UNAIR NEWS 鈥 Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memicu krisis kesehatan pernapasan bagi masyarakat di wilayah terdampak. Menanggapi kondisi tersebut, Pakar Paru 东京热 (UNAIR), Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, memaparkan bahaya paparan asap, langkah pertolongan pertama, serta tanda bahaya klinis yang wajib diwaspadai.
Bahaya PM2.5 dan Bedah Gejala
Dr Alfian menjelaskan bahwa bahaya utama asap karhutla berasal dari kandungan Particulate Matter (PM) 2.5 yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru. Partikel mikro ini dapat memicu iritasi, peradangan, stres oksidatif, dan merusak pertahanan alami saluran pernapasan.
鈥淛ika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,鈥 terangnya.
Mengenai indikasi klinis, paparan asap karhutla memiliki kemunculan gejala yang cukup khas dibandingkan ISPA akibat infeksi virus atau bakteri biasa. Serangan polutan asap umumnya didominasi oleh mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada terasa berat sesaat setelah terpapar.
鈥淪ementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya lebih sering ditandai dengan demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah,鈥 jelas Dr Alfian.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa gejala secara kasat mata itu tidak mudah dikenali awam. 鈥淜eluhan akibat paparan asap dan infeksi memang bisa terlihat mirip. Namun, jika gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap harus segera dilakukan,鈥 tegasnya.

Langkah Proteksi dan Pertolongan Pertama
Ancaman keparahan akibat asap karhutla jauh lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita komorbid, serta pekerja luar ruangan. Untuk meminimalkan gempuran PM2.5, Dr Alfian menekankan pentingnya penggunaan masker berstandar tinggi.
鈥淢asker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,鈥 paparnya.
Selain itu, imbauan utama bagi warga adalah meminimalkan pajanan polusi dengan memantau kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar, serta menghindari polusi indoor seperti rokok atau obat nyamuk bakar. Apabila seseorang telah terpapar asap, tindakan awal perlu segera diambil.
鈥淟angkah pertolongan pertama, segera menjauh dari sumber asap ke tempat berudara lebih bersih. Istirahat, cukup minum, bersihkan wajah dan mata, serta kurangi aktivitas fisik,鈥 jelasnya.
Di samping itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi obat sembarangan serta mewaspadai tanda bahaya klinis seperti sesak berat, bibir kebiruan, hingga penurunan kesadaran.
鈥淗indari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan,鈥 pesan Dr Alfian.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia





