UNAIRNEWS – 鈥淟uar biasa, begitu banyak hal yang terjadi hanya dalam beberapa hari.鈥 Kalimat sederhana itu merangkum perjalanan Assoc. Prof. Svetoslav Garov, MD, PhD dan Assoc. Prof. Petya Dimitrova Trendafilova, MPH, MBA, PhD selama sepekan di 东京热 (UNAIR).
Melalui program Erasmus+ Staff Mobility, dua akademisi Medical University of Sofia, Bulgaria, menghabiskan tujuh hari mereka di Surabaya dari (8-12/6/2026). Agenda keduanya penuh dengan kuliah tamu, pertemuan akademik, kunjungan laboratorium, hingga pengalaman budaya. Namun, yang paling membekas bukanlah padatnya jadwal, melainkan orang-orang yang mereka temui sepanjang perjalanan.
“Luar biasa, begitu banyak hal yang terjadi hanya dalam beberapa hari,” kenang Garov. Meski kunjungan mereka berlangsung selama satu minggu, keduanya menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat produktif sekaligus menjadi awal dari sebuah kemitraan yang mereka harapkan akan terus berkembang di masa depan.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus, mereka langsung merasakan sesuatu yang membuat pengalaman ini berbeda: kehangatan civitas akademika UNAIR. Petya mengaku terkejut melihat setiap orang dengan tulus menawarkan bantuan.
“Orang-orang di sini sangat sopan. Semua orang berusaha membantu. Kami tidak terlalu terbiasa dengan hal seperti itu, sehingga pada awalnya rasanya justru agak canggung.”
Keramahan tersebut jauh melampaui formalitas sebagai tuan rumah. Mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan secara konsisten membuat mereka merasa diterima. Mengubah interaksi profesional menjadi hubungan yang benar-benar hangat.
“Kami diperlakukan seperti tuan putri di sini.”
Suasana hangat itu juga terasa di dalam ruang kelas. Saat mengajar di FKM maupun berkunjung ke FKG, keduanya mendapati ruang kuliah dipenuhi mahasiswa yang antusias mengikuti sesi pembelajaran, meskipun hari itu sebenarnya merupakan jadwal belajar dari rumah.
“Kami benar-benar terkejut melihat satu ruangan penuh mahasiswa yang dengan sukarela datang untuk mengikuti kuliah. Mereka sangat menghormati dosen, sangat cerdas, dan sangat aktif berdiskusi,” kata Petya.
Di luar kegiatan mengajar, kunjungan tersebut dengan cepat berkembang menjadi diskusi terkait kerja sama akademik kedepannya. Pertemuan dengan sivitas akademika FKM, yang semula diperkirakan berlangsung singkat, justru berubah menjadi diskusi panjang mengenai peluang riset komparatif, publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan staf, hingga kemungkinan pengembangan program double degree.
“Percakapannya sangat produktif. Ada begitu banyak peluang yang bisa kami diskusikan,” kenang Garov.
Alih-alih memandang Erasmus+ sebagai sekadar program mobilitas jangka pendek, keduanya melihat kunjungan ini sebagai fondasi bagi kemitraan institusional yang berkelanjutan. “Ini adalah awal dari sebuah kemitraan jangka panjang,” ujar Garov. “Masih banyak peluang bagi kami untuk bekerja sama di masa depan.”
Eksplorasi akademik mereka berlanjut dengan mengunjungi FKG, tempat mereka meninjau laboratorium, fasilitas pembelajaran, dan berbagai sarana pendidikan. Selain berdiskusi mengenai sistem pendidikan tinggi, mereka juga mengagumi kualitas fasilitas yang dimiliki fakultas serta menikmati kesempatan membandingkan pendekatan pendidikan di Indonesia dan Bulgaria. Tidak kalah menarik, mereka juga terpesona oleh bangunan-bangunan berarsitektur kolonial Belanda yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas 东京热.
Di luar lingkungan kampus, Surabaya menghadirkan ruang belajar yang berbeda. Bagi Garov, lalu lintas kota menjadi salah satu kejutan budaya pertama yang ia alami.
