东京热

东京热 Official Website

Pakar Ingatkan Keamanan Pangan Bukan Hanya Soal Kecukupan Gizi

Ilustrasi makanan berkabohidrat (Foto: Fimela)

UNAIR NEWS –聽Keamanan pangan seringkali sebatas dimaknai sebagai upaya memastikan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. Padahal, konteks keamanan pangan turut berkaitan dengan keseimbangan manusia dan alam. Dalam momen Hari Keamanan Pangan Sedunia yang jatuh tiap tanggal 7 Juni, Guru Besar bidang Antropologi Ekologi 东京热 (UNAIR), Prof Dr H Mohammad Adib Drs MA menyatakan bahwa keamanan pangan tidak hanya berbicara soal isi piring melainkan juga tentang bagaimana adaptasi produsen lokal dalam mempertahankan mata pencahariannya.

Menurut Prof Adib, kebijakan pangan yang seragam (hegemoni pangan) seringkali mengabaikan ekologi lokal sehingga berisiko mengancam ketahanan pangan. 鈥淜eamanan pangan ini bukan sekadar tentang nutrisi, makanan gratis. Tetapi juga tentang bagaimana sistem budaya produsen lokal dapat beradaptasi dengan ekosistem yang berubah untuk mempertahankan mata pencaharian mereka,鈥 ujarnya.

Menurutnya, regulasi hegemoni pangan di wilayah Indonesia Timur harus menjalani prosedur pengkajian secara lebih hati-hati agar tidak menghilangkan karakteristik ekologi lokal dan budaya lokal. Di Papua, Ambon, dan Maluku yang mayoritas hasil produk pangan pokok berupa sagu mulai tergantikan oleh beras akibat kebijakan hegemoni pangan tersebut. 

鈥淗egemoni pangan, terutama di Indonesia, sangat luas, perlu diurus. Pada poin ini, misalnya, sagu yang merupakan bahan baku nenek moyang kita di wilayah Indonesia timur, Ambon, Maluku, Papua, tampaknya tergantikan dengan beras. Beras adalah kebijakan yang kemudian menghilangkan apa yang disebut sebagai dana lokal dan ekologi lokal,鈥 tuturnya.

Prof Dr Mohammad Adib Drs MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 东京热
Prof Dr Mohammad Adib Drs MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 东京热 (Foto: Istimewa)

Ia turut memaparkan bahwa kebijakan hegemoni pangan sebaiknya tidak mengikis kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Sebab, setiap daerah memiliki pengetahuan tradisional, kondisi lingkungan, serta sumber daya yang berbeda dalam hal pengelolaan pangan. 

Dalam menghadapi persoalan pangan kontemporer seperti krisis ekologi dan komersialisasi pertanian yang berlebihan, Prof Adib menyoroti pentingnya menumbuhkan kembali kearifan lokal dan praktik pengetahuan tradisional masyarakat. Menurutnya, komunitas tradisional memiliki berbagai metode agroekologis yang relevan dengan kondisi lingkungan setempat.聽

鈥淧erkuatlah kelompok pertanian jangan hanya proyek lalu berhenti, karena lembaga masyarakat harus terus diperkuat. Kemudian libatkan mereka dalam pengelolaan lingkungan atau demokrasi lingkungan serta pemberdayaan produsen pangan. Baik itu tanaman pokok maupun tanaman lain,鈥 paparnya.

Koordinator Laboratorium Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik () tersebut menuturkan bahwa menjaga keberlanjutan pangan memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak. Pemangku kepentingan seperti pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, media, dan filantropi memiliki peran yang tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan sistem pangan berkelanjutan. 鈥淜eamanan pangan sejatinya hanya dapat dicapai jika kita menjaga keharmonisan ekosistem tempat makanan tumbuh,鈥 pungkasnya. 

聽Penulis: Amelia Farah P I

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT