Berita kejadian kebakaran yang terbayang bagi sebagian besar orang adalah mirisnya luka yang diakibatkan dari luka bakar itu sendiri. Namun sayangnya dampak psikologis akibat luka bakar seringkali diabaikan dan seolah-olah tidak mengalami dampak psikologis yang berarti.
Sebuah kasus luka bakar diangkat ke permukaan dimana seorang pasien perempuan yang mengalami luka bakar sekaligus kehilangan suami di saat yang sama. Stres akibat kejadian katastrofik dapat memicu terjadinya reaksi psikologis mulai dari stress, depresi sampai dengan trauma. Reaksi stress terjadi secara primer akibat luka bakar itu sendiri yang menimbulkan nyeri, menurunnya fungsi organ, maupun masalah estetik di kemudian hari. Sedangkan stress sekunder berhubungan dengan prosedur perawatan luka bakar seperti dirawat di ruang unit luka bakar yang sulit dijangkau keluarga, prosedur pembersihan luka dengan prosedur operasi maupun non operatif, pemeriksaan-pemeriksaan yang melibatkan banyak jarum suntik dan prosedur yang menyakitkan bagi pasien juga akan menimbulkan reaksi stress. Depresi terjadi akibat adanya kehilangan maupun rasa bersalah. Pada kasus yang didampingi pasien kehilangan suami dalam insiden tersebut. Saat perawatan pasien tidak diberitahukan karena keluarga tidak mengijinkan pasien untuk mengetahui keadaan suami yang meninggal. Trauma akibat luka bakar sangat mungkin terjadi ketika pasien sering mengingat kembali (flashback) peristiwa tersebut sehingga menimbulkan reaksi badaniah (ketegangan motorik, keterpakuan, berdebar-debar, keringat dingin dll) dan mengganggu kegiatan sehari-harinya.
Pada kasus tersebut, pendekatan komunikasi liaison oleh psikiater dilakukan tidak hanya kepada pasien saja untuk menilai kesiapan pasien menerima informasi berita buruk, tapi komunikasi yang intens dan terprogram juga dilakukan kepada sejawat dokter bedah plastik sebagai penanggung jawab utama dalam kasus ini beserta perawat. Komunikasi dengan sejawat ini dilakukan untuk menggali informasi mengenai tingkat keberhasilan perawatan (prognosis), rencata tatalaksana termasuk prosedur-prosedur operasi yang akan dilakukan serta kondisi fisik pasien dari hari ke hari agar informasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga dapat disampaikan dengan jelas dan akurat.
Metode penyampaian berita buruk (breaking bad news) diberikan kepada pasien agar pasien mendapatkan informasi yang sebenarnya dan pasien mendapatkan pendampingan psikologis selama dirawat di rumah sakit. Metode ini hanya dapat disampaikan oleh psikiater mengingat informasi mengenai prosedur pembedahan rekonstruksi pasca luka bakar dapat disampaikan sedetail dan seakurat mungkin kepada pasien dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pasien. Dalam penyampaikan berita buruk ini pasien dapat memberikan reaksi mulai dari penyangkalan, marah, depresi, tawar menawar sampai dengan reaksi penerimaan. Keluarga pasien meminta penyampaian berita buruk ini ditunda sampai pasien keluar rumah sakit (KRS) dengan harapan bahwa selama pasien dirawat di RS bisa fokus dengan pemulihannya.
Kecemasan yang dirasakan pasien selama menjalani perawat dilakukan pendampingan dan diajarkan metode relaksasi untuk bisa mengurangi kecemasan dan meredakan nyerinya. Metode ini dianggap cukup membantu dan membuat pasien cepat pulih dari lukanya.
Kerjasama antara petugas kesehatan, pasien dan keluarga akan membuat pemulihan pasien dengan luka bakar cepat. Dukungan yang tepat dari keluarga didapatkan bila keluarga memahami kondisi psikologis pasien dan tahu metode yang paling tepat untuk memberikan dukungannya. Oleh karena itu, peran psikiater sebagai penghubung (liaison) pada kasus luka bakar penting untuk dapat menyambungkan kebutuhan akan informasi terkait penyakit, prosedur perawatan serta prognosis perawatan.
Tulisan disaripatikan dari
Winda Indriati, Azimatul Karimah, Iswinarno Doso Saputro (2022). Liaison psychiatric service on burn patient (a case report). . , December 2022, 100027.





