Menjadi dokter hewan yang kompeten tidak hanya bermodal hafalan teori di bangku kuliah,
tetapi juga jam terbang dan keandalan clinical skill. Di sinilah kegiatan Tramed
(Keterampilan Medis) di divisi klinik memegang peranan yang sangat krusial bagi para
dokter hewan muda atau yang akrab disapa anak koas.
Tramed dirancang sebagai wadah pembekalan intensif yang menjembatani dunia akademik
dengan realita praktik klinis. Melalui program ini, anak koas dapat mengasah keterampilan
tangan dan insting medis mereka secara terarah. Tentu saja, keselamatan dan
kesejahteraan hewan tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, sebelum anak koas
melakukan praktik langsung pada pasien atau probandus, mereka selalu diberikan
pembekalan teori yang matang terlebih dahulu. Hal ini memastikan bahwa setiap tindakan
medis, sekecil apa pun, memiliki dasar rasional yang kuat dan dilakukan dengan presisi.
Seluruh proses ini diawasi dan dibimbing secara langsung oleh para dokter hewan senior di
divisi klinik.
Dari sekian banyak keterampilan medis yang dilatih, pemeriksaan oftalmologi (mata)
menjadi salah satu tramed yang paling penting dan menuntut ketelitian tingkat tinggi. Mata
bukan sekadar organ penglihatan, tetapi juga jendela diagnostik untuk melihat kondisi
kesehatan hewan secara keseluruhan.
Pemeriksaan oftalmologi yang lengkap dan terstruktur sangat penting untuk peneguhan
diagnosa. Banyak penyakit sistemik鈥攕eperti infeksi virus, diabetes, hingga hipertensi鈥攜ang
bermanifestasi pada mata. Tanpa pemeriksaan mata yang detail, dokter hewan bisa
kehilangan petunjuk diagnostik yang berharga.
Selain itu, anatomi mata sangat sensitif dan kompleks. Kesalahan kecil dalam mendiagnosa
kondisi lokal mata (seperti membedakan radang biasa dengan ulkus kornea) dapat berujung
pada pemberian terapi yang salah, yang berisiko menyebabkan kebutaan permanen pada
hewan. Dengan peneguhan diagnosa yang tepat dari awal, terapi yang diberikan akan jauh
lebih akurat, proporsional, dan efektif.
Di divisi klinik, kelancaran dan kualitas tramed oftalmologi ini tidak lepas dari tangan dingin
drh. Lina Susanti, MS., Ph.D. Di bawah bimbingan langsung dari beliau, anak koas diajak
untuk menyelami tahapan pemeriksaan mata secara sistematis, dari bagian luar (anterior)
hingga ke bagian dalam (posterior).
Setelah sesi teori di kelas selesai, drh. Lina akan membimbing anak koas untuk
mempraktikkan langsung penggunaan berbagai instrumen dan teknik diagnostik mata
standar, di antaranya:
Schirmer Tear Test (STT): Teknik fundamental untuk mengukur volume produksi air mata
hewan. Pemeriksaan ini sangat penting untuk mendeteksi kondisi Keratoconjunctivitis Sicca
(KCS) atau sindrom mata kering yang sering luput dari pandangan.
Fluorescein Test (FT): Penggunaan kertas pewarna khusus berfluoresensi untuk mendeteksi
ada tidaknya luka atau ulkus pada kornea. Langkah ini krusial untuk menentukan boleh
tidaknya penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid.
Funduscopy & Pemeriksaan Retina: Teknik tingkat lanjut menggunakan oftalmoskop untuk
mengintip bagian belakang mata (fundus). Anak koas diajarkan cara melihat kondisi retina,
pembuluh darah mata, dan saraf optik (lapisan tapetum lucidum) untuk mendeteksi kelainan
bawaan maupun kerusakan akibat penyakit sistemik.
Melalui kombinasi antara landasan teori yang kuat, ketersediaan fasilitas diagnostik, serta
bimbingan intensif dari drh. Lina Susanti, MS., Ph.D., Kegiatan tramed ini berhasil
mentransformasi kecemasan akademis anak koas menjadi rasa percaya diri klinis.
Mahasiswa tidak hanya terlatih secara motorik dalam menggunakan alat, tetapi juga terasah
secara nalar logika kedokteran untuk mengorelasikan temuan klinis menjadi sebuah
keputusan medis yang solid. Pengalaman nyata inilah yang akan menjadi modal utama bagi
mereka untuk menjadi dokter hewan praktisi yang andal dan bertanggung jawab di masa
depan.
Divisi Klinik_Sotya Balqis Maharani_PPDH 43_Tandem 2




