¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Perancah Gendang Telinga Ramah Tubuh : Inovasi Biomaterial Biodegradabel Berbasis Kitosan–Kolagen

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kerusakan pada gendang telinga atau yang dikenal sebagai perforasi membran timpani dapat menyebabkan penurunan pendengaran yang signifikan. Kerusakan pada gendang telinga (tympanic membrane) merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi. Cedera akibat infeksi telinga tengah, trauma fisik, atau tekanan udara dapat menyebabkan perforasi, yaitu terbentuknya lubang pada gendang telinga. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kemampuan mendengar, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi ulang karena telinga menjadi lebih rentan terhadap masuknya air dan kuman.

Gambar 1. Robeknya membran timpani

Pada kasus perforasi yang tidak menutup sendiri, dokter biasanya melakukan prosedur myringoplasty, yaitu operasi kecil untuk menambal lubang gendang telinga. Tantangan utamanya adalah mencari bahan tambalan (patch) yang aman, fleksibel, mampu menghantarkan suara, dan dapat mendukung proses penyembuhan jaringan.

Banyak kasus dapat pulih secara alami, namun bila lubang cukup besar atau tidak menutup, diperlukan prosedur medis bernama myringoplasty, yaitu operasi untuk menutup lubang gendang telinga dengan menggunakan bahan tambalan (patch).

Selama ini, berbagai bahan digunakan untuk menambal lubang tersebut. Namun, belum banyak material yang ideal: harus tipis, aman bagi tubuh, mampu menghantarkan suara, cukup kuat, dan dapat terurai seiring proses penyembuhan. Penelitian terbaru menghadirkan harapan baru melalui pengembangan scaffold biodegradable berbasis kitosan–kolagen yang ditambahkan gliserol sebagai plastisizer.

Kitosan adalah biopolimer alami dari kitin (biasanya berasal dari cangkang udang/kepiting), dikenal memiliki sifat biokompatibel, biodegradabel, dan mendukung regenerasi jaringan. Di sisi lain, kolagen adalah protein utama penyusun jaringan tubuh, sehingga kehadirannya dapat meningkatkan adhesi sel dan proses penyembuhan. Kombinasi keduanya menghasilkan material yang tidak hanya aman, tetapi juga mampu berintegrasi dengan jaringan telinga. Penambahan gliserol sebagai plasticizer memberi efek lentur sehingga patch tidak rapuh dan lebih mudah diaplikasikan.

Sebuah studi terbaru menghadirkan harapan baru melalui pengembangan  perancah biodegradabel berbahan dasar kitosan–kolagen dengan penambahan plasticizer gliserol. Bahan ini dirancang sebagai scaffold/ kerangka sementara yang membantu regenerasi jaringan gendang telinga hingga pulih.

Penelitian ini mengembangkan perancah dengan menggabungkan dua bahan utama, yaitu kitosan sebagaibiopolimer dari cangkang udang atau kepiting, terkenal karena sifat biokompatibel dan antibakterinya; kolagen—protein penyusun jaringan tubuh, membantu regenerasi dan penyembuhan; dan gliserol—ditambahkan sebagai plasticizer untuk membuat material lebih lentur dan tidak rapuh. Dalam penelitian ini digunakan berbagai rasio kitosan–kolagen diuji (1:0; 9:1; 8:2; 7:3), lalu karakteristik fisik, mekanik, dan biologisnya dianalisis.

Hasil penelitian ini menunjukkan struktur kimia yang stabil dan saling terikat melalui uji Fourier Transform Infrared (FTIR). Kolagen juga membuat permukaan biomaterial semakin halus.

 

Gambar 2. Struktur morfologi variasi sampel a. (1:0), b. (9:1), c. (8:2), d. (7:3)

 Hasil daya hantar suara pada semua variasi sangat baik. Biomaterial mampu bertahan 1–2 bulan, sesuai dengan waktu penyembuhan fisiologis gendang telinga. Artinya, scaffold akan terurai perlahan setelah fungsi penyembuhan selesai, sehingga sangat ideal untuk material medis. Kekuatan tarik dan daya antibakteri masih perlu dioptimalkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perancah berbahan kitosan–kolagen–gliserol sangat menjanjikan sebagai alternatif biomaterial untuk menutup lubang gendang telinga. Perancah ini memiliki keunggulan, yaitu biokompatibel, menghantarkan suara dengan baik, dapat terurai secara alami setelah penyembuhan, dan mirip dengan struktur jaringan tubuh.

Inovasi biomaterial seperti patch kitosan–kolagen ini membuka peluang besar dalam manajemen perforasi gendang telinga. Dengan penelitian lebih lanjut dan penyempurnaan formulasi, material ini berpotensi menjadi tambalan yang lebih efektif, aman, dan ramah tubuh dibandingkan bahan sintetis yang digunakan saat ini.

Penulis : Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes, S.Bio

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT