UNAIRNEWS – Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM FKM 东京热 kembali melaksanakan program kerja MAWACANA melalui Training Member 2 bertema 鈥淪tay Calm and Control the Crowd with Tactical Communication in Action鈥. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juni 2026 bertempat di Ruang Kuliah 11 Fakultas Kesehatan Masyarakat 东京热, dengan menghadirkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya sebagai mitra narasumber.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Presiden BEM FKM UNAIR, Epiphanes Janastha Sinsu, yang menekankan pentingnya memanfaatkan waktu untuk terus belajar, termasuk pada akhir pekan. Ia menyampaikan bahwa kemampuan komunikasi yang efektif dalam situasi bencana menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar mampu bersikap tenang, sigap, dan terarah ketika menghadapi kondisi darurat.
Sambutan juga disampaikan oleh Dr. Corie Indria Prasasti, S.K.M., M.Kes., selaku dosen pembimbing Kementerian Pengabdian Masyarakat. Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak hanya berhenti pada peserta, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dibagikan kepada lingkungan sekitar.
Training Member 2 ini diikuti dengan rangkaian kegiatan interaktif, salah satunya praktik Tas Siaga Bencana (TSB). Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta memilih barang-barang penting yang harus tersedia dalam tas siaga bencana dalam waktu singkat. Melalui simulasi ini, peserta diajak memahami pentingnya kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi. Kelompok 3 berhasil menjadi pemenang dalam sesi praktik tersebut.
Pada sesi materi, BPBD Kota Surabaya memaparkan pentingnya kepemimpinan dan komunikasi krisis dalam kondisi bencana. Peserta dikenalkan pada karakter pemimpin saat bencana, seperti tenang, tanggap, tegas, terbuka, dan tulus melayani. Selain itu, dijelaskan pula bahwa komunikasi krisis harus dilakukan secara cepat, akurat, dan terpercaya agar mampu mengurangi kepanikan, meningkatkan kepercayaan publik, mempercepat evakuasi, serta menyelamatkan nyawa.
Materi juga membahas pengambilan keputusan dalam situasi darurat, pengelolaan informasi resmi, prinsip triase korban, hingga pentingnya kerja sama pentahelix dalam penanggulangan bencana. Peserta kemudian mengikuti sesi diskusi dan Focus Group Discussion (FGD) berbasis studi kasus untuk melatih kemampuan analisis serta penyusunan strategi komunikasi saat krisis.
Seperti yang dijelaskan oleh Azahra Musyaary Annabhan Putri Gunarno selaku ketua pelaksana MAWACANA 2026 bahwasanya Kegiatan MAWACANA Training Member 2 berkontribusi pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kapasitas peserta dalam penyelamatan jiwa dan kesiapsiagaan bencana, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemberian materi dan simulasi berbasis praktik, SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui peningkatan kemampuan adaptasi terhadap risiko bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan kepemimpinan, komunikasi krisis, dan kolaborasi multipihak dalam penanggulangan bencana.
Sebagai penutup, BPBD Kota Surabaya menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang perlu ditanamkan sejak dini. 鈥Keselamatan tidak dimulai saat bencana terjadi, tetapi dari kesiapan kita dalam mengenali risiko dan mengambil tindakan yang tepat,鈥 ujar pemateri. Melalui Training Member 2, peserta diharapkan mampu menjadi individu yang tanggap, adaptif, dan siap berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana.





