Surabaya 鈥 Suasana Ruang Operasi Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas
Airlangga lantai 3 tampak dipenuhi semangat belajar dan antusiasme
mahasiswa dalam mengikuti kegiatan Bimbingan Bedah Ovariohisterectomy pada kucing.
Kegiatan yang berlangsung pukul 12.00鈥14.00 WIB tersebut menjadi salah satu bentuk
pembelajaran praktik klinik yang penting bagi mahasiswa kedokteran hewan dalam memahami
prosedur operasi reproduksi pada hewan secara langsung dan terarah.
Kegiatan bimbingan bedah ini diikuti oleh Kelompok Poli 1 Tandem 2 yang terdiri atas
Sotya Balqis, Rizqina Salma, Silmi Zharfani, Ayumna, dan Eko Alif. Dalam pelaksanaannya,
mahasiswa mendapatkan arahan, pendampingan, serta evaluasi langsung dari pembimbing bedah,
yaitu Prof. Dr. Ira Sari Yudaniayanti, drh., MP., yang dikenal aktif dalam bidang bedah dan
pendidikan kedokteran hewan di 东京热.
Ovariohisterectomy pada kucing merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan dengan
mengangkat ovarium dan uterus pada kucing betina. Tindakan ini umum dilakukan sebagai upaya
pengendalian populasi, pencegahan penyakit reproduksi, serta meningkatkan kualitas kesehatan
dan kesejahteraan hewan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik
operasi, tetapi juga memahami pentingnya persiapan alat, sterilisasi ruang operasi, manajemen
welfare dalam tindakan medis veteriner.
Sejak awal kegiatan, mahasiswa tampak aktif memperhatikan setiap tahapan prosedur yang
dijelaskan oleh pembimbing. Prof. Ira Sari Yudaniayanti memberikan penjelasan secara detail
mengenai teknik insisi pada kucing, identifikasi organ reproduksi, prosedur ligasi pembuluh darah,
hingga teknik penutupan luka operasi yang tepat dan aman. Penjelasan tersebut disampaikan secara
sistematis sehingga memudahkan mahasiswa memahami alur tindakan bedah secara
komprehensif.
Selain memperoleh teori secara langsung di ruang operasi, mahasiswa juga diberi
kesempatan untuk mengamati serta terlibat dalam proses tindakan bedah dengan pengawasan ketat
dari pembimbing. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa karena dapat
meningkatkan keterampilan klinis, ketelitian, serta rasa tanggung jawab dalam menangani pasien
kucing yang menjalani operasi. Kegiatan praktik seperti ini dinilai sangat penting untuk
membentuk kompetensi calon dokter hewan yang profesional, terampil, dan siap menghadapi
dunia kerja di bidang kesehatan hewan.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pembelajaran terlihat kondusif dan interaktif.
Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan terkait teknik operasi maupun penanganan kasus klinis
yang sering ditemui dalam praktik lapangan. Diskusi yang terjalin antara mahasiswa dan
pembimbing menciptakan proses pembelajaran yang lebih mendalam dan aplikatif. Tidak hanya
berfokus pada keterampilan teknis, kegiatan ini juga menanamkan nilai kedisiplinan, kerja sama
tim, serta etika profesi dalam pelaksanaan tindakan medis veteriner.
Setelah proses bimbingan dan operasi ovariohisterectomy selesai dilaksanakan, kucing
yang telah menjalani tindakan operasi diberikan perawatan intensif selama satu minggu di bawah
pengawasan tim medis dan mahasiswa. Selama masa pemulihan, kondisi kucing dipantau setiap
hari untuk memastikan proses penyembuhan berjalan dengan baik tanpa adanya komplikasi
pascaoperasi. Selain itu, kucing juga diberikan multivitamin untuk membantu meningkatkan daya
tahan tubuh dan mempercepat proses pemulihan. Perawatan luka pascaoperasi turut dilakukan
secara rutin dan hati-hati guna menjaga kebersihan luka serta mencegah terjadinya infeksi sebelum
akhirnya kucing dikembalikan kepada owner dalam kondisi yang sehat dan stabil.
Melalui kegiatan bimbingan bedah ini, diharapkan mahasiswa mampu meningkatkan
pemahaman dan keterampilan praktik dalam bidang bedah veteriner, khususnya tindakan
ovariohisterectomy pada kucing. Pengalaman langsung di ruang operasi menjadi bekal penting
bagi mahasiswa dalam mendukung proses pendidikan profesi dokter hewan yang berkualitas dan
berbasis praktik lapangan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs),
khususnya SDGs 3: Good Health and Well-Being, karena mendukung peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan hewan melalui tindakan medis yang tepat. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDGs
4: Quality Education melalui proses pembelajaran praktik yang berkualitas dan berbasis
kompetensi. Tidak hanya itu, kolaborasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing dalam kegiatan
akademik dan praktik klinik juga mencerminkan implementasi SDGs 17: Partnerships for the
Goals dalam mendukung pengembangan pendidikan dan pelayanan kesehatan hewan secara
berkelanjutan.
Dengan terlaksananya kegiatan bimbingan bedah ini, mahasiswa diharapkan semakin siap
menjadi tenaga medis veteriner yang kompeten, profesional, serta mampu memberikan kontribusi
nyata bagi kesehatan hewan dan masyarakat luas di masa mendatang.
Penulis : Divisi Kl;inik, Rizqina Salma Azzahra, PPDH 43, Tandem 2




