¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Perjuangan Bayi Pejuang: Bertahan dari Kelainan Diafragma hingga Komplikasi Pembuluh Darah

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Hernia diafragma kongenital (Congenital Diaphragmatic Hernia/CDH) merupakan kelainan bawaan langka yang terjadi ketika terdapat celah pada diafragma sehingga organ-organ perut, seperti usus, masuk ke rongga dada. Kondisi ini menghambat perkembangan paru-paru sejak dalam kandungan dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat segera setelah lahir.

Salah satu komplikasi yang sering menyertai CDH adalah hipertensi pulmonal persisten pada neonatus (Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn/PPHN), yaitu peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru yang menyebabkan kadar oksigen dalam darah sulit dipertahankan. Pada kasus berat, kondisi ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan perawatan intensif yang kompleks.

Seorang bayi perempuan cukup bulan dengan berat lahir 2.800 gram dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya karena mengalami sesak napas dan kebiruan sejak lahir. Pemeriksaan menunjukkan adanya hernia diafragma kongenital sisi kiri, di mana sebagian usus masuk ke rongga dada dan menekan paru-paru. Bayi juga mengalami PPHN yang menyebabkan gangguan oksigenasi berat.

Pasien menjalani perawatan intensif menggunakan ventilator, obat untuk menurunkan tekanan pembuluh darah paru, serta operasi penutupan defek diafragma pada hari ke-8 kehidupan. Meskipun operasi berjalan baik, kondisi pasien tetap berfluktuasi akibat hipertensi paru yang berat dan infeksi berulang selama masa perawatan.

Komplikasi paling serius terjadi pada hari ke-19 perawatan ketika muncul perubahan warna kulit, lepuh, dan gangguan aliran darah pada kedua tungkai. Pemeriksaan menunjukkan adanya emboli septik, yaitu sumbatan pembuluh darah yang berasal dari infeksi dan bekuan darah. Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah ke kaki kanan terhenti sehingga terjadi kerusakan jaringan yang tidak dapat diperbaiki.

Kasus ini menunjukkan bagaimana satu kelainan bawaan dapat memicu rangkaian komplikasi yang sangat kompleks. CDH menyebabkan gangguan perkembangan paru-paru yang kemudian menimbulkan hipertensi pulmonal berat. Kondisi tersebut mengharuskan penggunaan ventilator jangka panjang, obat-obatan penunjang sirkulasi, serta pemasangan kateter vena sentral.

Di sisi lain, penggunaan alat invasif dalam waktu lama meningkatkan risiko infeksi. Pada pasien ini, infeksi yang terjadi berkembang menjadi emboli septik yang menyumbat pembuluh darah tungkai dan menyebabkan iskemia atau kekurangan aliran darah. Meskipun berbagai terapi diberikan, termasuk antibiotik dan antikoagulan, tim medis harus menghadapi dilema antara mencegah pembentukan bekuan darah dan risiko perdarahan yang dapat mengancam jiwa.

Kasus ini menggambarkan tantangan besar dalam perawatan bayi dengan hernia diafragma kongenital yang disertai hipertensi pulmonal persisten. Keberhasilan pasien bertahan hidup menunjukkan pentingnya kerja sama multidisiplin antara dokter anak, bedah anak, anestesiologi, dan perawatan intensif. Namun, komplikasi berupa emboli septik hingga kehilangan jari-jari kaki mengingatkan bahwa pemantauan infeksi dan gangguan pembuluh darah harus dilakukan secara ketat selama perawatan neonatal intensif. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kualitas perawatan pada kasus serupa di masa mendatang.

Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., Sp.An-TI, Subsp.T.I.(K)., Subsp.An.Ped.(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Wicaksana ZL, Semedi BP, Budi MW, Angelika D. Multisystem challenges in neonatal critical care: a CDH survivor with PPHN and septic embolism. Anaesthesia, Pain and Intensive Care. 2025 Jan 1;29(9):1333–8. doi:10.35975/apic.v29i9.3076

AKSES CEPAT