东京热

东京热 Official Website

FF UNAIR Bekerja Sama Dengan BPOM, Perkuat Hilirisasi Produk Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik

Dekan Fakultas Farmasi UNAIR, Prof apt Dewi Melani Hariyadi SSi MPhil PhD saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi BPOM (Foto: Istimewa)
Dekan Fakultas Farmasi UNAIR, Prof apt Dewi Melani Hariyadi SSi MPhil PhD saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi BPOM (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kesenjangan antara hasil riset di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Banyak karya inovatif mahasiswa dan peneliti yang hanya berujung menjadi tumpukan skripsi atau laporan tanpa secara langsung bermanfaat untuk masyarakat luas. Menjawab permasalahan tersebut, merangkul . Kolaborasi ini berwujud sosialisasi program inovatif bernama Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya saing Global dan Ekspansi pasar (BRIDGE).

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Farmasi UNAIR, Prof apt Dewi Melani Hariyadi SSi MPhil PhD menyampaikan apresiasi terhadap komitmen BPOM dalam meningkatkan kualitas hilirisasi riset. Prof Dewi menilai bahwa kegiatan tersebut sangat relevan dengan tujuan pendidikan tinggi di Indonesia, yakni menghasilkan karya nyata. 鈥淗arapannya, dampaknya harus lahir, yaitu dari produk-produk inovatif karya anak bangsa. Produk yang akan mengglobal di dunia,鈥 ungkap Prof Dewi pada Rabu (8/7/2026) di Aula Fakultas Farmasi, Kampus MERR – C UNAIR.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri SSi Apt MFarm saat membuka kegiatan Sosialisasi BPOM (Foto: Istimewa)
BPOM Pastikan Keamanan dan Fasilitasi Regulasi

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri SSi Apt MFarm menegaskan bahwa BPOM tidak hanya hadir sebagai pengawas ketat, melainkan juga sebagai fasilitator yang proaktif membantu peneliti dan industri. Ia menyadari standar regulasi seringkali menjadi momok menakutkan bagi para peneliti saat mencoba menghilirisasi produknya. 鈥淜ita temukan adanya keluhan bahwa sulit untuk mendapatkan izin edar dari BPOM,鈥 paparnya.

Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Kashuri menegaskan kembali komitmen BPOM melalui peluncuran platform BRIDGE. Platform ini akan menyusun aturan yang lebih fleksibel dengan tetap mengutamakan standar kesehatan masyarakat. 鈥淜ita mau patuh pada regulasi tapi kita nggak mampu untuk memenuhi persyaratan regulasi yang ada. Regulasinya terlalu tinggi, tidak mungkin terpenuhi oleh para periset maupun pelaku usaha. Ini juga akan kita jawab dengan menyusun regulasi yang lebih adaptif. Tanpa mengurangi kaitannya dengan standar mutu keamanan maupun efikasi,鈥 tegas Deputi BPOM tersebut.

鈥婦alam upayanya memfasilitasi program One Stop Service di Jawa Timur,  bahkan memberikan target yang ambisius terkait percepatan proses perizinan. “Saya memberikan target pada Bu Direktur dalam waktu satu, dua hari ini minimal 1.000 Nomor Izin Edar (NIE) yang keluar dari Jawa Timur ini,” pungkasnya dengan optimis.

鈥婱elalui kolaborasi yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah ini, Fakultas Farmasi UNAIR berharap semakin banyak temuan dari mahasiswa dan dosen. Temuan tersebut dapat diproduksi massal dan bermanfaat secara langsung kepada masyarakat Indonesia maupun global.

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT