东京热

东京热 Official Website

Jangan Pernah Lelah Mencintai UNAIR

Judul artikel saya diatas adalah pernyataan sahabat saya Dr. Budi Widayanto mantan Sekjen IKA UA periode 2017-2021 dan saat ini menjadi anggota Dewan Pakar IKA UNAIR dibawah kepemimpinan Neng Khofifah yang juga Gubernur Jawa Timur. Gus Budi (GB) 鈥 begitu dia dipanggil di berbagai WAG IKA UNAIR memang terkenal sangat mencintai almamater nya, sahabat saya satu angkatan di FE UNAIR 1973 itu juga dikenal cara nongomongnya yang ceplas-ceplos, maklum dia adalah anak kolong di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, almarhum bapaknya adalah Kolonel TNI AU, ditambah pula istrinya yang orang Madura. Jadi ya begitu cara bicaranya tegas dan lugas tanpa basa basi.

GB malang melintang pengalamannya mengajar di Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya (dan sekarang menjadi salah satu pejabat di PT itu) sangat lugas ketika membahas tentang dosen atau tenaga pengajar yang tidak men-syukuri pendapatan yang diterima, namun GB rasional pendapatnya yaitu seorang dosen tentu akan mendapatkan renumerasi yang memadai manakala yang bersangkutan aktif, ya aktif mengajar, menulis jurnal, menulis pendapat akademiknya di berbagai media, menjadi pembicara di berbagai event, melakukan penelitian yang berdampak pada kehidupan masyarakat, rekam jejaknya lama dsb Apabila seorang dosen hanya diam, tidak aktif, introvert dsb maka tentu tidak layak menerima renumerasi yang cukup atau tinggi.

Pendapat DR. GB ini pernah saya alami ketika saya bekerja di beberapa lembaga asing antara lain Perwakilan Diplomatik Amerika Serikat, Bank of Tokyo dan Bank Belanda ABN AMRO. Saya pernah ditegur diplomat Amerika Serikat yang paling senior karena dalam suatu rapat saya hanya diam tidak berpendapat. Sang diplomat mengatakan: 鈥淧ak Cholis American tax payers provide you with high salary and they ask you to speak up !!!鈥. Memang tidak wajar bila saya menginginkan gaji tinggi tapi performa saya jelek salah satunya 鈥 diam disuatu rapat penting. Kalau saya ditanya pimpinan rapat: 鈥渨hat do you thing about this issue?鈥, lalu saya hanya menjawab: 鈥淚 do not know鈥, maka bisa dibayangkan boss saya akan marah dan berteriak: 鈥済et out off here!!!鈥.

东京热 seperti lebih dari 20 Perguruan Tinggi Negeri di Nusantara ini  berstatus Berbadan Hukum atau BH itu intinya tidak hanya mengatur dirinya sendiri namun juga punya aturan bahwa performa atau kinerja seseorang apakah itu dosen tetap atau tidak- harus memiliki kinerja yang prima, penghargaan yang diberikan antara lain berupa renumerasi dan tunjangan itu berdasarkan pada kinerja sang dosen. Reward nya UNAIR itu 鈥渂ased on merit鈥. Maka sangat tidak fair apabila saya sebagai dosen yang pindahan dari tempat lain lalu bekerja di UNAIR baru beberapa tahun meminta penghargaan yang tinggi tanpa memiliki performa yang baik.

Memang profesi Dosen itu menjadi candaan, guyonan karena disebutkan singkatan Dosen itu = Kerjanya Sak Dos, Gajinya Sak Sen alias gajinya sangat memprihatinkan. Tapi apakah betul candaan arti Dosen itu, terutama di UNAIR?.

Yang saya ketahui di UNAIR itu Gaji, Tunjangan dan Insentif yang diterima Dosen Non ASN Pemula di UNAIR yaitu Gaji dan Tunjangan terdiri dari: Gaji dan Tunjangan Fungsional, Tambahan Tunjangan Fungsional, Tunjangan Serdos, Uang Makan 鈥 totalnya Rp. 10, 5 juta. Ditambah dengan Honor dan Insentif yang terdiri dari: Pengajaran, Penelitian, Publikasi Buku, Publikasi Artikel, Inovasi dan Pengembangan, Pengabdian Masyarakat 鈥 total Rp 5,5 juta. Total semuanya Rp 16 juta. Jadi kalau ditanya berapa penghargaan/renumerasi dari UNAIR jangan hanya disebutkan Gaji Pokok nya saja, namun harus disebutkan juga komponen lainnya itu.

Tanpa meng-klaim diri saya sebagai orang baik, kalau saya mendapatkan penghargaan sebesar itu maka saya tentu sujud syukur, mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Allah dalam bentuk renumerasi tersebut. Jangankan sebesar Rp 16 juta, saya pernah mendapatkan HR mengajar di Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya selama 25 tahun sebagai Dosen Luar Biasa (LB) sebesar Rp 100 ribu per 2 SKS, saya mengajar empat kali/bulan, jadi HR yang saya terima Rp 400 ribu/bulan. Itu pun saya harus syukuri. Kalau saya tidak bersyukur maka tidak mungkin saya bertahan sampai 25 tahun.

Ada lagi yang harus kita ketahui sebagai Civitas Akademika UNAIR, pihak Almamater kita ini memiliki kebijakan bahwa mahasiswa tidak boleh DO karena alasan tidak punya dana, karena UNAIR memiliki kebijakan yang sangat concern pada perkembangan akademik para mahasiswa yang tidak berkecukupan.

Dengan berbagai kemajuan UNAIR baik ditingkat global maupun nasional saat ini tentu tidak kita pungkiri masih ada hal-hal yang masih perlu kita benahi bersama, namun hal-hal itu jangan sampai menyurutkan kecintaan kita pada Almamater.

Karena itu saya ulangi nasihat sahabat saya DR. GB tadi: 鈥淛ANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI UNAIR鈥.

AKSES CEPAT