¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Prof. Jose Domingos: Genomik Membuka Jalan bagi Akuakultur Tropis yang Tangguh

Surabaya – Genomik membuka peluang baru bagi masa depan akuakultur tropis. Melalui teknologi ini, ilmuwan dapat menghasilkan ikan yang lebih produktif, tahan penyakit, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Prof. Jose A. Domingos mengangkat isu tersebut dalam International Conference on Fisheries and Marine Sciences (INCOFIMS). Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) menyelenggarakan konferensi tersebut pada Rabu (2/9/2026).

Wakil Direktur Tropical Futures Institute, James Cook University Singapore itu menyampaikan presentasi bertajuk From Genomics to Food Security: Genetic Improvement of Asian Seabass and Red Snapper for Robust Tropical Aquaculture. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan perkembangan pemuliaan genetik pada Asian seabass atau barramundi dan red snapper.

Genomik Mendorong Pemuliaan Ikan Modern

INCOFIMS 2026 - Prof. Jose A. Domingos
INCOFIMS 2026 – Prof. Jose A. Domingos

Prof. Domingos menekankan bahwa akuakultur masa depan tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Sebaliknya, industri juga membutuhkan ikan yang tangguh, sehat, dan memiliki kualitas nutrisi yang baik.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tim peneliti membangun genome reference untuk red snapper sebagai fondasi program pemuliaan. Selain itu, mereka juga mengembangkan SNP array yang memuat 70 ribu penanda genetik.

Teknologi tersebut membantu peneliti mengenali karakteristik unggul pada setiap individu. Dengan demikian, program pemuliaan dapat memilih calon induk secara lebih presisi.

Inovasi genomik ini mencerminkan penerapan SDG 9 tentang Industry, Innovation and Infrastructure. Oleh karena itu, riset berbasis teknologi dapat memperkuat perkembangan industri akuakultur di masa depan.

Ikan Tangguh untuk Ketahanan Pangan

Selain aspek pertumbuhan, Prof. Domingos dan timnya juga meneliti reproduksi, nutrisi, serta ketahanan penyakit. Selanjutnya, mereka menghubungkan setiap karakteristik tersebut dengan informasi genetik ikan.

Pada Asian seabass, tim menemukan bahwa faktor genetik memengaruhi ketahanan ikan terhadap penyakit. Sementara itu, pemuliaan juga berpeluang meningkatkan kandungan DHA, EPA, dan omega-3.

Hasil tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan pangan akuatik. Dengan kata lain, pemuliaan genetik tidak hanya berorientasi pada jumlah produksi.

Sebaliknya, inovasi tersebut juga dapat meningkatkan kualitas produk perikanan. Pada akhirnya, upaya ini mendukung penyediaan protein akuatik berkualitas bagi masyarakat.

Kontribusi tersebut sejalan dengan SDG 2 tentang Zero Hunger. Melalui akuakultur yang inovatif, sektor perikanan dapat mendukung kebutuhan ketahanan pangan global.

Akuakultur Berkelanjutan Membutuhkan Kolaborasi

Di sisi lain, program pemuliaan juga dapat menghasilkan ikan yang lebih adaptif terhadap lingkungan budidaya. Karena itu, teknologi tersebut berpotensi mendukung sistem akuakultur yang lebih berkelanjutan.

Pengembangan tersebut juga dapat mengurangi tekanan terhadap populasi ikan di alam. Dengan demikian, inovasi pemuliaan turut mendukung SDG 14 tentang Life Below Water.

Sementara itu, INCOFIMS mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Melalui forum tersebut, peserta dapat bertukar pengetahuan dan memperluas jejaring kolaborasi.

Semangat kolaborasi tersebut selaras dengan SDG 17 tentang Partnerships for the Goals. Pada akhirnya, Prof. Domingos menunjukkan bahwa inovasi dan kemitraan dapat berjalan bersama.

 

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA

QUICK LINKS

QUICK LINKS