KABAR FIKKIA 鈥� Pemahaman terhadap pola penyebaran penyakit menjadi bagian penting dalam pengelolaan kesehatan udang vaname. Pendekatan epidemiologi membantu pembudidaya mengenali faktor lingkungan dan jalur masuk patogen yang berpotensi memengaruhi kesehatan udang.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Akuakultur FIKKIA 东京热, Arif Habib Fasya, S.Pi., M.P., dalam Workshop Laboratorium. Kegiatan berlangsung Sabtu (12/09/2026) di Kampus Giri FIKKIA UNAIR Banyuwangi.
Dalam pemaparannya, Arif membahas hasil pemantauan epidemiologi di sejumlah wilayah pesisir Selat Bali. Pemantauan mencakup beberapa stasiun, yaitu Mailang, Alasbuluh, Tambong, Glondong, Bago, Wringinputih, dan Kedung Asri.
Hasil monitoring menunjukkan suhu air laut berada pada kisaran 27,8鈥�32,3掳C. Sementara itu, salinitas tercatat pada kisaran 21,5鈥�38,5 ppt.
Selain parameter fisik, pemantauan juga mencakup akumulasi bahan organik melalui Total Organic Matter (TOM). Kepadatan bakteri Vibrio melalui Total Vibrio Count (TVC) turut menjadi salah satu indikator yang diamati.
Memahami Trias Epidemiologi dan Lag Time
Arif menjelaskan konsep Epidemiological Triad atau Trias Epidemiologi dalam pengelolaan penyakit. Konsep tersebut melihat interaksi antara inang (host), agen penyebab penyakit (pathogen), dan lingkungan (environment).
Menurutnya, kemunculan penyakit berkaitan dengan interaksi ketiga komponen tersebut. Perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kondisi inang dan perkembangan agen penyakit.
Arif juga menjelaskan adanya jeda waktu atau lag time antara perubahan kondisi lingkungan dan munculnya dampak klinis pada udang. Karena itu, kondisi udang pada suatu waktu tidak selalu mencerminkan perubahan lingkungan yang baru terjadi.
鈥淜ematian udang yang terlihat pada hari ini bukan disebabkan oleh perubahan air hari ini, melainkan dampak bertahap dari akumulasi stres lingkungan dan peningkatan konsentrasi patogen yang telah berlangsung sejak 5 hingga 10 hari sebelumnya,鈥� terangnya.
Pemahaman mengenai lag time mendorong pentingnya pencatatan parameter secara berkala. Data tersebut dapat membantu petambak melihat hubungan antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan udang dari waktu ke waktu.
Mengenali Jalur Masuk Patogen
Arif juga membahas berbagai jalur yang dapat menjadi pintu masuk patogen ke dalam sistem budidaya. Jalur tersebut perlu diperhatikan sebagai bagian dari penerapan biosekuriti tambak.
鈥淪umber masuknya patogen tidak hanya berasal dari benur yang membawa infeksi bawaan, tetapi juga dapat terbawa melalui pasokan air masuk (inlet) yang tidak tersterilisasi dengan baik, akumulasi bahan organik pada sedimen dasar kolam, hingga biota liar seperti kepiting dan udang liar yang berperan sebagai inang perantara (carrier),鈥� ujar Arif.
Karena itu, pengawasan terhadap sumber air, benur, sedimen, dan biota di sekitar tambak menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko penyakit. Identifikasi jalur masuk patogen juga dapat membantu menentukan titik yang perlu diperkuat dalam sistem biosekuriti.
Integrasi Data untuk Deteksi Dini
Arif menekankan pentingnya koordinasi antara teknisi tambak dan laboratorium dalam pemantauan kesehatan udang. Data kondisi perairan perlu dicatat secara rutin dan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Parameter seperti pH, kecerahan, TOM, dan kondisi mikrobiologis dapat memberikan informasi mengenai perubahan lingkungan tambak. Penggabungan data berdasarkan waktu dan lokasi membantu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi budidaya.
Data tersebut dapat menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan menentukan tindakan pengelolaan. Langkahnya dapat mencakup penyesuaian pemberian pakan, pengelolaan air inlet, hingga perlakuan terhadap lingkungan tambak sesuai dengan kondisi yang teridentifikasi.
Melalui pemantauan berkelanjutan, pembudidaya dapat mengenali perubahan kondisi tambak lebih awal. Pendekatan tersebut menempatkan data epidemiologi sebagai salah satu bagian dalam penguatan biosekuriti dan manajemen kesehatan udang.
Baca juga:
Penulis: Farra Azzahrani
Editor: Avicena C. Nisa




