东京热

东京热 Official Website

Prodi Ilmu Sejarah Gelar Seminar dan Workshop Sejarah Publik

Sambutan Oleh Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A.]

, , 东京热 (FIB UNAIR), sukses menggelar Seminar dan Workshop Sejarah Publik 2026 yang berlangsung selama dua hari pada Rabu hingga Kamis (3-4/06/2026). Rangkaian agenda ini sukses diselenggarakan di Auditorium Candradimuka Kampus C UNAIR pada hari pertama, serta dilanjutkan di Gedung Ex. Farmasi Kampus B UNAIR pada hari kedua.

Membumikan Sejarah ke Ruang Publik

Pada sesi panel utama yang terhubung langsung secara virtual dengan Ottawa, Kanada, pakar sejarah publik internasional, Prof. David Dean menjelaskan esensi mendasar dari disiplin ilmu ini. “Sejarah publik lebih luas daripada itu; bahkan ketika kita berada di arsip, kita menggunakan imajinasi untuk membantu mendukung interpretasi kita, bukan hanya menyajikan kepastian-kepastian yang berasal dari arsip, tetapi juga menawarkan berbagai kemungkinan.” ucapnya.

Menyambung gagasan tersebut, Ketua Departemen Ilmu Sejarah UNAIR, Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A. menggaris bawahi peran media modern sebagai jembatan ilmu bagi masyarakat luas. Beliau memaparkan, “Melalui berbagai media seperti museum, pameran, media massa, film, dan media digital, sejarah publik berupaya mendorong masyarakat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam pelestarian, interpretasi, dan pembelajaran sejarah, sehingga sejarah tidak menjadi sesuatu yang eksklusif. ” ucapnya.

Narasi Lokal dan Pembatasan Otoritas Ilmiah

Dalam paparannya mengenai perkembangan global, Prof. David Dean juga menyoroti bagaimana media tradisional di Indonesia sebenarnya telah mempraktikkan sejarah publik sejak lama melalui kesenian. Beliau mencontohkan penggunaan media lokal seraya berkata, “Wayang yang menggambarkan Jenderal De Kock dan Pangeran Diponegoro… jauh sebelum kita membicarakan sejarah publik sebagai sebuah bidang kajian, jauh sebelum ia muncul sebagai subdisiplin tertentu, hal tersebut telah menjadi salah satu bentuk penyajian sejarah kepada masyarakat luas,鈥 ucapnya.

Namun, integrasi narasi lokal ke dalam ruang publik ini tetap memerlukan kehati-hatian akademik agar tidak kehilangan arah ilmiahnya. Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A.  mengingatkan pentingnya menjaga koridor tersebut dengan menegaskan, “Harus ada dialog yang terus-menerus antara sejarawan di kampus yang secara akademik belajar sejarah, atau mungkin Bapak Ibu guru, dengan komunitas lokal, sehingga kita tidak sampai memproduksi sejarah yang tidak memiliki basis argumentasi yang kuat atau basis arsip,鈥 tambahnya.

Sebagai penutup ulasannya mengenai tantangan di lapangan, Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos., M.Si., M.A. memberikan batasan tegas mengenai sejauh mana ingatan kolektif masyarakat dapat diadopsi sebagai rujukan. Beliau menguraikan, “Ketika berbicara tentang shared authority, itu bukan berarti semua sejarah dilepaskan begitu saja tanpa metodologi; selama metodologi dilakukan secara benar dan berbasis cerita di masyarakat, tidak ada masalah, cuman itu kan memang harus dibuktikan,鈥 pungkasnya.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu quality education.

Penulis: Bahrul Ulum Assiddiqi

Editor: Pudja Safana Dwi Putri

QUICK LINKS

QUICK LINKS