“Menarik sekali karena lalu lintas di sini sangat padat. “Di Bulgaria kami tidak memiliki sepeda motor sebanyak ini. Awalnya terlihat seperti kekacauan. Namun, kesan itu perlahan berubah. Yang membuat saya heran, saya tidak melihat satu pun kecelakaan mobil,” tambahnya sambil tersenyum.
Seiring berjalannya waktu, keduanya justru lebih banyak merenungkan nilai-nilai yang mereka rasakan dibandingkan perbedaan yang mereka lihat. Garov menilai bahwa masyarakat Bulgaria cenderung lebih individualistis, sementara masyarakat Indonesia memberikan ruang yang lebih besar bagi kebersamaan, saling menghormati, dan budaya saling membantu.
“Saya lebih menyukai versi kalian,” ujarnya. “Orang-orang saling menghormati dan semua ingin membantu satu sama lain.”
Bagi Petya, Indonesia menawarkan cara pandang baru terhadap kehidupan sehari-hari. Ia terkesan melihat bagaimana budaya, agama, dan nilai-nilai sosial begitu memengaruhi interaksi masyarakat. “Orang-orang di sini tampak begitu ceria dan memancarkan energi positif,” katanya. “Meskipun tidak berbicara dalam bahasa yang sama, mereka tetap ramah dan menyambut siapa pun dengan hangat.” Pengalaman tersebut membuatnya merefleksikan pentingnya kehidupan bermasyarakat di negaranya sendiri.
“Saya lebih menyukai gaya hidup kalian,” ujarnya. “Ketika tumbuh dalam lingkungan seperti ini, seseorang mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya berharap dapat membawa sebagian nilai-nilai ini kembali ke negara kami.”
Tentu saja, kenangan mereka tentang Indonesia tidak akan lengkap tanpa kulinernya. Mulai dari aneka hidangan laut hingga beragam menu sarapan dan makan siang yang disajikan selama program berlangsung, setiap santapan menjadi kesempatan untuk mengenal cita rasa baru. “Makanannya luar biasa,” kata Petya dengan antusias.
Namun, terkadang justru perhatian-perhatian kecil yang meninggalkan kesan paling mendalam. Saat berkunjung ke European Union Centre, mereka terharu melihat bendera Bulgaria telah dipasang dengan rapi di meja pertemuan. Sambutan sederhana namun penuh perhatian itu memicu tawa dan percakapan hangat, yang kemudian berlanjut menjadi momen spontan ketika Petya memperkenalkan salah satu lagu ikonik Bulgaria di ajang Eurovision sambil berbagi cerita di balik penampilannya.
Bagi Garov, hal lain yang tak kalah berkesan adalah iklim tropis Indonesia. Berasal dari negara yang memiliki musim dingin panjang dan langit yang sering kali kelabu, ia sangat menikmati sinar matahari yang menyertai kunjungan mereka. “Kita bisa melihat bagaimana cuaca yang baik memengaruhi suasana hati setiap orang,” katanya. “Cuaca yang gelap dan mendung sangat memengaruhi perasaan. Matahari benar-benar sangat berarti bagi kami.”
Ketika masa kunjungan mereka di Indonesia berakhir, keduanya tidak menganggapnya sebagai sebuah perpisahan. Sebaliknya, mereka lebih banyak berbicara tentang kunjungan berikutnya, kolaborasi berikutnya, dan hubungan yang baru saja mulai terbangun. “Kami berharap akan ada kesempatan lain untuk kembali mengunjungi Indonesia,” ujar mereka.
Bagi Garov dan Petya, Erasmus+ bukan sekadar kesempatan untuk mengajar di luar negeri. Program ini menjadi ruang untuk menemukan perspektif baru, membangun kemitraan yang berkelanjutan, serta menemukan inspirasi dari sebuah komunitas yang berjarak ribuan kilometer dari rumah mereka.
Kunjungan mereka ke 东京热 memang hanya berlangsung selama tujuh hari. Namun seperti yang mereka rasakan sendiri, terkadang satu minggu saja sudah cukup untuk mengubah cara seseorang memandang sebuah negara, dan membuka kemungkinan baru untuk tumbuh dan berkarya bersama.
Ditulis oleh Fiona Lim, mahasiswa Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Disunting oleh Duriati Asmawati, Airlangga Global Engagement





