东京热

东京热 Official Website

Peneliti UNAIR Kembangkan Biomarker untuk Deteksi Retrovirus pada Sapi

Dr Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti dari Sekolah Pascasarjana UNAIR saat melakukan presentasi pada 27th Summer Retrovirus Conference (SRC2025) di Tsukuba, Jepang
Dr Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti dari Sekolah Pascasarjana UNAIR saat melakukan presentasi pada 27th Summer Retrovirus Conference (SRC2025) di Tsukuba, Jepang (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS 鈥 Dr Arif Nur Muhammad Ansori, peneliti dari 东京热 (UNAIR), berhasil terpilih sebagai presenter dalam 27th Summer Retrovirus Conference (SRC2025). SRC2025 berlokasi di Hotel Mark One Tsukuba Research Academy, Tsukuba, Jepang. Arif merasa sangat bangga bisa membawa nama Indonesia dan UNAIR dalam forum ilmiah bergengsi tersebut.

鈥淪aya merasa sangat bangga dan bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu presenter di konferensi bergengsi di Jepang ini. Kesempatan ini menjadi pencapaian pribadi sekaligus pengakuan terhadap kontribusi riset saya di bidang virologi. Khususnya terkait bovine leukemia virus atau BLV pada sapi,鈥 ujarnya.

Konferensi ini membahas perkembangan mutakhir riset Retrovirus, seperti HIV, Human T-lymphotropic virus (HTLV), dan Retrovirus hewan lainnya. Para peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi dan pusat riset ternama di Jepang, termasuk NIBIOHN, NIID, RIKEN, Miyazaki University, Science Tokyo, Kumamoto University, Hokkaido University, dan NARO. Dr Kiyohiko Andoh DVM dari NARO (National Agriculture and Food Research Organization) bertindak sebagai ketua penyelenggara.

鈥淧ertukaran gagasan di forum ini menjadi penting karena banyak penyakit akibat Retrovirus yang masih menjadi tantangan besar di bidang kesehatan manusia dan hewan,鈥 jelas Arif.

Arif mempresentasikan penelitian mengenai pengembangan teknologi cell-free DNA (cfDNA) sebagai biomarker penyakit enzootic bovine leukosis (EBL). Ia meneliti potensi penggunaan cfDNA sebagai biomarker untuk mendeteksi lebih dini penyakit EBL, yaitu kanker sel B pada sapi akibat infeksi BLV.

鈥淪aya memilih topik ini karena ingin berkontribusi pada pemecahan masalah nyata di bidang kedokteran hewan. BLV menjadi masalah serius di Jepang, banyak peternakan sapi mengalami kerugian dari infeksi virus ini, salah satunya di Kumamoto. Melalui riset ini, saya berharap dapat memperkuat kolaborasi Indonesia dan Jepang dalam riset Retrovirus serta menunjukkan kapasitas peneliti Indonesia,鈥 tegasnya.

Penelitian Arif menggunakan teknologi cfDNA yang dikombinasikan dengan real-time PCR (qPCR) atau droplet digital PCR (ddPCR) untuk mendeteksi fragmen DNA Retrovirus dari sel tumor secara non-invasif dengan hasil yang sensitif dan akurat.

鈥淭emuan utama saya menunjukkan teknologi cfDNA mampu membedakan sapi terinfeksi BLV dengan gejala EBL lebih efektif daripada metode konvensional. Pendekatan ini menjanjikan untuk deteksi dini penyakit ini,鈥 ungkapnya.

Riset ini Arif kerjakan di Divisi Genomik dan Transkriptomik (Satou Lab), Joint Research Center for Human Retrovirus Infection, Kumamoto University, Jepang. Di bawah supervisi Prof Yorifumi Satou. Ke depan, Arif ingin mengembangkan penelitian ini agar dapat diimplementasikan secara luas. Tidak hanya pada kedokteran hewan, tetapi juga pada kedokteran manusia untuk deteksi penyakit akibat Retrovirus. 鈥淪aya juga berharap dapat menjalin lebih banyak kolaborasi internasional agar hasil riset ini berdampak secara global,鈥 tutupnya.

Penulis: Ameyliarti Bunga Lestari

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT