UNAIR NEWS 鈥 Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 东京热 (UNAIR) melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor, pada 29 Juni鈥25 Juli 2026. Selama hampir satu bulan, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai penanganan satwa liar. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, manajemen kesejahteraan satwa, hingga pengamatan perilaku alami sebagai bagian dari upaya konservasi.
Salah satu pembelajaran yang menarik perhatian adalah perilaku reproduksi kukang (Nycticebus spp.). Mahasiswa PPDH FIKKIA UNAIR, Putri Laura Faradina, mengungkapkan bahwa memahami perilaku alami satwa menjadi bekal penting bagi calon dokter hewan dalam mendukung konservasi berbasis kesejahteraan satwa.
鈥淜ami belajar bahwa penanganan satwa liar tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga harus memahami perilaku alaminya agar rehabilitasi dan pelepasliaran dapat berjalan lebih optimal,鈥 ujarnya.
Adaptasi Unik Kukang
Kukang merupakan primata nokturnal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pepohonan. Gerakannya yang lambat bukan menunjukkan keterbatasan, melainkan bentuk adaptasi untuk menghemat energi sekaligus mengurangi risiko terdeteksi predator. Dengan cengkeraman tangan dan kaki yang kuat, kukang mampu berpindah antarcabang tanpa harus turun ke permukaan tanah.
Selain itu, kukang dikenal sebagai satu-satunya primata yang memiliki mekanisme pertahanan berupa bisa (venom). Zat yang dihasilkan dari kelenjar brakialis di lengan dicampurkan dengan saliva sebelum digunakan sebagai bentuk perlindungan terhadap ancaman. Adaptasi tersebut menjadikan kukang sebagai salah satu primata dengan strategi bertahan hidup yang unik.
鈥淧engamatan secara langsung membuat kami memahami bahwa setiap perilaku satwa memiliki fungsi biologis yang penting untuk kelangsungan hidupnya,鈥 tutur Faradina.
Memahami Reproduksi untuk Konservasi
Perilaku reproduksi kukang juga menunjukkan adaptasi terhadap kehidupan arboreal. Sebelum kopulasi, kukang berkomunikasi melalui vokalisasi, penandaan aroma, dan perubahan perilaku saat masa estrus. Kukang betina umumnya menginisiasi proses reproduksi dengan memberikan sinyal kepada jantan bahwa dirinya siap untuk dibuahi.
Saat kopulasi berlangsung, betina bergelantung secara horizontal pada batang atau cabang pohon. Sementara jantan menjaga keseimbangan tubuh selama proses berlangsung. Strategi tersebut memungkinkan reproduksi tetap berlangsung aman tanpa harus turun ke tanah yang memiliki risiko lebih tinggi.
鈥淧engetahuan ini akan membantu kami menyusun manajemen rehabilitasi yang tepat sekaligus mendukung keberhasilan konservasi dan pelepasliaran satwa liar di habitat alaminya,鈥 pungkasnya.
Penulis: Dheva Yudistira Maulana
Editor: Yulia Rohmawati





