¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Pengaruh Biskuit Garut yang Diperkaya Serat Larut dan Kayu Manis terhadap Kondisi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa yang menyebabkan hiperglikemia kronis akibat resistensi insulin maupun gangguan sekresi insulin. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan dalam pengelolaan DMT2 adalah modifikasi pola makan, khususnya melalui konsumsi pangan fungsional yang kaya serat dan memiliki indeks glikemik rendah. Umbi garut dikenal sebagai sumber pati resisten dengan indeks glikemik rendah, sedangkan glukomanan dari porang merupakan serat larut yang dapat memperlambat penyerapan glukosa.

Kayu manis juga diketahui memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin. Berdasarkan potensi tersebut, penelitian ini mengembangkan kukis berbahan dasar tepung garut yang diperkaya dengan glukomanan porang dan kayu manis sebagai camilan fungsional bagi penderita DMT2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi kukis garut yang diperkaya serat larut dan kayu manis terhadap kadar Glukosa Darah Puasa (GDP) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Hipotesis penelitian adalah bahwa kombinasi bahan pangan fungsional tersebut mampu membantu memperbaiki kontrol glikemik sehingga menurunkan kadar glukosa darah puasa.

Penelitian menggunakan desain Randomized Controlled Trial (RCT) dengan rancangan pre-post test control group design. Penelitian dilakukan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama delapan minggu. Sebanyak 24 pasien DMT2 berusia 40–60 tahun yang rutin mengonsumsi metformin dan/atau glimepiride dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol, masing-masing terdiri atas 12 peserta. Kelompok intervensi diberikan lima keping kukis garut yang mengandung glukomanan porang dan ekstrak kayu manis setiap hari selama delapan minggu sebagai makanan selingan, sedangkan kelompok kontrol menjalani perawatan rutin tanpa pemberian kukis tersebut. Selama penelitian dilakukan pemantauan kepatuhan konsumsi, aktivitas fisik menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), serta asupan makanan menggunakan food record 24 jam dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Parameter utama yang diukur adalah kadar Glukosa Darah Puasa (GDP) sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kukis garut selama delapan minggu tidak memberikan penurunan kadar glukosa darah puasa yang signifikan pada kelompok intervensi. Rata-rata GDP pada kelompok intervensi justru meningkat dari 153,66 ± 13,23 mg/dL menjadi 157,66 ± 19,18 mg/dL, meskipun peningkatan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,239). Sebaliknya, kelompok kontrol mengalami penurunan kadar GDP dari 149,25 ± 17,25 mg/dL menjadi 136,66 ± 12,26 mg/dL, yang menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,041). Perbandingan perubahan antara kedua kelompok juga menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p=0,040). Meskipun demikian, sebanyak lima dari dua belas peserta pada kelompok intervensi mengalami penurunan kadar GDP secara individual, menunjukkan adanya variasi respons terhadap intervensi.

Tidak tercapainya penurunan kadar glukosa darah puasa pada kelompok intervensi menunjukkan bahwa konsumsi kukis garut yang diperkaya dengan glukomanan porang dan kayu manis saja belum cukup untuk memperbaiki kontrol glikemik pada penderita DMT2 dalam waktu delapan minggu. Meskipun bahan-bahan penyusun kukis memiliki potensi sebagai pangan fungsional, efektivitasnya kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Penelitian ini menjelaskan bahwa kadar glukosa darah dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kepatuhan konsumsi obat antidiabetes, aktivitas fisik, pola makan harian, stres, obesitas, faktor genetik, serta kondisi metabolik masing-masing individu. Variasi respons antar peserta juga cukup besar sehingga efek intervensi menjadi kurang terlihat secara statistik. Hasil penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diet rendah indeks glikemik maupun pangan berbasis umbi tertentu mampu menurunkan kadar glukosa darah puasa secara signifikan. Oleh karena itu, pengembangan pangan fungsional masih memerlukan evaluasi lebih lanjut, terutama terkait dosis, lama intervensi, dan pengendalian faktor-faktor pengganggu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi kukis berbahan dasar tepung garut yang diperkaya glukomanan porang dan kayu manis selama delapan minggu belum efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Walaupun kukis memiliki kandungan serat tinggi dan indeks glikemik rendah serta dikonsumsi dengan tingkat kepatuhan yang baik, intervensi tersebut belum memberikan manfaat klinis yang signifikan terhadap pengendalian glikemik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 tidak dapat bergantung hanya pada satu jenis pangan fungsional, tetapi memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui pengaturan pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik yang teratur, kepatuhan terhadap pengobatan, serta pengendalian faktor risiko lainnya. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar, durasi intervensi yang lebih panjang, serta pengendalian yang lebih ketat terhadap aktivitas fisik, asupan energi, dan faktor gaya hidup sehingga potensi manfaat kukis garut sebagai pangan fungsional dapat dievaluasi secara lebih akurat.

Penulis: Atika Anif Prameswari, S.Gz., M.P.H., Dietisien.

Link artikel: https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/74032

AKSES CEPAT