¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

ICVMHS 2026 Angkat Pendekatan One Health untuk Perkuat Sistem Kesehatan Hewan 

Pemaparan materi oleh Datuk Dr. Mohd Noor Mohd Aris, Director General of Veterinary Services Malaysia, dalam sesi bertajuk Building Resilient Animal Health Systems: A One Health Approach to Veterinary Medicine and Animal Husbandry pada rangkaian The International Conference on Veterinary Medicine and Health Sciences (ICVMHS) 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (22/07/2026). (Foto: Zoom meeting)
Pemaparan materi oleh Datuk Dr. Mohd Noor Mohd Aris, Director General of Veterinary Services Malaysia, dalam sesi bertajuk Building Resilient Animal Health Systems: A One Health Approach to Veterinary Medicine and Animal Husbandry pada rangkaian The International Conference on Veterinary Medicine and Health Sciences (ICVMHS) 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (22/07/2026). (Foto: Zoom meeting)

UNAIR NEWS – ¶«¾©ÈÈ kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui sesi Building Resilient Animal Health Systems: A One Health Approach to Veterinary Medicine and Animal Husbandry dalam rangkaian The International Conference on Veterinary Medicine and Health Sciences (ICVMHS) 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (22/07/2026). Melalui sesi tersebut, para narasumber membahas strategi membangun sistem kesehatan hewan yang tangguh melalui pendekatan One Health, mulai dari penguatan kebijakan kesehatan hewan hingga praktik veteriner yang adaptif terhadap tantangan global. 

Regulasi Imunitas untuk Pengembangan Terapi Masa Depan 

Mengawali sesi presentasi dari keynote speaker adalah Jeongho Park DVM PhD dari Kangwon National University, Korea Selatan. Ia memaparkan hasil penelitiannya mengenai peran sumbu IL-17E/IL-17RB dalam proses hematopoiesis. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa IL-17E tidak hanya berperan dalam respons imun tipe 2. IL-17E juga mampu mengatur perkembangan hematopoietic stem and progenitor cells (HSPCs) menuju garis keturunan monosit.

Menurutnya, temuan tersebut membuka peluang baru dalam memahami mekanisme pembentukan sel imun, khususnya pada kondisi inflamasi. Regulasi terhadap jalur IL-17E/IL-17RB dinilai berpotensi menjadi target terapi untuk berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan sistem imun maupun inflamasi. Selain memperluas pemahaman mengenai hematopoiesis, penelitian. 

Mitigasi Mikotoksin untuk Menjaga Kesehatan Hewan dan Keamanan Pangan 

Pada sesi keynote berikutnya dari Prof Dr Erma Safitri DVM MSi dari Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ. Prof Erma mengangkat isu mikotoksin sebagai salah satu tantangan besar dalam kesehatan hewan sekaligus keamanan pangan. Ia menjelaskan bahwa mikotoksin merupakan senyawa toksik yang jamur hasilkan dan dapat mencemari bahan pakan maupun pangan. Hal itu berdampak pada kesehatan hewan serta berisiko berpindah ke produk asal hewan yang manusia konsumsi.

Sesi keynote oleh Prof. Jeongho Park dari Kangwon National University, Korea Selatan, dan Prof. Dr. Erma Safitri, drh., M.Si. dari Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam rangkaian The International Conference on Veterinary Medicine and Health Sciences (ICVMHS) 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (22/7/2026). (Foto: Zoom meeting)

Prof Erma menekankan bahwa pengendalian mikotoksin memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Bermula dari pencegahan selama proses produksi dan penyimpanan pakan hingga penerapan teknologi detoksifikasi. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah sistem mycotoxin detoxifier yang mengombinasikan adsorben mineral, mikroorganisme, serta enzim untuk menurunkan toksisitas mikotoksin. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya mendukung kesehatan hewan, tetapi juga meningkatkan keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat.

Membangun Sistem Kesehatan Hewan yang Tangguh melalui Pendekatan One Health

Pada sesi ketiga oleh Director General of Veterinary Services Malaysia, Datuk Dr Mohd Noor Hisham Bin Mohd Haron sebagai President of the Malaysia Veterinary Council. Ia menekankan bahwa sistem kesehatan hewan yang tangguh menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta stabilitas ekonomi. Menurutnya, tantangan global seperti penyakit zoonosis, perubahan iklim, hingga meningkatnya mobilitas manusia dan hewan menuntut adanya pendekatan yang lebih terintegrasi.

Melalui konsep One Health, Datuk Dr Mohd Noor menjelaskan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat terpisah. Oleh karena itu, membangun penguatan sistem kesehatan hewan harus melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan hewan, hingga pelaku industri peternakan. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan biosekuriti, sistem surveilans penyakit, serta inovasi berbasis riset sebagai langkah preventif dalam menghadapi ancaman penyakit hewan di masa depan.

“Building a resilient animal health system is not only about protecting animals, but also safeguarding human health, food security, and sustainable economic development,” ungkap Datuk Dr. Mohd Noor.

Manajemen Anestesi pada Hewan Brachycephalic untuk Menekan Risiko Klinis 

Pada sesi terakhir presentasi keynote speaker, Prof Won-Gyun Son, DVM PhD membahas tantangan anestesi pada hewan brachycephalic, seperti pug, bulldog, dan persian cat. Hewan-hewan tersebut memiliki karakteristik anatomi saluran pernapasan berbeda daripada ras lainnya. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan pasien brachycephalic memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi respirasi selama maupun setelah tindakan anestesi.

Pemaparan materi oleh Prof. Won Gyun Son dalam sesi (ICVMHS) 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (22/07/2026). (Foto: Zoom meeting)

Prof. Son menjelaskan bahwa evaluasi pra operasi, pemantauan jalan napas secara menyeluruh, serta penanganan pasca operasi yang tepat menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko komplikasi. Ia juga menekankan bahwa fase pemulihan (recovery) merupakan periode paling kritis karena banyak kasus gangguan pernapasan justru muncul setelah ekstubasi. Oleh sebab itu, dokter hewan perlu menyiapkan strategi manajemen anestesi yang komprehensif, termasuk pemberian terapi oksigen, pemantauan hemodinamik, hingga perlindungan organ lain seperti mata yang rentan mengalami komplikasi pada hewan brachycephalic.

Menutup paparannya, Prof. Son mengingatkan bahwa brachycephalic bukan sekadar karakteristik fisik, melainkan kondisi yang mempengaruhi berbagai sistem organ. Karena itu, dokter hewan memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menangani gejala, tetapi juga mengedukasi pemilik hewan mengenai risiko kesehatan dan pentingnya penanganan yang tepat demi meningkatkan kesejahteraan hewan.

Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT