东京热

东京热 Official Website

Dorong Circular Economy, Mahasiswa KKN-BBK Olah Limbah Tahu Desa Kedungjambangan聽

Proses peragaan praktik pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah cair tahu oleh mahasiswa KKN BBK 8 UNAIR bersama warga setempat (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS 鈥 Berawal dari keprihatinan terhadap limbah cair tahu yang terbuang dan mencemari saluran air, kelompok Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 8 东京热 (UNAIR) berinisiatif mengolahnya menjadi Pupuk Organik Cair (POC) kaya nutrisi di Desa Kedungjambangan. Langkah ini diambil untuk mengurai pencemaran lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomis bagi masyarakat setempat melalui pendekatan circular economy.

Inisiatif ini bermula saat kelompok KKN-BBK melakukan observasi lapangan dan berdialog langsung dengan pengrajin tahu pada minggu pertama pengabdian.

“Dari peninjauan lapangan dan diskusi tersebut, kami menyadari bahwa limbah cair sisa produksi tahu ternyata belum dimanfaatkan secara optimal oleh pihak pengrajin dan terbuang begitu saja ke saluran air,” ungkap Ketua Kelompok KKN BBK 8 UNAIR Desa Kedungjambangan, Pragna Aisyah Dian Permata.

Tim KKN BBK 8 UNAIR saat memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai pemanfaatan limbah cair tahu serta pengujian tingkat keasaman menggunakan indikator alami kunyit kepada warga Desa Kedungjambangan (Foto: Istimewa)

Lebih lanjut, limbah sisa produksi tersebut kaya akan unsur hara penting seperti protein, nitrogen, dan fosfor. Untuk memudahkan warga menguji tingkat keasaman (pH) limbah secara mandiri tanpa alat laboratorium yang mahal, kelompok KKN memanfaatkan bahan alami berupa ekstrak kunyit. Kandungan kurkumin pada kunyit mampu merespons tingkat keasaman secara presisi berubah menjadi kuning terang pada kondisi asam dan kemerahan pada kondisi basa.

“Atas saran Dosen Pendamping Lapangan (DPL), kami memilih kunyit dibanding bunga telang karena lebih mudah didapat warga tanpa butuh pH meter mahal. Pendekatan visual ini menyederhanakan sains rumit jadi solusi praktis,” jelas Pragna, Selasa (21/7/2026). 

Proses edukasi sempat menghadapi tantangan tersendiri karena awalnya warga lebih berfokus pada wacana pengolahan limbah rumah tangga. Namun, situasi berubah ketika mahasiswa mendemonstrasikan pembuatan POC secara langsung dan mengenalkan sistem airlock pada fermentor.

“Rasa penasaran terhadap cara kerja sistem airlock inilah yang menjadi titik balik. Dari situ, kami jauh lebih mudah meyakinkan warga bahwa limbah cair tahu ternyata bisa menjadi produk bernilai guna,” kata Pragna.

Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test terhadap 15 warga yang hadir, materi mengenai fungsi EM4 sebagai bioaktivator dan lama masa fermentasi menjadi topik yang paling memancing rasa penasaran.

“Jika materi definisi dan bahan utama lebih mudah diingat warga karena konkret, materi fungsi EM4 dan durasi fermentasi ini membutuhkan pemahaman mekanisme yang lebih abstrak. Materi inilah yang paling menghidupkan suasana saat praktik langsung dan membuktikan proses transfer pengetahuan berjalan baik,” tambah Pragna.

Guna memastikan keberlanjutan program setelah masa KKN usai, kelompok KKN BBK 8 menyusun Buku Panduan Pembuatan POC dari Limbah Tahu bergambar yang kini sedang dalam tahap pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pengalaman ini sekaligus mempertegas penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi) serta Poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

“Saya menyaksikan bahwa SDGs bukan sekadar teori akademis, melainkan aksi nyata di masyarakat. Perubahan besar tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Melalui pengolahan limbah ini, peran mahasiswa hadir sebagai jembatan untuk membumikan ilmu demi merawat lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat,” pungkas Pragna.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT