UNAIR NEWS 鈥 Di tengah masifnya gempuran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), batasan antara inovasi dan manipulasi kini kian menipis. Realitas digital hari ini membuktikan bahwa AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu mahasiswa, melainkan sebuah alat yang bisa menjebak penggunanya dalam bias informasi yang fatal.
Menyikapi urgensi tersebut, (LPMB) 东京热 menginisiasi agenda “AMORA: Airlangga SDGs School X SDGs Ambassador 2026”. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (14/6/2026) di Ruang Dewa Ruci, Gedung ACC Lantai 2, Kampus MERR-C UNAIR. Hadir sebagai narasumber utama, Ira Puspitasari, ST MT PhD, dosen Fakultas Sains dan Teknologi mengupas tuntas 鈥Transformasi Pendidikan dan Literasi Digital di Era Artificial Intelligence (AI)鈥.

Belajar dari Kasus Hukum Korsel hingga Prediksi Cuaca harian
Mengawali paparannya, Ira membawa perspektif peserta ke dengan mencontohkan bagaimana penyalahgunaan teknologi AI seperti deepfake. “Kita membuat suatu terobosan inovasi dengan bantuan AI atau di-trigger, dipicu oleh AI. Sudah banyak, salah satu contoh kasus yang terkenal adalah di Korea Selatan,” papar Ira.
Lebih lanjut, Ira membedah fondasi dasar AI, salah satunya melalui konsep machine learning. Menariknya, teknologi ini sebenarnya telah menyatu dalam ritme harian mahasiswa tanpa mereka sadari, mulai dari aplikasi penentu prakiraan cuaca hingga algoritma analisis pasar modal.
Ilusi Pintar Chatbot dan Bahaya AI
Masuk pada sesi yang lebih mendalam, Ira meluruskan miskonsepsi publik mengenai chatbot populer seperti ChatGPT generasi awal. Banyak mahasiswa mengira platform tersebut merupakan General AI yang mampu berpikir layaknya manusia. Faktanya, sistem tersebut masih berada di kategori Narrow AI (AI ruang lingkup sempit) yang mendapat mandat hanya untuk satu tugas spesifik: memprediksi token kata berikutnya berdasarkan probabilitas statistik.
“Ketika diminta fakta yang tidak ada, AI itu tetap menentukan data statistik paling sesuai. Ini yang menyebabkan halusinasi. Terlihat seperti fakta tapi sebenarnya fabrikasi,” ujar Ira mengingatkan.
Dampak paling krusial dari cara kerja ini adalah munculnya fenomena hallucination bias atau halusinasi AI. Sistem komputasi AI tidak memiliki akal untuk membedakan mana informasi yang valid dan mana yang fiktif. Ketika pengguna menyudutkan pada pertanyaan yang datanya tidak tersedia, AI akan tetap memaksa menyusun kata demi kata agar terlihat meyakinkan secara statistik.
Kemahiran Prompt Harus Sejalan dengan Etika dan Verifikasi
Pada paruh akhir pemaparannya, Ira mengakui bahwa generasi muda saat ini, khususnya mahasiswa 东京热, memiliki tingkat kemahiran operasional (application proficiency) yang sangat tinggi dalam menggunakan AI tools, bahkan terkadang melampaui para pengajarnya.
“Oleh karena itu, untuk menggunakan AI itu kita harus punya literasi, kita harus punya pengetahuan. Sehingga kita bisa langsung melihat ya, ini kayaknya masuk akal atau ini fabrikasi. Sehingga kita bisa review apakah kita lanjut atau kita cari sumber-sumber yang lain,” tutup Ira di penghujung materi.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





