¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Maksimalkan Potensi Desa, Mahasiswa KKN-BBK UNAIR Kenalkan Teh Bujang kepada Warga Sidotentrem 

Kafka Augusta Salim, salah satu perwakilan tim KKN BBK 8 UNAIR, saat memaparkan manfaat kesehatan dan potensi ekonomi limbah serabut jagung di Balai Desa Sidotentrem, Sabtu (1/8/2026) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Melimpahnya limbah serabut jagung di Desa Sidotentrem, Kabupaten Tuban, kini tak lagi terbuang sia-sia. Lewat tangan kreatif mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 8 ¶«¾©ÈÈ (UNAIR), limbah pertanian tersebut disulap menjadi minuman herbal bernilai ekonomis bernama Teh Bujang. Gagasan Kafka Augusta Salim dan Dhemes Priandini Ayomi Karina ini disosialisasikan secara langsung kepada 30 ibu-ibu PKK dan kader Posyandu di Balai Desa Sidotentrem pada Sabtu (1/8/2026). 

Ide pembuatan Teh Bujang berawal dari melimpahnya komoditas jagung di Desa Sidotentrem. Aviva Hana Izdhihara, selaku perwakilan kelompok KKN-BBK 8, mengungkapkan bahwa inovasi ini terinspirasi dari produk serupa yang pernah Kafka kembangkan saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Tuban.

“Kami merasa serabut jagung ini paling mudah diolah dan bermanfaat untuk kesehatan. Karena teh itu paling mudah dikonsumsi, bisa langsung diminum, serta bernilai ekonomis, jadi kami memilih mengolahnya menjadi produk teh,” jelas Aviva.

Tim mahasiswa KKN BBK 8 UNAIR memperagakan secara langsung langkah-langkah pengolahan dan penyeduhan serabut jagung menjadi Teh Bujang di hadapan warga (Foto: Istimewa)

Selain berpotensi menjadi produk wirausaha yang menjanjikan, teh herbal dari serabut jagung (Zea mays) ini kaya akan senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Khasiatnya pun beragam, mulai dari melancarkan saluran kemih, mengontrol kadar gula darah, hingga menjaga kesehatan jantung. Warga setempat menyambut antusias inovasi kesehatan yang bernilai ekonomis tersebut.

Feedback mereka sangat baik. Ada beberapa saran agar tehnya dibuat dengan berbagai variasi rasa. Jadi tidak hanya original saja, tapi bisa ditambah variasi seperti mint atau jasmine,” tambahnya.

Bagi mereka, tantangan ke depan adalah memastikan agar warga sungguh-sungguh memanfaatkan dan melanjutkan produksi Teh Bujang secara mandiri. Sebagai bentuk pendampingan konkret, mahasiswa telah membekali warga dengan panduan khusus agar proses produksi rumahan bisa terus berjalan.

“Kami membuat guideline berbentuk presentasi yang berisi manfaat dan tutorial cara membuat teh serabut jagung. Panduan ini kami tinggalkan supaya nanti kalau kami sudah tidak di sana, tetap bisa dimanfaatkan oleh warga,” ungkap Aviva.

Tim mahasiswa berharap program ini tidak berhenti sebatas kegiatan KKN-BBK saja. Mereka mendorong adanya pelopor dari pihak desa maupun warga untuk meneruskan inovasi pembuatan teh herbal tersebut.

“Harapan terbesar kami, teh serabut jagung ini bisa serius menjadi program oleh pemerintah desa atau inisiatif ibu-ibu PKK sebagai wirausaha mereka. Supaya benar-benar bisa menjadi bisnis bernilai ekonomis dan menjadi UMKM khas dari Desa Sidotentrem,” pungkasnya.

Langkah nyata warga dan mahasiswa ini sejalan dengan komitmen ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada penerapan SDG Poin 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penciptaan peluang wirausaha baru, serta SDG Poin 17 (Partnerships for the Goals) lewat kolaborasi erat antara civitas akademika, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT