Dokumentasi webinar Bedah Skripsi
FIB NEWS – Himpunan Mahasiswa 东京热 (FIB UNAIR) menyelenggarakan kegiatan Bedah Skripsi sebagai wadah berbagi pengalaman dan informasi mengenai penyusunan tugas akhir bagi mahasiswa Ilmu Sejarah. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri dari angkatan 2021, yaitu Rahmad Joko Samudro dan Ilham Baskoro. Kegiatan berlangsung melalui Zoom pada Minggu, (31/5/2026).聽
Melalui kegiatan ini, peserta mendapat penggambaran mengenai berbagai opsi penyelesaian tugas akhir yang ada di Departemen Ilmu Sejarah sehingga dapat menyesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing mahasiswa.
Penyusunan Skripsi Konvensional
Rahmad Joko Samudro mengawali sesi pertama dengan memaparkan tahapan penyusunan skripsi konvensional menggunakan skripsinya yang berjudul Kondisi Sosial Ekonomi Buruh Industri Logam di Surabaya pada Awal Abad ke-20 sebagai contoh. Ia menjelaskan bahwa penyusunan skripsi diawali dengan menentukan topik penelitian yang kemudian dikembangkan melalui pencarian dan pembacaan sumber-sumber yang relevan.
Sebagai gambaran, Rahmad menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap isu perburuhan muncul saat mengikuti mata kuliah Sejarah Kesehatan yang sempat membahas kondisi kesehatan buruh pada masa kolonial.
鈥淜etika menghadiri kelas mata kuliah sejarah kesehatan, di situ sedikit banyak menyenggol mengenai kondisi kesehatan buruh pada masa kolonial. Kemudian entah kenapa tiba-tiba terbesit di kepala saya membahas tentang perburuhan di masa kolonial,鈥 tuturnya.
Ketertarikan awal tersebut kemudian dikembangkannya melalui eksplorasi bacaan hingga ia menemukan artikel yang membahas perkembangan industri logam di Surabaya pada awal abad ke-20. Dari proses tersebut, topik penelitian yang semula masih umum dapat dipersempit menjadi fokus penelitian yang lebih spesifik melalui eksplorasi bacaan dan riset.
Penyusunan Skripsi Kreatif
Pada sesi berikutnya, Ilham Baskoro menjelaskan skripsi kreatif sebagai salah satu alternatif penyelesaian tugas akhir. Ia memaparkan berbagai bentuk skripsi kreatif, seperti artikel jurnal, buku, lomba, video dokumenter, komik, novel, program penyelamatan sejarah, hingga pengembangan teknologi aplikasi berbasis konten sejarah.
Ilham memaparkan bahwa salah satu output utama skripsi kreatif adalah naskah akademik. Meskipun lebih sederhana dibandingkan skripsi konvensional, mahasiswa tetap harus menguasai hasil riset yang dilakukan. Sebagai contoh, Ilham memperlihatkan naskah akademik dari video dokumenternya. Selain memuat hasil riset, naskah tersebut juga berisi perencanaan biaya produksi dan storyboard. Ia menambahkan bahwa isi naskah akademik dapat berbeda-beda sesuai arahan dosen pembimbing.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan mengenai pencantuman rancangan biaya produksi dalam naskah akademik. Menanggapi hal tersebut, Ilham menjelaskan bahwa biaya produksi miliknya tidak dicantumkan secara rinci.
“Aku tidak mendetailkan biaya produksinya berapa. Dalam naskah akademik ku hanya menuliskan biayanya kurang lebih digunakan untuk ini-ini,” jelas Ilham.
Melalui webinar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah turut mendukung implementasi pada Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yakni quality education.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Putri Andini




