东京热

东京热 Official Website

Lolos ke Tingkat Nasional KRI, Tim Robot Brido WCT Siap Hadapi Tantangan Kung Fu Quest

Tim Brido WCT setelah Visitasi Daring (Foto: Dok. Brido WCT)

UNAIR NEWS – 东京热 (UNAIR) kembali membuktikan taringnya di bidang robotika. Tim Robot Brido WCT UNAIR resmi lolos ke tingkat nasional pada ajang bergengsi Kontes Robot Indonesia (KRI) 2026 untuk divisi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI). Kompetisi puncaknya dijadwalkan berlangsung di Universitas Jember pada tanggal 9 hingga 12 Juli 2026 mendatang.

Sebelum melangkah ke fase nasional, tim robot ini wajib melewati proses seleksi proposal dan visitasi daring yang sengit oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 11 Juni 2026. Berkat kesiapan matang, pengumuman kelolosan resmi dirilis pada Kamis (18/6/2026).

Ajang KRAI tingkat nasional ini bukan sekadar kompetisi biasa. Melainkan gerbang utama yang diperebutkan oleh seluruh universitas di Indonesia untuk menjadi perwakilan resmi negara di ajang internasional ABU Robocon 2026 yang akan digelar di Hong Kong.

Tahun ini, tema yang diusung diadopsi langsung dari tradisi bela diri, yaitu Kung Fu Quest. Kompetisi menuntut setiap tim untuk mendelegasikan dua robot. Yakni Robot 1 (R1) dan Robot 2 (R2), yang wajib bekerja sama secara presisi melewati tiga zona arena utama: Martial Club, Meihua Forest, dan Arena Tic-Tac-Toe.

Tantangan dimulai sejak detik pertama di zona Martial Club. Di mana kedua robot harus berkolaborasi merakit senjata kuno (memasang tombak pada tongkatnya). Setelah senjata terakit, perjalanan berlanjut ke Meihua Forest untuk mengumpulkan gulungan rahasia (Kung Fu Scrolls). Di zona ini, ketajaman sensor robot diuji karena mereka harus menghindari Fake Scrolls (gulungan palsu) yang sengaja dipasang lawan untuk mengecoh.

Puncak pertempuran terjadi di zona Arena. Di mana gulungan-gulungan yang berhasil dikumpulkan harus disusun secara vertikal atau diagonal dalam rak berbentuk permainan Tic-Tac-Toe. Bahkan, regulasi mengizinkan robot menggunakan senjata yang telah dirakit sebelumnya untuk menjatuhkan gulungan milik tim lawan demi merebut kemenangan mutlak (Kung Fu Master).

Ketua Tim Brido WCT, Haris Idrak Haikal, mengungkapkan bahwa tantangan Kung Fu Quest kali ini jauh lebih rumit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kompleksitas terletak pada integrasi mekanis dan otonomi penuh robot. Khususnya pada Robot 2 (R2) yang dituntut bergerak mandiri secara otomatis tanpa kendali manual (fully autonomous).

Quest tahun ini cukup sulit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kita dituntut untuk menyatukan kerja sama mekanik yang sangat presisi antara dua robot dalam keterbatasan waktu. Tidak hanya soal kecepatan, tetapi strategi memindahkan dan mengunci baris Tic-Tac-Toe di arena akhir menjadi penentu utama,鈥 jelas Haris.

Haris menambahkan bahwa di balik keberhasilan robot Brido WCT, ada kerja keras luar biasa di mana tim menghabiskan waktu selama dua bulan penuh untuk merancang dan merakit robot tersebut dari nol. Proses intensif ini berjalan sukses berkat bimbingan intensif dari para senior serta dosen pembimbing yang terus mengawal perkembangan tim.

Menghadapi sisa waktu sebelum laga di Jember dimulai, Tim Brido WCT terus melakukan fine-tuning pada sistem sensor, akurasi perakitan senjata robot, serta pemantapan strategi guna meminimalisasi error di arena. Dukungan penuh dari pihak universitas dan kerja keras tim diharapkan mampu membawa pulang hasil terbaik.

Penulis: Nisrina Khairunnisa

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT