东京热

东京热 Official Website

Mahagita dan Ilmu Sejarah Bahas Transportasi Publik Surabaya

(Dok: Istimewa)

FIB NEWS 鈥 Mahasiswa Penggiat Pustaka (Mahagita)聽 东京热 berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) 聽menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk Menggugat Semrawut Transportasi Publik Surabaya dengan Chikatetsu ni Noru. Diskusi menghadirkan Ilham Baskoro, S.Hum., Fadhli Tamma, dan Zerli Rororatu dengan Reda Damar A. sebagai moderator. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Jumat (26/6/2026).

Transportasi Publik melalui Budaya Jepang

Pada sesi pertama, Ilham Baskoro menjelaskan bagaimana anime Chikatetsu ni Noru digunakan sebagai media untuk membangun budaya menggunakan transportasi publik di Jepang. Menurutnya, kereta dalam anime tersebut menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

鈥淭ransportasi publik bukan sekadar alat mobilitas, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan masyarakat,鈥 jelas Ilham.

Ia juga menjelaskan bahwa budaya menggunakan transportasi publik di Jepang terbentuk melalui pembangunan infrastruktur yang konsisten sejak masa modernisasi. Hal tersebut membuat transportasi umum menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas masyarakat, berbeda dengan kondisi di banyak kota di Indonesia yang masih berorientasi pada kendaraan pribadi.

Menggugat Kemunduran Transportasi Surabaya

Pada sesi berikutnya, Zerli Rororatu mengulas sejarah kejayaan trem di Surabaya yang pernah menjadi tulang punggung transportasi kota. Ia memaparkan bahwa pada masa kolonial, jaringan trem mampu mengangkut sekitar 16 juta penumpang setiap tahun dengan cakupan rute yang luas dan frekuensi perjalanan yang tinggi.

Namun, berbagai faktor seperti krisis ekonomi, kurangnya revitalisasi, serta perubahan kebijakan transportasi menyebabkan sistem trem berhenti beroperasi. Menurut Zerli, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

鈥淯kuran kemajuan sebuah kota dilihat dari seberapa mudah masyarakat dapat bermobilitas tanpa harus memiliki kendaraan pribadi,鈥 ujar Zerli.

Sementara itu, Fadhli Tamma membandingkan perkembangan transportasi publik Surabaya dengan Kota Depok. 

鈥淒epok maupun Surabaya sama-sama menghadapi persoalan stagnasi transportasi publik. Akibatnya, masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari,鈥 pungkas Fadli.

Mendorong Kesadaran terhadap Transportasi Berkelanjutan

Di akhir sesi, peserta mengikuti diskusi interaktif yang membahas berbagai persoalan transportasi publik, mulai  dari usulan pengembangan KRL, kereta bandara, dan transportasi bawah tanah sebagai solusi mobilitas perkotaan.

Para narasumber sepakat bahwa pembangunan transportasi publik memerlukan komitmen jangka panjang dan pembelajaran dari sejarah. “Kita semua yang akan menjadi pemimpin nantinya, sehingga kita memiliki tanggung jawab untuk membangun transportasi publik yang lebih baik di masa depan,” tutup Damar.

Melalui kolaborasi ini, Mahagita dan HMD Ilmu Sejarah berharap dapat mendorong kepedulian generasi muda terhadap pengembangan transportasi publik yang lebih baik dan berkelanjutan.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu Quality Education.

Penulis: Najwa Nayla Izzati

Editor: Ega Danar Aji Wibowo

AKSES CEPAT