UNAIR NEWS 鈥 Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Timur atau MSI Jatim menyelenggarakan kegiatan bertajuk Mengenalkan dan Mengajarkan Sejarah Publik di Sekolah secara daring pada Sabtu (23/05/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A dari 东京热 sebagai pembicara utama.
Dalam pemaparannya, Johny menjelaskan bahwa sejarah publik merupakan pendekatan sejarah yang tidak hanya berfokus pada ruang akademik, tetapi juga berupaya menghadirkan sejarah lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, pembelajaran sejarah di sekolah perlu dikembangkan agar lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari dan mampu membangun kesadaran kritis peserta didik.
Pentingnya Sejarah Publik dalam Pembelajaran
Johny menjelaskan bahwa sejarah publik menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran sejarah lebih kontekstual dan menarik bagi siswa. Menurutnya, selama ini masyarakat sering menganggap sejarah hanya sebagai hafalan peristiwa dan tanggal penting. Ia menjelaskan bahwa sejarah juga berkaitan dengan pengalaman sosial dan kehidupan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pendekatan sejarah publik memungkinkan siswa untuk memahami sejarah melalui berbagai media dan ruang publik. Berbagai media tersebut seperti museum, film, arsip digital, hingga cerita masyarakat lokal. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran sejarah tidak akan lagi terasa jauh dari kehidupan generasi muda.
Selain itu, Johny menilai bahwa sejarah publik dapat membantu siswa memahami identitas sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Menurutnya, pembelajaran sejarah perlu mampu mendorong siswa berpikir kritis terhadap berbagai peristiwa masa lalu maupun isu sosial di masa kini.
鈥淪ejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi bagaimana kita memahami kehidupan hari ini melalui pengalaman masa lalu,鈥 jelas Johny saat membahas pentingnya sejarah publik dalam pendidikan.
Tantangan Mengajarkan Sejarah kepada Generasi Muda
Dalam sesi berikutnya, Johny menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media digital menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pembelajaran sejarah. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih dekat dengan media visual dan digital sehingga metode pembelajaran sejarah juga perlu menyesuaikan perkembangan zaman.
Ia menyoroti pentingnya kreativitas guru dalam mengajarkan sejarah agar materi pembelajaran lebih interaktif dan mudah siswa pahami. Pemanfaatan media digital, arsip daring, hingga konten audiovisual ia nilai dapat membantu meningkatkan minat siswa terhadap sejarah.
Selain itu, Johny juga menekankan bahwa sejarah publik dapat menjadi sarana untuk memperkuat literasi sejarah masyarakat. Dengan pemahaman sejarah yang lebih baik, generasi muda akan mampu memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai informasi yang beredar di ruang publik.
Melalui kegiatan tersebut, MSI Jatim berharap diskusi mengenai sejarah publik dapat mendorong pengembangan metode pembelajaran sejarah yang lebih relevan, partisipatif, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





