¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Pengembangan dan Validasi Kuesioner Health Belief Model : Alat Andal untuk Mengukur Faktor Kepatuhan Ibu Hamil

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ibu hamil menerima setidaknya satu resep obat selama kehamilan, terlihat dari tingginya angka ibu hamil yang menerima resep obat dan suplemen di Indonesia (35,3%). Namun, mendapatkan obat dari fasilitas kesehatan tidak serta-merta menjamin ibu hamil akan rutin meminumnya. Faktanya, tingkat kepatuhan konsumsi obat di kalangan ibu hamil di Indonesia masih sangat rendah, yakni di bawah 54%. Padahal, ketidakpatuhan atau salah mengonsumsi obat dapat memicu komplikasi serius selama kehamilan seperti anemia, kelahiran prematur, dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Rendahnya kepatuhan tersebut umumnya dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan tentang pentingnya mengonsumsi obat secara teratur, kurangnya pemahaman terhadap risiko yang mungkin terjadi, serta keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan.

Pendekatan psikologi perilaku lewat Health Belief Model (HBM) sangat cocok untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan dan teori ini dapat memetakan bagaimana sudut pandang ibu hamil terhadap risiko kesehatan, manfaat suplemen, serta hambatan yang mereka alami. Namun, kuesioner berbasis teori yang tervalidasi khusus untuk ibu hamil masih sangat langka di negara berkembang seperti di Indonesia. Menjawab kekurangan ini, sebuah studi di Rumah Sakit di Surabaya berhasil mengembangkan dan menguji kuesioner berbasis HBM yang valid dan andal. Alat ukur baru ini diharapkan dapat menjadi alat yang andal bagi para profesional kesehatan dan peneliti untuk menilai dan mengatasi kepatuhan terhadap perawatan antenatal.

Studi observasional dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 135 ibu hamil yang dipilih secara convenience sampling. Ibu hamil yang ikut dalam studi ini adalah mereka yang memang sedang rutin mengonsumsi obat, vitamin, atau suplemen, bisa berkomunikasi dengan baik, serta bersedia secara sukarela untuk mengisi kuesioner. Penelitian ini berfokus pada pengembangan dan pengujian kuesioner berbasis teori Health Belief Model (HBM) yang terdiri dari 27 butir pertanyaan berskala Likert 1–5. Proses pengerjaannya dibagi menjadi tiga tahapan utama: penyusunan draf kuesioner berdasarkan studi literatur ilmiah, uji validitas konten (Content Validity Index/CVI) oleh panel yang terdiri dari tujuh ahli kesehatan maternal dan perilaku, serta uji validitas konstruk menggunakan analisis faktor eksploratori (Exploratory Factor Analysis/EFA). Terakhir, tingkat konsistensi dan keandalan butir pertanyaan dievaluasi melalui uji reliabilitas menggunakan koefisien Cronbach’s alpha (> 0,70) serta korelasi Pearson’s product-moment berbantuan perangkat lunak SPSS versi 26.

Dari pengujian yang dilakukan terhadap 135 ibu hamil (mayoritas usia kehamilan berada di trimester ketiga dengan rata-rata usia ibu 28 tahun), kuesioner ini terbukti memiliki kualitas yang sangat baik. Pada tahap awal, panel berisi tujuh ahli memberikan nilai relevansi yang sangat tinggi (Content Validity Index sebesar 0,984). Menariknya, saat kuesioner ini diuji coba langsung ke ibu hamil (pre-testing), peneliti melakukan modifikasi kecil dengan mengubah kata “rentan” menjadi kata “berisiko” pada butir pertanyaan agar kalimatnya terasa lebih mudah dipahami oleh orang awam tanpa mengubah makna aslinya. Selanjutnya, melalui analisis faktor eksploratori (EFA) dengan nilai dari hasil uji Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) mencapai 0,806 dan hasil dari uji Bartlett menunjukkan nilai 0,000. Selanjutnya, kuesioner ini disaring lagi untuk memastikan keakuratannya. Peneliti memutuskan untuk mengeliminasi dua butir pertanyaan yang memiliki nilai muatan faktor rendah (di bawah 0,3) sehingga menyisakan 25 butir pertanyaan final yang terbukti valid dan konsisten secara statistik (nilai Cronbach’s alpha > 0,70).

Hasil uji akhir menunjukkan bahwa kuesioner berbasis Health Belief Model (HBM) ini terbukti valid dan andal untuk mengukur tingkat kepatuhan ibu hamil di Indonesia. Meskipun tingkat reliabilitasnya sedikit berbeda (lebih rendah) dibanding penelitian sejenis di luar negeri karena faktor konteks budaya dan karakteristik ibu hamil, namun kuesioner berbasis HBM ini telah memenuhi standar riset ilmiah. Keunggulan utama kuesioner ini terletak pada proses penyusunannya yang sangat ketat melalui review para ahli, serta penambahan domain penting yang bisa menggali persepsi bumil secara menyeluruh, mulai dari ketakutan akan risiko kehamilan hingga manfaat nyata dari konsumsi vitamin. Namun, penelitian ini juga mencatat beberapa keterbatasan.

Keterbatasan penelitian ini seperti pengumpulan data yang baru dilakukan di satu rumah sakit saja dan sifat pengisian kuesioner yang dilakukan secara mandiri oleh pasien sehingga berisiko memicu jawaban yang cenderung “terlihat patuh saja”. Rekomendasi di masa depan, alat ukur ini diharapkan bisa diuji kembali di berbagai wilayah Indonesia yang lebih luas. Terlepas dari kekurangan tersebut, kehadiran kuesioner terbaru ini membawa dampak besar bagi dunia praktis medis, para dokter, dan bidan kini bisa menggunakannya saat pemeriksaan kandungan (antenatal care) untuk mendeteksi dini bumil yang berisiko tidak patuh minum vitamin, sekaligus memberikan konseling yang lebih personal demi menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Studi ini berhasil membuktikan bahwa kuesioner berbasis Health Belief Model (HBM) yang dikembangkan merupakan instrumen yang valid dan andal. Alat ukur baru ini siap digunakan sebagai metode praktis untuk memetakan alasan psikologis di balik patuh atau tidaknya ibu hamil dalam mengonsumsi obat, vitamin, dan suplemen. Dengan memahami apa yang persepsi dan pemikiran ibu hamil, tenaga kesehatan kini memiliki panduan nyata untuk merancang pendekatan edukasi yang lebih fokus dengan akar masalah, demi memastikan kesehatan optimal bagi ibu dan janin.

Penulis: Fitri Nurussani Aulia, Rista Fauziningtyas, Elida Zairina

Artikel Lengkap: Aulia, F. N., Fauziningtyas, R., & Elida Zairina. (2026). The Development and Validation of A Health Belief Model Questionnaire for Measuring Factors Influencing Adherence During Pregnancy. Malaysian Journal of Public Health Medicine26(1), 271–278. Retrieved from

AKSES CEPAT