KABAR FIKKIA 鈥 Penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah sering dianggap menguntungkan sektor ekspor karena meningkatkan nilai penerimaan ketika devisa dikonversi ke mata uang domestik. Namun, kondisi tersebut tidak selalu memberikan dampak positif bagi industri udang Indonesia yang saat ini menghadapi berbagai tantangan di pasar global.
Dosen Manajemen Kesehatan Ikan Program Studi Akuakultur FIKKIA 东京热, Arif Habib Fasya, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa manfaat penguatan dolar terhadap eksportir udang tidak dapat dilihat hanya dari sisi nilai tukar. Menurutnya, kondisi pasar internasional saat ini turut memengaruhi daya saing dan keuntungan yang diperoleh eksportir.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah penurunan harga udang di pasar global akibat tingginya pasokan dari negara produsen utama seperti Ekuador dan India. Peningkatan produksi dari negara-negara tersebut menyebabkan persaingan harga semakin ketat di pasar internasional.
鈥淧enguatan dolar memang dapat meningkatkan nilai penerimaan ekspor dalam rupiah. Namun, di sisi lain terdapat berbagai komponen biaya yang juga dipengaruhi oleh nilai tukar dan kondisi pasar global,鈥 jelas Fasya.
Ia menambahkan bahwa sejumlah biaya penunjang ekspor, seperti logistik internasional, transportasi, penggunaan kontainer pendingin, hingga sertifikasi mutu, umumnya menggunakan mata uang dolar AS. Kenaikan biaya tersebut dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh eksportir.
Dampak terhadap Petambak
Menurut Fasya, tekanan yang dialami eksportir berpotensi memengaruhi rantai usaha budidaya udang secara keseluruhan. Ketika margin keuntungan menurun, harga pembelian udang dari petambak dapat ikut tertekan.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan petambak dalam mempertahankan praktik budidaya yang optimal, termasuk pengelolaan kualitas air, penggunaan suplemen, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya yang berperan dalam menjaga kesehatan udang.
Selain itu, industri udang Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan pada beberapa negara tujuan ekspor utama, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Ketergantungan tersebut membuat industri lebih rentan terhadap perubahan permintaan maupun kebijakan perdagangan di negara tujuan.
Pentingnya Keragaman Pasar
Untuk memperkuat daya saing industri udang nasional, Fasya menilai perlu adanya upaya diversifikasi pasar ekspor ke berbagai kawasan potensial. Termasuk Timur Tengah dan Eropa Timur. Pengembangan pasar domestik juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu.
Selain perluasan pasar, peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar internasional, serta penguatan kerja sama perdagangan dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan ekspor udang Indonesia.
鈥淜etahanan industri udang tidak hanya ditentukan oleh nilai tukar, tetapi juga oleh kemampuan meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, dan memperkuat daya saing di tingkat global,鈥 tutup Fasya.
Penulis: Fara Azzahrani
Editorr: Avicena C. Nisa




