¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ Selenggarakan ICVMHS Ke-6, Angkat Tema Ketahanan Sistem Kesehatan Hewan Berbasis One Health

Surabaya, 22 Juli 2026 — Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) ¶«¾©ÈÈ kembali menggelar konferensi ilmiah internasional tahunannya, The 6th International Conference on Veterinary Medicine and Health Sciences (ICVMHS) 2026, yang akan berlangsung secara daring pada Rabu, 22 Juli 2026, melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Mengusung tema “Building Resilient Animal Health Systems: A One Health Approach to Veterinary Medicine and Animal Husbandry”, konferensi ini kembali menegaskan posisinya sebagai forum ilmiah lintas negara yang mempertemukan peneliti, akademisi, mahasiswa, praktisi kedokteran hewan, pembuat kebijakan, hingga pelaku industri dari berbagai belahan dunia.

Tema besar yang diusung tahun ini bukan tanpa alasan. Dunia saat ini tengah menghadapi rentetan tantangan yang saling terkait erat antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan, mulai dari kemunculan penyakit menular baru, meningkatnya resistansi antimikroba, ancaman terhadap ketahanan pangan, hingga tekanan perubahan iklim yang turut memengaruhi keberlangsungan sistem peternakan. Melalui pendekatan One Health, ICVMHS 2026 ingin menegaskan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak bisa lagi diselesaikan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antara dunia kedokteran hewan, kesehatan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan.

Sesi pleno pembuka konferensi akan diisi oleh empat pembicara kunci dari latar belakang keilmuan yang beragam. Jeongho Park dari Kangwon National University, Korea Selatan, akan membawakan hasil risetnya mengenai peran sumbu IL-17E/IL-17RB dalam regulasi hematopoiesis dan komitmen sel menuju garis keturunan monosit. Dari tuan rumah, Prof. Dr. Erma Safitri dari Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ akan mengangkat isu mikotoksin dalam kedokteran hewan dan risikonya terhadap kesehatan manusia, sebuah topik yang relevan mengingat kontaminasi mikotoksin pada pakan ternak masih menjadi persoalan serius di banyak negara tropis. Sementara itu, Datuk Dr. Mohd Noor Hisham bin Mohd Haron, Presiden Malaysian Veterinary Council, akan berbagi pandangan mengenai strategi membangun sistem kesehatan hewan yang tangguh melalui kerangka One Health, dan Prof. Won-Gyun Son dari Seoul National University akan menutup sesi pleno dengan pembahasan tentang tantangan anestesi pada anjing berhidung pesek atau brakisefalik, kondisi yang dikenal luas dengan istilah brachycephalic obstructive airway syndrome.

Selain sesi pleno, konferensi juga membuka tiga ruang sesi paralel yang masing-masing menghadirkan pembicara undangan dari berbagai negara. Pada ruang yang membahas kesehatan hewan dan surveilans One Health, hadir Dr. Intan Noor Aina Binti Kamaruzaman dari Universiti Malaysia Kelantan, Prof. Tetsuya Mizutani dari Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang, serta Dr. Ayu PM Dewi dari Amsterdam University Medical Centre, Belanda. Pada ruang yang membahas peternakan berkelanjutan dan riset klinis, tampil Prof. André Ganswindt dari Mammal Research Institute, University of Pretoria, Afrika Selatan, Prof. Gorran Anderson dari Swedish University of Agricultural Sciences, Swedia, serta Dr. Muhammad Inam Ullah Malik dari Gomal University, Pakistan. Sedangkan pada ruang yang membahas ilmu klinis dan terapi lanjutan, konferensi menghadirkan Dr. Dinesh J. Vinherkar dari Mumbai Veterinary College, India, Sunhyo Kim dari Hyeon Animal Eye Clinic, Seoul, Korea Selatan, serta Assoc. Prof. Adam Rudinsky dari The Ohio State University, Amerika Serikat.

Lebih dari sekadar forum akademik, ICVMHS 2026 juga secara nyata bersentuhan dengan agenda pembangunan berkelanjutan global yang dituangkan dalam Sustainable Development Goals atau SDGs. Isu ketahanan dan keamanan pangan hasil ternak yang diangkat dalam sejumlah presentasi, misalnya penelitian mengenai pengetahuan panitia kurban terhadap masa henti obat antibiotik saat Idul Adha di Indonesia, sejalan dengan semangat SDG 2 tentang penghapusan kelaparan dan penguatan ketahanan pangan. Pendekatan One Health yang menjadi napas utama konferensi ini juga selaras dengan SDG 3 mengenai kehidupan sehat dan sejahtera, terutama melalui topik-topik surveilans penyakit zoonotik seperti tuberkulosis zoonotik dan rabies yang turut dibahas dalam sesi presentasi. Isu resistansi antimikroba dan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab pada hewan produksi turut menyentuh SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, sementara pembahasan dampak perubahan iklim terhadap kontaminasi mikotoksin pada pakan berkaitan dengan SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim. Tidak ketinggalan, riset-riset tentang kesejahteraan satwa liar, konservasi penyu laut, hingga pemantauan biomarker stres fisiologis pada hewan liar secara non-invasif turut memperkuat capaian SDG 15 tentang ekosistem daratan. Dan yang tak kalah penting, kolaborasi riset lintas negara yang terjalin melalui konferensi ini, melibatkan peneliti dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Belanda, Afrika Selatan, Swedia, Pakistan, India, Ghana, Filipina, hingga Amerika Serikat, menjadi wujud nyata dari semangat SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.

Rangkaian acara ICVMHS 2026 akan dibuka dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Lina Susanti, Drh.,MS.,Ph.D, dilanjutkan sambutan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ, Prof. Dr. Lilik Maslachah, serta Rektor ¶«¾©ÈÈ yang diwakili oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAIR, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D. Setelah sesi pleno dan sesi paralel pembicara undangan, acara akan dilanjutkan dengan presentasi oral dan poster dari para peserta di tiga ruang breakout secara bersamaan, sebelum akhirnya ditutup dengan seremoni penutupan dan pemberian penghargaan presentasi terbaik.

Sebagai forum ilmiah internasional yang telah memasuki penyelenggaraan keenam, ICVMHS diharapkan terus menjadi ruang bertemunya gagasan-gagasan baru dalam dunia kedokteran hewan dan ilmu kesehatan, memperkuat jejaring akademik lintas negara, sekaligus menjadi kontribusi nyata dari kalangan akademisi dan profesional veteriner terhadap terciptanya sistem kesehatan hewan yang tangguh dan pembangunan peternakan yang berkelanjutan di tingkat global.

Penulis: Dhandy Koesoemo Wardhana

QUICK LINKS

QUICK LINKS