东京热

东京热 Official Website

Kembangkan Bionanomaterial Bunga Telang dan Buah Jamblang untuk Antikanker, Mahasiswa UNAIR Lolos Pendanaan PKM RE 2026

Dari kiri ke kanan Nia Eka Safitri, Desika Dwi Ayu Rohmawati, Juelo Merdiansyah, Lilik Nur Khumaidah, dan Devika Muliana sebagai tim PKM RE Claritea (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim).
Dari kiri ke kanan Nia Eka Safitri, Desika Dwi Ayu Rohmawati, Juelo Merdiansyah, Lilik Nur Khumaidah, dan Devika Muliana sebagai tim PKM RE Claritea (Sumber: Dokumentasi Pribadi Tim).

UNAIR NEWS 鈥 Kanker payudara masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan, baik di Indonesia maupun dunia. Pada 2020, tercatat sekitar 68.898 kasus kanker payudara di Indonesia dengan angka kematian mencapai 22.000 jiwa, dan jumlah tersebut kemungkinan akan terus meningkat setiap tahunnya. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa multidisiplin UNAIR yang diketuai Lilik Nur Khumaidah dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) bersama Desika Dwi Ayu Rohmawati dan Nia Eka Safitri dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Devika Muliana dari Fakultas Farmasi (FF), serta Juleo Merdiansyah dari FST, di bawah bimbingan Dr rer nat Ganden Supriyanto, MSc, mengembangkan inovasi agen antikanker berbasis bahan alam dan kekayaan hayati Indonesia sebagai upaya menghadirkan alternatif terapi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Gagasan berjudul Inovasi Bionanomaterial Antikanker berbasis kombinasi antosianin dari Bunga Telang (Clitoria ternatea) dan buah Jamblang (Syzygium cumini) tersebut berusaha menghadirkan kandidat terapi antikanker. Tim yang seluruhnya berasal dari angkatan 2023 ini berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) tahun 2026. Capaian ini menjadi bukti bahwa kekayaan hayati lokal masih terbuka untuk dikembangkan dalam dunia kesehatan.

Atasi Kerentanan Antosianin Melalui Enkapsulasi

Lilik menjelaskan bahwa antosianin pada bunga telang memiliki potensi sebagai antikanker. Namun, potensi tersebut belum optimal karena antosianin mudah mengalami degradasi akibat suhu, cahaya, maupun perubahan pH. Kerentanan ini menjadi titik mula tim dalam merancang strategi perlindungan senyawa tersebut.

鈥淪ebagai analogi, antosianin itu seperti telur yang mudah pecah. Agar bisa dibawa dengan aman, telur tersebut dimasukkan dalam kotak pelindung. Pada penelitian kami, kitosan dan alginat berfungsi sebagai kotak pelindung tersebut,鈥 ujar Lilik.

Solusi yang hadir adalah enkapsulasi antosianin menggunakan matriks kitosan alginate dengan metode spray-day. Pemilihan kitosan dan alginat sebagai bahan pembungkus karena termasuk polimer alami yang bersifat biocompatible, tidak toksik, dan mampu membentuk lapisan pelindung dari degradasi akibat suhu, cahaya, dan perubahan pH. Dengan meningkatnya stabilitas tersebut, bioavailabilitas serta efektivitas sitotoksik antosianin dapat meningkat daripada ekstrak yang tidak melalui proses enkapsulasi.

Kolaborasi Lintas Sektor

Penelitian ini nantinya bertujuan untuk mampu menghasilkan kandidat antikanker berbasis bahan alam dengan karakteristik stabilitas baik, efektivitas tinggi, serta potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Ia turut mengusulkan pengembangan obat berbassis bahan alam untuk memanfaatkan teknologi enkapsulasi. Tidak hanya itu, Lilik menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk hasil riset yang lebih berdampak.

Tim mengajak seluruh civitas akademika UNAIR untuk turut mendukung penelitian serta mengikuti akun Instagram dan Tiktok @pkmre.claritea. Tim berharap dukungan tersebut dapat memacu semangat kolaborasi lintas disiplin serta budaya riset. Selain itu, tim juga berharap penelitian ini mendorong mahasiswa UNAIR berani mengikuti PKM dan mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal.

Penulis: Yongki Eka  Cahya
Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT