东京热

东京热 Official Website

Efektivitas dan Keamanan Intervensi Diet pada Berbagai Subkelompok ADHD Berdasarkan Defisiensi Nutrisi Awal, Gejala Gastrointestinal, dan Status Pengobatan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya minat terhadap intervensi nutrisi sebagai terapi tambahan untuk ADHD. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan tidak sehat berkaitan dengan gejala ADHD yang lebih berat, sedangkan suplementasi nutrisi tertentu, diet eliminasi, maupun pola makan sehat berpotensi memberikan manfaat. Namun demikian, hasil penelitian yang tersedia masih sangat beragam, baik dari segi metodologi maupun karakteristik pasien. Selain itu, diet restriktif juga dapat menimbulkan efek samping berupa defisiensi nutrisi dan gangguan pertumbuhan, sehingga manfaatnya tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh pasien ADHD. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih presisi berdasarkan karakteristik subkelompok pasien.

Tujuan utama telaah sistematis ini adalah menilai apakah efektivitas dan keamanan intervensi diet berbeda menurut status defisiensi nutrisi, gejala gastrointestinal, dan penggunaan obat ADHD. Tujuan sekundernya meliputi evaluasi berbagai jenis intervensi diet terhadap gejala inti ADHD, fungsi sehari-hari, fungsi eksekutif, kualitas tidur, gejala emosional dan perilaku, biomarker nutrisi maupun inflamasi, efek samping, serta kepatuhan pasien terhadap terapi. Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi subkelompok pasien yang memperoleh manfaat klinis terbesar dari intervensi nutrisi.

Telaah sistematis akan mencakup uji klinis acak sebagai sumber bukti utama, serta studi komparatif nonacak yang relevan untuk mengevaluasi efektivitas maupun keamanan intervensi. Populasi penelitian meliputi anak, remaja, dan dewasa dengan diagnosis ADHD berdasarkan kriteria DSM, ICD, atau diagnosis klinis yang valid. Intervensi yang akan dianalisis mencakup suplementasi nutrisi (seperti vitamin D, zat besi, seng, magnesium, dan omega-3), diet eliminasi, diet sehat seperti pola makan Mediterania, serta intervensi berbasis mikrobioma, termasuk probiotik dan prebiotik. Luaran utama adalah perubahan gejala inti ADHD dan gangguan fungsi, sedangkan luaran sekunder meliputi fungsi eksekutif, kualitas tidur, gejala gastrointestinal, biomarker, efek samping, pertumbuhan, dan kepatuhan terapi.

Analisis subkelompok akan dilakukan berdasarkan tiga faktor utama, yaitu defisiensi nutrisi awal, gejala gastrointestinal, dan status penggunaan obat (belum pernah menggunakan obat, sedang menggunakan obat, menggunakan stimulan atau nonstimulan, penghentian obat, maupun resistensi terhadap pengobatan). Pencarian literatur akan dilakukan secara komprehensif melalui PubMed, Embase, PsycINFO, Cochrane CENTRAL, Web of Science, dan Scopus, disertai penelusuran registri uji klinis serta pencarian sitasi. Penilaian kualitas studi menggunakan instrumen RoB 2 untuk uji klinis acak dan ROBINS-I untuk studi nonacak, sedangkan kepastian bukti akan dievaluasi menggunakan pendekatan GRADE. Sintesis data akan dilakukan secara naratif dan meta-analisis hanya jika terdapat homogenitas metodologis dan klinis yang memadai.

Secara keseluruhan, protokol ini diharapkan menghasilkan sintesis bukti yang lebih komprehensif mengenai efektivitas dan keamanan intervensi diet pada ADHD dengan mempertimbangkan karakteristik individu pasien. Pendekatan ini mendukung konsep precision medicine, yaitu pemberian terapi nutrisi yang disesuaikan dengan kondisi biologis dan klinis masing-masing pasien, sehingga diharapkan dapat meningkatkan manfaat terapi sekaligus meminimalkan risiko efek samping. Hasil telaah sistematis ini juga diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan pedoman klinis berbasis bukti mengenai penggunaan intervensi nutrisi pada ADHD.

Penulis: Yunias Setiawati

Link artikel: https://al-kindipublisher.com/index.php/jmhs/article/view/12357

AKSES CEPAT