai 21,8%, lebih tinggi dibandingkan beberapa laporan global.
Parasetamol merupakan obat yang sering digunakan untuk mengurangi nyeri. Namun, penggunaan dalam dosis tinggi dan jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan hati. Oleh karena itu, diperlukan alternatif yang dapat meningkatkan efek pereda nyeri sehingga kebutuhan dosis parasetamol dapat dikurangi.
Penelitian ini menggunakan 28 ekor tikus Wistar jantan yang dibuat mengalami nyeri saraf melalui prosedur chronic constriction injury (CCI), yaitu penyempitan saraf skiatik pada tungkai belakang. Tikus kemudian dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol, kelompok parasetamol dosis penuh, serta dua kelompok kombinasi parasetamol dosis rendah dengan ekstrak daun kratom dosis berbeda. Pengamatan dilakukan selama 14 hari dengan mengukur ambang nyeri menggunakan uji Von Frey dan kadar CXCL1, yaitu penanda peradangan dalam darah.
Setelah perlakuan, seluruh kelompok yang mendapatkan kombinasi kratom dan parasetamol menunjukkan peningkatan ambang nyeri dibandingkan kelompok kontrol. Hasil terbaik diperoleh pada kelompok yang menerima kombinasi parasetamol dosis rendah dan ekstrak kratom dosis tinggi. Kelompok ini memiliki kemampuan menahan rangsangan nyeri paling baik, bahkan melampaui kelompok yang mendapatkan parasetamol dosis penuh.
Penelitian juga menemukan bahwa pemberian kratom memengaruhi kadar CXCL1 yang berperan dalam proses peradangan. Temuan ini menunjukkan bahwa kratom tidak hanya bekerja sebagai pereda nyeri, tetapi juga berpotensi memodulasi respons inflamasi.
Daun kratom mengandung senyawa aktif seperti mitraginin dan 7-hidroksimitraginin yang memiliki aktivitas menyerupai opioid, namun dengan risiko depresi napas yang lebih rendah dibandingkan opioid konvensional. Selain itu, kratom juga memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan. Kombinasi mekanisme tersebut diduga menghasilkan efek sinergis dengan parasetamol sehingga mampu meningkatkan efektivitas pengendalian nyeri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kratom berpotensi menjadi terapi pendamping (adjuvan) bagi parasetamol dalam penanganan nyeri saraf. Kombinasi parasetamol dosis rendah dengan ekstrak kratom dosis tinggi memberikan efek analgesia yang lebih baik dibandingkan penggunaan parasetamol dosis penuh. Meskipun demikian, penelitian lanjutan pada manusia masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat diterapkan dalam praktik klinis.
Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono Waloejo, dr., Sp.An-TI., Subsp.An.R.(K)., Subsp.T.I.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Anindito GPA, Waloejo CS, Airlangga PS, Veterini AS, Susila D. Synergistic Analgesic and Anti-Inflammatory Effects of Kratom (Mitragyna speciosa) Leaf Extract as an Adjuvant to Paracetamol in a Rat Neuropathic Pain Model. International Journal of Drug Delivery Technology. 2026;16(5):540–7. doi:10.25258/ijddt.16.5s.71





