Penelitian terbaru dari tim peneliti ¶«¾©ÈÈ mengungkap fakta menarik mengenai perkembangan morfologi sayap burung lovebird Fischer atau Agapornis fischeri. Studi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan ukuran sayap antara lovebird jantan dan betina sudah dapat terlihat sejak usia empat bulan dan terus berkembang hingga mendekati usia dewasa. Temuan ini dinilai penting karena dapat membantu proses identifikasi jenis kelamin, manajemen penangkaran, hingga pemahaman kemampuan terbang pada burung paruh bengkok tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Medik Veteriner edisi April 2026 itu dilakukan terhadap 22 ekor lovebird Fischer yang terdiri atas 11 jantan dan 11 betina. Seluruh burung dipelihara dalam kondisi lingkungan terkontrol dengan pakan berbasis millet dan dipantau sejak usia tiga bulan sebelum dilakukan pengukuran sayap pada usia empat, lima, dan enam bulan.
Tim peneliti mengukur tiga parameter utama, yakni lebar sayap saat terlipat, panjang sayap saat direntangkan, dan rentang sayap total. Pengukuran dilakukan menggunakan metode morfometri standar untuk memastikan akurasi data serta meminimalkan kesalahan pengamatan. Hasilnya menunjukkan bahwa lovebird jantan secara konsisten memiliki ukuran sayap lebih besar dibandingkan betina pada semua kelompok usia yang diamati.
Pada usia empat bulan, rata-rata lebar sayap terlipat lovebird jantan mencapai 9,82 cm, sedangkan betina hanya sekitar 9,04 cm. Perbedaan serupa juga terlihat pada panjang sayap saat direntangkan dan rentang sayap keseluruhan. Memasuki usia enam bulan, rentang sayap jantan meningkat menjadi sekitar 28,90 cm, sementara betina berada pada kisaran 28,28 cm. Data tersebut memperlihatkan adanya pertumbuhan linier yang stabil selama masa juvenil, tetapi dengan laju pertumbuhan lebih cepat pada burung jantan.
Peneliti menilai perbedaan ini berkaitan erat dengan faktor biologis dan hormonal. Burung jantan diduga mengalami perkembangan otot dan struktur tulang yang lebih cepat akibat pengaruh hormon androgen. Kondisi tersebut memungkinkan jantan memiliki kemampuan terbang yang lebih baik, lebih lincah, dan berpotensi unggul dalam perilaku sosial maupun reproduksi.
Selain faktor hormonal, ukuran sayap yang lebih besar juga diyakini memberikan keuntungan aerodinamis. Sayap yang lebih panjang dapat meningkatkan daya angkat, efisiensi terbang, dan kemampuan bermanuver di udara. Pada burung paruh bengkok seperti lovebird, kemampuan terbang memiliki peran penting dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari makan, menghindari predator, hingga interaksi sosial dengan sesama kelompok.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa perkembangan morfologi sayap berlangsung secara bertahap dan proporsional selama fase pertumbuhan awal. Grafik pertumbuhan yang dihasilkan menunjukkan hubungan positif antara usia dan ukuran sayap, menandakan bahwa semakin bertambah usia burung, semakin berkembang pula struktur sayapnya. Namun, kurva pertumbuhan jantan terlihat lebih curam dibandingkan betina, yang mengindikasikan pertumbuhan lebih cepat menuju kematangan fungsi terbang.
Temuan tersebut membuka peluang baru dalam dunia avikultur dan konservasi burung. Selama ini, penentuan jenis kelamin lovebird kerap memerlukan metode molekuler yang relatif mahal atau prosedur invasif. Dengan adanya data morfometri sayap yang lebih jelas, peternak dan peneliti dapat menggunakan ukuran sayap sebagai indikator tambahan untuk membedakan jantan dan betina secara lebih praktis.
Tidak hanya itu, informasi mengenai pertumbuhan sayap juga dinilai bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan burung di penangkaran. Pengetahuan tentang ukuran dan perkembangan sayap dapat membantu menentukan desain kandang, jarak tenggeran, hingga pola latihan terbang yang sesuai dengan usia dan jenis kelamin burung. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi stres dan mendukung perkembangan fisiologis lovebird secara optimal.
Penelitian mengenai morfometri lovebird sebelumnya lebih banyak berfokus pada bentuk paruh, warna bulu, atau massa tubuh. Oleh karena itu, studi terbaru ini dianggap menjadi salah satu penelitian awal yang secara khusus memetakan perkembangan sayap lovebird Fischer secara kuantitatif dan terstandarisasi. Data dasar tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan terkait biomekanika terbang, perilaku reproduksi, serta evolusi burung paruh bengkok di masa mendatang.
Penulis: Lintang Winantya Firdausy
Sumber: Dhamayanti, Y., Adzani, I., Bayram, M., & Firdausy, L. W. (2026). Morphometric wing variations in Fischer’s lovebirds (Agapornis fischeri) related to sex and age at 4–6 months. Jurnal Medik Veteriner, 9(1), 203–217.
Link:





