东京热

东京热 Official Website

FKH UNAIR Dorong Deteksi Dini Stunting pada Usia Pra-Pubertas Melalui Pengabdian Berkelanjutan

Dekan FKH UNAIR, Prof Dr Lilik Maslachah drh MKes saat sesi pengukuran lingkar kepala pada siswa di SDN Banjarjo II Bojonegoro, Senin (6/7/2026). (Foto: Erika Eight Novanty)
Dekan FKH UNAIR, Prof Dr Lilik Maslachah drh MKes saat sesi pengukuran lingkar kepala pada siswa di SDN Banjarjo II Bojonegoro, Senin (6/7/2026). (Foto: Erika Eight Novanty)

UNAIR NEWS – Banyak orang mengenal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas pencegahan stunting. Namun, Fakultas Kedokteran Hewan () 东京热 (UNAIR) mengingatkan bahwa perhatian terhadap pertumbuhan anak tidak boleh berhenti setelah masa balita. Usia pra-pubertas menjadi fase penting untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan sehingga intervensi gizi masih dapat berlangsung sebelum anak memasuki masa remaja.

Komitmen tersebut FKH UNAIR wujudkan melalui pengabdian masyarakat berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro dengan melaksanakan pemeriksaan antropometri terhadap 295 siswa kelas IV, V, dan VI dari delapan sekolah dasar, Senin (6/7/2026). Kegiatan ini melibatkan Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Vokasi (FV) 东京热 karena memiliki kompetensi dalam penanganan stunting sehingga proses pemeriksaan dan analisis dapat berlangsung secara lebih profesional.

Ketua Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR di Bojonegoro, Prof Dr Widjiati drh MSi PAVet(K) saat memberi sambutan di SDN Banjarjo II, Senin (6/7/2026). (Foto: PHMP UNAIR)
Pentingnya Fase Pra-Pubertas

Ketua Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR, Prof Dr Widjiati drh MSi PAVet(K) menjelaskan bahwa pemilihan siswa usia pra-pubertas bukan tanpa alasan. Menurutnya, fase tersebut merupakan masa pertumbuhan yang masih memberikan peluang bagi anak untuk mengejar kebutuhan gizi apabila nantinya ada indikasi gangguan pertumbuhan.

“Masa pra-pubertas sangat penting karena merupakan periode pertumbuhan anak. Jika pada fase ini ternyata ada indikasi stunting, kebutuhan gizinya masih bisa terkejar. Kalau kita gagal di fase ini, kita bisa kehilangan satu generasi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pemeriksaan antropometri dengan mengukur tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul. Dari berbagai indikator tersebut, tinggi badan berbanding dengan usia dan jenis kelamin menjadi parameter utama dalam skrining stunting menggunakan kurva pertumbuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Prof. Widjiati menambahkan bahwa seluruh hasil pemeriksaan akan melalui proses akumulasi dan analisis. Kemudian, hasil tersebut akan disampaikan kepada Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Data tersebut ia harapkan menjadi dasar penyusunan strategi penanganan stunting yang lebih tepat sasaran sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan anak di Bojonegoro.

Pengukuran Tinggi Badan dalam screening Stunting di SDN Banjarjo II Bojonegoro, Senin (6/7/2026). (Foto: Erika Eight Novanty)
Pemenuhan Gizi Berkelanjutan

Sementara itu, Wali Kelas SDN Banjarjo II, Kiki Novandari, mengatakan bahwa sekolah selama ini juga memberikan perhatian besar terhadap pemenuhan gizi peserta didik. Para guru telah mengikuti pelatihan dari Dinas Kesehatan mengenai makanan bergizi. Sementara itu, kantin sekolah rutin dipantau agar hanya menyediakan makanan yang memenuhi standar kesehatan.

Ia menambahkan, puskesmas juga melakukan kunjungan ke sekolah setiap dua bulan sekal. Upaya tersebut untuk memantau kondisi kesehatan siswa, termasuk pemeriksaan terkait stunting. Hasil pemeriksaan tersebut akan UNAIR serahkan kepada Dinas Kesehatan sebagai bagian dari pemantauan status gizi anak di Kabupaten Bojonegoro.

Melalui pengabdian masyarakat berkelanjutan ini, FKH UNAIR berharap deteksi dini gangguan pertumbuhan dapat menjadi perhatian. Tidak hanya pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, tetapi juga pada masa-masa penting pertumbuhan anak memasuki usia remaja. Dengan kolaborasi lintas disiplin dan tindak lanjut berbasis data, harapannya upaya pencegahan stunting dapat berlangsung lebih dini, lebih tepat sasaran, serta mendukung lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas.

Penulis : Erika Eight Novanty

AKSES CEPAT