东京热

东京热 Official Website

Investigasi Korelasi antara Kehilangan Perlekatan Klinis dan Pengukuran Tingkat Tulang Alveolar secara Radiografis dalam Penilaian Diagnostik Periodontitis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit gusi atau periodontitis masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi yang paling banyak dialami masyarakat. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan gusi berdarah dan gigi goyang, tetapi juga dapat berujung pada kehilangan gigi apabila tidak ditangani sejak dini. Karena dampaknya yang besar terhadap kualitas hidup, diagnosis yang akurat menjadi langkah pertama yang sangat penting dalam menentukan perawatan yang tepat. Sebuah tinjauan sistematis terbaru mengulas bagaimana hubungan antara pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiografi (foto rontgen) dapat meningkatkan ketepatan diagnosis periodontitis.

Dalam praktik kedokteran gigi, dokter menggunakan dua parameter utama untuk menilai tingkat keparahan periodontitis. Pertama adalah Clinical Attachment Loss (CAL), yaitu pengukuran hilangnya jaringan penyangga gigi melalui pemeriksaan klinis menggunakan periodontal probe. Kedua adalah Alveolar Bone Level (ABL), yaitu pengukuran tinggi tulang penyangga gigi melalui pemeriksaan radiografi. Keduanya sama-sama menggambarkan kerusakan jaringan periodontal, tetapi diperoleh melalui metode yang berbeda sehingga saling melengkapi.

Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang mengikuti pedoman PRISMA. Penulis menelusuri berbagai basis data ilmiah, seperti PubMed, Scopus, dan Web of Science. Dari total 1.755 artikel yang ditemukan, hanya 10 penelitian yang memenuhi seluruh kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil seleksi ini memastikan bahwa kesimpulan yang diambil berasal dari penelitian berkualitas dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang konsisten antara nilai CAL dan ABL. Dengan kata lain, semakin besar kehilangan perlekatan jaringan yang ditemukan pada pemeriksaan klinis, semakin besar pula kehilangan tulang alveolar yang terlihat pada radiografi. Nilai korelasi yang ditemukan berkisar antara 0,35 hingga 0,88, menunjukkan tingkat hubungan dari sedang hingga sangat kuat. Temuan ini memperkuat bahwa pemeriksaan klinis dan radiografi sebenarnya saling mendukung dalam menegakkan diagnosis periodontitis.

Menariknya, jenis radiografi yang digunakan juga memengaruhi kekuatan hubungan tersebut. Radiografi periapikal dengan teknik paralel memberikan korelasi paling tinggi dengan hasil pemeriksaan klinis sehingga dinilai paling akurat untuk mengevaluasi kehilangan tulang. Sementara itu, radiografi panoramik menunjukkan hubungan yang lebih lemah karena memiliki keterbatasan berupa distorsi gambar dan resolusi yang lebih rendah. Di sisi lain, Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) mampu menghasilkan gambaran tiga dimensi yang lebih presisi, tetapi penggunaannya masih terbatas karena biaya lebih tinggi, akses yang belum merata, dan paparan radiasi yang lebih besar dibandingkan radiografi konvensional.

Para peneliti juga menemukan bahwa perubahan pada jaringan lunak sering kali muncul lebih dahulu dibandingkan perubahan tulang yang tampak pada radiografi. Kehilangan perlekatan klinis dapat terjadi sekitar enam hingga delapan bulan sebelum kehilangan tulang terlihat jelas pada foto rontgen. Hal ini menjelaskan mengapa pemeriksaan klinis tetap menjadi bagian yang tidak dapat digantikan, meskipun teknologi pencitraan semakin berkembang.

Kesimpulan utama dari tinjauan sistematis ini adalah bahwa tidak ada satu metode yang dapat berdiri sendiri dalam mendiagnosis periodontitis. Pemeriksaan klinis memberikan informasi langsung mengenai kondisi jaringan periodontal, sedangkan radiografi memperlihatkan kerusakan tulang yang tidak dapat diamati secara visual. Menggabungkan kedua metode tersebut akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat, membantu dokter gigi menentukan tingkat keparahan penyakit, serta menyusun rencana perawatan yang lebih tepat bagi setiap pasien. Dengan demikian, masyarakat juga diharapkan tidak hanya mengandalkan pemeriksaan visual saat memeriksakan kesehatan gigi, tetapi bersedia menjalani pemeriksaan radiografi bila direkomendasikan oleh dokter gigi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jaringan penyangga gigi secara menyeluruh.

Penulis: Dewina Marsha Larasati

Detail artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/investigating-the-correlation-between-the-clinical-attachment-los/

AKSES CEPAT