UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa 东京热 (BEM UNAIR) mengadakan kunjungan ke Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) dan United Nations Population Fund Indonesia (UNFPA Indonesia). Kegiatan itu bertujuan untuk menyoroti peluang bonus demografi Indonesia 2045, pada Jumat (11/09/2026).
Kegiatan yang bertajuk International Visit itu memberikan kesempatan kepada fungsionaris BEM UNAIR untuk berdiskusi dan mencari solusi ideal bagi pemuda Indonesia. Khususnya dalam pembentukan keluarga di masa depan guna
Menyongsong Bonus Demografi 2045
Menteri Hubungan Luar BEM UNAIR, Zalfaa Putri menuturkan bahwa BEM UNAIR berkomitmen menjadi mitra strategis dalam menyiapkan pemuda Indonesia, terkhusus Ksatria Airlangga. Pemuda hari ini memerlukan edukasi yang cukup untuk membentuk generasi yang sehat serta dapat berkontribusi secara aktif menuju tahun 2045.
鈥淜ami merasa bahwa keluarga yang sehat selalu dimulai dari edukasi yang baik. Tentunya dengan berangkat pula dari program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), ketika dari tataran pemuda ataupun masyarakatnya sendiri tidak aware, maka program tersebut tidak bisa berjalan juga,鈥 tutur Zalfaa.

Strategi dalam Membentuk Pertumbuhan dan Kesetaraan Gender bagi Sesama
Dalam kesempatan ini, Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga RI Dr Drs Wahidin, MKes memaparkan bahwa program pemerintah saat ini masih terus digalakkan dan diedukasi adalah program Keluarga Berencana (KB). Program tersebut dirancang untuk mengatur jumlah kelahiran untuk membentuk keluarga yang sehat di masa depan.
鈥淧rogram KB tercetus pada 1957, tetapi pada saat itu, pemerintah Indonesia masih cenderung pronatalitas, sehingga cukup sulit untuk diterapkan. Lalu, pada 1970, program itu pertama diluncurkan untuk mengatur jumlah kelahiran. Sehingga sampai hari ini, yang seharusnya penduduk Indonesia ditaksir bisa sampai setengah miliar, saat ini berjumlah 280 juta,鈥 papar Dr. Wahidin.
Selain itu, apabila di zaman dahulu terkenalnya 鈥榣ebih banyak anak banyak rezeki鈥, tetapi saat ini 鈥榣ebih banyak anak, lebih banyak rezeki yang harus dicari鈥. Sehingga pemikirannya berubah dan kita perlu menyesuaikan zamannya.
Melengkapi dalam perspektif internasional, Dr. Verania Andria Asisten Representatif UNFPA Indonesia menyampaikan jika seyogianya manusia memiliki hak untuk mau menikah dengan siapa, pada saat kapan, serta ingin memiliki anak berapa. Laki-laki dan perempuan dapat saling bertumbuh dan mengedepankan prinsip kesetaraan untuk membentuk keluarga yang sehat.
鈥淜etika hak reproduksi diberikan, orang bisa memilih mau menikah kapan, dengan siapa, dan mau berapa, serta secara fisik dan mental siap. Sehingga dari situ dapat mengurangi potensi kematian ibu dan anak serta akhirnya laki-laki dan perempuan bisa bertumbuh bersama dan kesetaraan bisa tercapai,鈥 jelas Verania.
Dengan begitu, keluarga yang sehat dapat terbentuk untuk mengurangi risiko kematian ibu dan anak serta kesetaraan gender dalam keluarga dapat tercapai. Setiap manusia memiliki hak untuk membentuk keluarga dalam menyongsong bonus demografi pada 2045 nantinya.
Penulis: M. Rizqi Senja Virawan
Editor: Khefti Al Mawalia





