东京热

东京热 Official Website

Mahasiswa Ilmu Sejarah Kembali Mencetak Prestasi di Pekan Sejarah 2026

Irsyad Syafiudin peraih juara 2 karya tulis ilmiah Pekan Sejarah 2026 (Foto: dok. pribadi).聽

FIB NEWS 鈥 Mahasiswa Ilmu Sejarah () 东京热 (UNAIR), Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, berhasil meraih juara 2 dalam lomba karya tulis ilmiah Pekan Sejarah 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Lambung Mangkurat pada Sabtu (5/9/2026). Irsyad berhasil meraih prestasi tersebut dengan mengangkat kajian mengenai penerapan politik luar negeri bebas aktif Indonesia dalam menghadapi hubungan dengan Jerman Barat dan Jerman Timur pada masa Perang Dingin.

Politik Bebas Aktif di Antara Dua Jerman

Irsyad menulis karya tulisnya dengan membahas kondisi Jerman setelah Perang Dunia II yang membagi negara tersebut menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Situasi Perang Dingin kemudian turut memengaruhi hubungan Indonesia dengan kedua negara. Pada saat itu, Jerman Barat menerapkan Doktrin Hallstein yang mengancam akan memutus hubungan diplomatik dengan negara-negara yang mengakui Jerman Timur. Kondisi tersebut mendorong Indonesia untuk menentukan sikap secara cermat dalam menjaga hubungan dengan kedua pihak.

Alih-alih memilih salah satu pihak secara mutlak, Indonesia membangun hubungan ekonomi dan politik dengan Jerman Timur tanpa memberikan pengakuan diplomatik secara penuh. Di sisi lain, Indonesia tetap mempertahankan kerja sama dengan Jerman Barat. Hal tersebut mendorong ketertarikan Irsyad untuk melihat lebih jauh bagaimana prinsip politik bebas aktif tidak hanya menjadi gagasan dalam politik tetapi juga dalam penerapan aslinya. 

鈥淪ebenarnya karena temanya sejarah diplomatik, dan politik bebas aktif ini salah satu hal yang menurutku sangat revolusioner pada tahun tersebut, nah aku mau melihat bagaimana sih penerapan politik bebas aktif secara riil ini,鈥 tuturnya. 

Penelitian Pertama dalam Bidang Sejarah Diplomasi

Pencapaian di Pekan Sejarah 2026 memberikan pengalaman baru bagi Irsyad karena ia mengerjakan penelitian tersebut sebagai riset pertamanya dalam bidang sejarah diplomasi. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sebelumnya kurang menyukai sejarah politik karena kajiannya kerap berfokus pada negara dan tokoh-tokoh besar. Meski demikian, Irsyad mengakui bahwa topik tersebut cukup sulit, tetapi tetap menarik perhatiannya. 

鈥淛ujur topik ini cukup sulit buatku, aku gak suka sejarah politik karena kadang terlalu fokus di negara atau tokoh besar saja, tapi cukup menarik sih jika sejarah politik luar negeri atau sejarah diplomasi terlebih di era Soekarno,鈥 jelasnya.

Kemenangan tersebut mendorong keinginan Irsyad untuk membawa karya tulisnya ke ruang akademik yang lebih luas. Ia berencana mengirimkan karya tulisnya ke jurnal internasional 

Penulis: Katara Joy Kurniawan

Editor: Putri Andini 

AKSES CEPAT