Penelitian ini mengkaji peran tata kelola teknologi informasi (IT governance/ITGOV) dalam memengaruhi perilaku pengambilan risiko perusahaan (risk-taking behavior/RTB) pada perusahaan publik di Indonesia. Di tengah percepatan transformasi digital, perusahaan semakin bergantung pada sistem informasi untuk mendukung strategi bisnis, efisiensi operasional, dan pengelolaan risiko. Namun, masih sedikit bukti empiris yang secara khusus menelaah bagaimana tata kelola IT membentuk keberanian perusahaan dalam mengambil risiko strategis, bukan sekadar kemampuannya dalam menurunkan risiko operasional.
Dalam konteks ini, IT governance dipandang sebagai bagian dari struktur tata kelola perusahaan yang mencakup keberadaan eksekutif IT, pengalaman IT anggota dewan, serta pengawasan manajemen puncak terhadap isu teknologi. Berdasarkan kerangka Resource-Based View (RBV), kapabilitas IT dan tata kelolanya dapat menjadi sumber keunggulan bersaing yang unik dan sulit ditiru. Sementara itu, Contingency Theory menekankan bahwa efektivitas tata kelola sangat bergantung pada karakteristik spesifik perusahaan, seperti ukuran, tingkat inovasi, dan kondisi keuangan. Penelitian ini memposisikan IT governance bukan hanya sebagai mekanisme pengendalian risiko, tetapi juga sebagai sumber daya strategis yang dapat mendorong perusahaan untuk mengambil risiko yang terukur demi menciptakan nilai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa IT governance berhubungan positif dengan perilaku pengambilan risiko perusahaan. Perusahaan dengan struktur IT governance yang lebih kuat cenderung menunjukkan fluktuasi kinerja yang lebih tinggi, yang mencerminkan keberanian mengambil keputusan strategis berisiko. Efek ini lebih nyata pada perusahaan dengan tingkat inovasi yang rendah, di mana tata kelola IT yang baik membantu menutup keterbatasan sumber daya inovasi. Sebaliknya, pada perusahaan yang sangat inovatif, pengaruh IT governance terhadap risk-taking menjadi lebih lemah karena mereka telah terbiasa mengelola risiko melalui kapabilitas inovasinya. Selain itu, pengaruh IT governance juga dipengaruhi oleh profitabilitas dan ukuran perusahaan: pada perusahaan berprofit rendah dan berukuran besar, struktur tata kelola yang kaku dapat memperkuat atau justru membatasi fleksibilitas dalam mengambil risiko.
Kontribusi penelitian ini terletak pada perluasan literatur tata kelola perusahaan dan manajemen risiko dengan menunjukkan bahwa IT governance tidak semata-mata berfungsi menekan risiko, melainkan dapat memfasilitasi pengambilan risiko strategis, terutama pada perusahaan dengan kapasitas inovasi dan sumber daya keuangan yang terbatas. Secara praktis, temuan ini memberikan masukan bagi manajer dan regulator untuk merancang kerangka IT governance yang tidak hanya menekankan kontrol dan kepatuhan, tetapi juga memberikan ruang fleksibilitas agar perusahaan tetap mampu merespons peluang bisnis di tengah dinamika lingkungan digital yang cepat berubah.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menganalisis data perusahaan publik non-keuangan di Indonesia selama periode 2018 hingga 2022. Sampel disusun berdasarkan ketersediaan laporan tahunan, sehingga memungkinkan peneliti mengekstraksi informasi mengenai keberadaan eksekutif IT, pengalaman IT anggota dewan, serta pengalaman IT manajemen puncak sebagai indikator IT governance (ITGOV). Perilaku pengambilan risiko perusahaan (RTB) diproksikan melalui fluktuasi Return on Assets (ROA) dari waktu ke waktu. Analisis utama dilakukan menggunakan regresi dengan data panel untuk menguji pengaruh IT governance terhadap risk-taking. Untuk memastikan keandalan hasil dan mengatasi potensi bias endogenitas maupun seleksi sampel, penelitian ini melakukan serangkaian uji robustnes, antara lain Propensity Score Matching (PSM), analisis lag dan lead untuk melihat hubungan temporal, metode Generalized Least Squares (GLS), serta penggunaan proksi alternatif untuk risk-taking berdasarkan variasi pengukuran ROA.
Hasil analisis secara keseluruhan menegaskan bahwa IT governance berperan penting dalam membentuk perilaku pengambilan risiko perusahaan. Struktur IT governance yang kuat cenderung mendorong perusahaan鈥攌hususnya yang berinovasi rendah atau berprofit rendah鈥攗ntuk mengambil risiko strategis yang terukur, meskipun pada saat yang sama dapat menjadi penghalang fleksibilitas jika dirancang terlalu kaku. Temuan ini menunjukkan bahwa IT governance merupakan pedang bermata dua: ia dapat memperkuat kontrol dan legitimasi, namun perlu dirancang secara seimbang agar tetap mendukung kemampuan perusahaan untuk mengambil risiko yang diperlukan demi pertumbuhan jangka panjang di era digital.
Penulis: Nadia Anridho, Sahrian Aditya Rahmatulloh, Alfa Rahmiati, Anna Retnawati, dan Dicky Andriyanto
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





