¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

DRI dan LPJPHKI Buka Peluang Dana Riset Eropa hingga Kolaborasi WHO

Head of Research Unit Public Health Implementation Sciences LMU Munich Jerman, Prof Dr Julia Lohmann, saat memberikan pemaparan taktis mengenai peluang pendanaan riset internasional melalui skema Horizon Europe di hadapan para peneliti UNAIR (Foto: DRI UNAIR)

UNAIR NEWS – Peluang emas untuk memperluas jangkauan riset ke panggung internasional kini terbuka lebar bagi seluruh peneliti ¶«¾©ÈÈ (UNAIR). Gelaran Research & Publication Day 2026 inisiasi Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) bersama Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual () menjadi penanda terbukanya peluang tersebut.

Kegiatan yang menghadirkan sejumlah pembicara internasional itu berlangsung di Ruang Sriwijaya ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B pada Senin (15/6/2026). Berbagai strategi jitu untuk menembus skema hibah prestisius Uni Eropa hingga kolaborasi kesehatan tingkat dunia menjadi pembahasan utama dalam kegiatan tersebut.

Head of Research Unit Public Health Implementation Sciences dari LMU Munich, Jerman Prof Dr Julia Lohmann memaparkan peta jalan bagi peneliti Indonesia untuk mengakses dana riset di Eropa. “Di Eropa, kami membiayai penelitian kami hampir secara exclusive melalui grant penelitian. Maksudnya kita semua harus menjadi pemimpin penelitian,” ujarnya.

Ia mengenalkan Horizon Europe sebagai platform dana riset terbesar dunia beranggaran 95,5 miliar Euro yang terbuka bagi peneliti luar Eropa. Horizon Europe terbentuk dengan ide menjadikan Eropa sebagai arena peneliti terbesar di dunia. “Di mana sekitar 40 persen peneliti yang terlibat dalam program Horizon Europe merupakan peserta internasional yang berasal dari berbagai negara di luar Eropa, termasuk Indonesia,” ungkap Prof Julia.

Lebih lanjut, peneliti UNAIR dapat bergabung dalam konsorsium internasional melalui skema Pilar 2 yang berfokus pada penyelesaian masalah global. Penting untuk memahami poin regulasi ini agar pengajuan proposal dari Indonesia tidak gugur secara administrasi. 

“Ada banyak bantuan bagaimana konsorsium ini harus terlihat. Selalu harus interdisipliner, transdisipliner, dan internasional. Artinya harus memiliki sekurang-kurangnya satu negara Eropa dan sekurang-kurangnya dua partner lain dari dua negara yang berbeda,” jelasnya.

Prof Julia juga mengenalkan skema German Research Foundation (DFG). Ia mengimbau para peneliti Indonesia untuk membuang sikap sungkan saat merintis jejaring global. “DFG peduli pada apa yang belum kita ketahui sebagai komunitas saintifik. Sedangkan Horizon Europe fokus pada penyelesaian masalah. Sampaikan ide proyek Anda secara langsung dan presisi, karena sikap terlalu sungkan justru sering disalahartikan sebagai ketidakpastian,” tegasnya.

Direktur WHO Collaborating Center (CC) Poltekkes Kemenkes RI, Anna Kurniati SKM MA PhD, hadir secara daring memaparkan peta transformasi tenaga kesehatan nasional dalam gelaran Research & Publication Day 2026 di Ruang Sriwijaya Kampus MERR-C UNAIR (Foto: DRI UNAIR)

Sinergi riset internasional ini berjalan selaras dengan agenda penguatan sistem kesehatan nasional yang dibawa oleh Dr Anna Kurniati. Ia mengajak akademisi UNAIR untuk melahirkan riset aksi untuk menekan berbagai beban kasus kesehatan kronis yang saat ini tengah Indonesia hadapi.

“Untuk masalah kesehatan di Indonesia, beban kasus Tuberkulosis (TBC) kita menempati peringkat ke-2 dunia. Di samping angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, prevalensi kurang gizi atau stunting, hingga penyakit tidak menular yang menyumbang 73 persen angka kematian,” urai Dr Anna.

Dr Anna menegaskan bahwa ruang kemitraan melalui WHO Collaborating Center terbuka lebar demi melahirkan solusi nyata bagi tantangan kesehatan masyarakat. “Mandat kami dari WHO Western Pacific Regional Office bergerak pada program kepemimpinan profesi bidan dan perawat, instruksi klinis, inovasi riset, serta kemitraan internasional untuk merumuskan solusi atas tantangan kesehatan riil masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT