¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Inovasi Baru Mengatasi Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) Setelah Olahraga

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Nyeri otot setelah berolahraga merupakan keluhan yang sering dialami oleh atlet maupun individu yang aktif berolahraga. Kondisi ini dikenal sebagai Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), yaitu nyeri yang muncul 8–24 jam setelah aktivitas fisik dan biasanya mencapai puncaknya dalam 24–48 jam. Meskipun bukan cedera serius, DOMS dapat mempengaruhi kinerja otot sehingga dapat menurunkan performa tubuh saat berolahraga. Oleh karena itu, berbagai metode pemulihan terus dikembangkan untuk mempercepat proses recovery pascalatihan. Salah satu metode yang semakin populer adalah Intermittent Pneumatic Compression (IPC) atau kompresi pneumatik intermiten.

IPC merupakan teknologi pemulihan yang menggunakan tekanan udara secara bergantian pada tungkai melalui alat khusus berbentuk manset atau sleeve. Tekanan diberikan secara berurutan dari bagian distal menuju proksimal sehingga meniru mekanisme pompa otot alami tubuh. Proses ini bertujuan meningkatkan aliran darah vena dan limfatik, mempercepat distribusi oksigen ke jaringan, serta membantu pembuangan sisa metabolisme yang terbentuk selama aktivitas fisik. Walaupun IPC telah banyak digunakan dalam dunia olahraga profesional, bukti ilmiah mengenai efektivitasnya terhadap nyeri dan fungsi otot setelah latihan masih terus berkembang.

Efektivitas metode ini diuji melalui studi eksperimental pada 16 pria sehat berusia 19–24 tahun. Seluruh peserta menjalani latihan pliometrik berupa countermovement jump sebanyak 20 repetisi dalam 5 set. Setelah latihan, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi mendapatkan terapi IPC selama 20 menit dengan tekanan 110 mmHg, sedangkan kelompok kontrol hanya beristirahat selama periode yang sama. Peneliti kemudian mengevaluasi intensitas nyeri otot pada tiga otot utama, yaitu quadriceps, hamstring,  dan gastrocnemius, kemampuan lompat vertikal, kekuatan otot tungkai, dan kadar creatine kinase (CK) sebagai penanda kerusakan otot, sebelum latihan dan 24 jam setelah intervensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPC memberikan manfaat yang nyata dalam mengurangi nyeri otot akibat DOMS. Dua puluh empat jam setelah latihan,  pengukuran intensitas nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) menunjukkan kelompok yang mendapatkan IPC mengalami nyeri quadriceps dan hamstring yang jauh lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Pada otot quadriceps, skor nyeri rata-rata kelompok IPC hanya 1,88, sedangkan kelompok kontrol mencapai 5,63. Temuan serupa juga terlihat pada otot hamstring, dengan skor nyeri 1,63 pada kelompok IPC dan 4,50 pada kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi IPC mampu mengurangi ketidaknyamanan yang biasanya muncul sehari setelah latihan berat.

Efek positif IPC juga terlihat pada performa fisik. Kelompok yang mendapatkan IPC mampu mempertahankan kemampuan lompat vertikal setelah latihan, sedangkan kelompok kontrol mengalami penurunan performa yang cukup besar. Tinggi lompatan pada kelompok IPC meningkat dari 41,75 cm menjadi 42,50 cm, sementara pada kelompok kontrol menurun dari 35,63 cm menjadi 31,50 cm. Temuan ini menunjukkan bahwa pemulihan yang lebih baik memungkinkan atlet mempertahankan fungsi neuromuskular setelah mengalami kelelahan akibat latihan pliometrik.

Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah penurunan kadar creatine kinase (CK) pada kelompok yang menerima IPC. CK merupakan enzim yang dilepaskan ke dalam darah ketika terjadi kerusakan serat otot akibat aktivitas fisik intens. Dua puluh empat jam setelah latihan, kadar CK pada kelompok IPC tercatat sebesar 304,63 U/L, jauh lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yang mencapai 2266,13 U/L. Perbedaan ini menunjukkan bahwa IPC membantu mempercepat proses pembersihan produk kerusakan otot sekaligus mendukung pemulihan jaringan yang mengalami mikrotrauma selama latihan.

Secara fisiologis, manfaat IPC berasal dari peningkatan sirkulasi darah dan aliran limfatik. Tekanan berulang yang diberikan alat membantu mendorong darah kembali ke jantung, meningkatkan perfusi jaringan, serta mempercepat eliminasi metabolit yang berkontribusi terhadap rasa nyeri dan kelelahan. Aliran darah yang lebih baik juga meningkatkan suplai oksigen dan nutrisi ke otot sehingga proses regenerasi jaringan berlangsung lebih optimal. Mekanisme inilah yang kemungkinan berkontribusi terhadap penurunan nyeri, rendahnya kadar CK, dan terjaganya performa fisik pada kelompok intervensi.

Secara keseluruhan, temuan penelitian ini memiliki implikasi praktis yang penting bagi dunia olahraga. Atlet, pelatih, dan praktisi kebugaran membutuhkan metode pemulihan yang efektif agar kualitas latihan tetap terjaga dan risiko cedera akibat kelelahan dapat dikurangi. Intermittent Pneumatic Compression (IPC) merupakan metode pemulihan yang efektif setelah latihan intensitas tinggi. Dengan kemampuannya menurunkan nyeri otot, mengurangi kadar creatine kinase, dan mempertahankan performa fisik, IPC berpotensi menjadi bagian penting dari program recovery atlet maupun individu aktif. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap optimalisasi pemulihan olahraga, teknologi ini menawarkan pendekatan yang praktis, aman, dan berbasis bukti ilmiah untuk membantu tubuh kembali siap beraktivitas dalam waktu lebih cepat.

Penulis: Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.12680/balneo.2026.950

Silviyanti, O. D., Sari, G. M., Qorib, M. F., Rahmat, A. A., Kosasih, A. H., & Ilmi, M. A. (2026). The effect of intermittent pneumatic compression in reducing pain and restoring muscle function after physical training. Balneo and PRM Research Journal. 17(1): 950

AKSES CEPAT