Penyu laut adalah makhluk purba yang telah melintasi samudra selama jutaan tahun. Mereka tidak hanya memikat manusia dengan perjalanan jauh dan kebiasaan bertelur di pantai yang sama, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir — dari pengaturan padang lamun hingga kesehatan terumbu karang. Namun kini, sarang-sarang penyu menghadapi ancaman baru yang halus namun serius: mikroplastik. Tinjauan sistematis terbaru yang menggabungkan data dari situs peneluran utama di China, Malaysia, Meksiko, Jepang, dan wilayah Mediterania menunjukkan bahwa mikroplastik (MP) telah menjadi masalah global yang menimbulkan risiko nyata pada keberhasilan reproduksi penyu.
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran antara sekitar 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Mereka bisa berupa “primary MPs” (dibuat kecil untuk keperluan industri atau produk) atau “secondary MPs” yang terbentuk dari degradasi plastik besar karena sinar matahari, abrasi, pasang surut, dan aktivitas biologis. Polimer yang paling banyak ditemukan meliputi polyethylene (PE), polystyrene (PS), polypropylene (PP), dan polyethylene terephthalate (PET). Mikroplastik menarik perhatian bukan sekadar karena ukurannya, tetapi juga karena daya tahannya dan kemampuannya menyerap atau membawa bahan kimia berbahaya seperti phthalates, BPA, POPs dan logam berat. Dalam konteks pantai dan sarang penyu, butiran-butiran ini dapat menumpuk pada pasir, masuk ke lapisan di mana telur dierami, dan bahkan ditemukan di dalam kuning telur dan jaringan embrio.
Hasil tinjauan sistematis menunjukkan variasi spasial yang besar dalam konsentrasi mikroplastik. Beberapa lokasi menunjukkan tingkat sangat tinggi, misalnya lebih dari 12.000 item per kilogram pasir kering di Redang Island (Malaysia), sementara situs lain seperti Qilianyu Islands (China) melaporkan ratusan hingga ribuan partikel per meter persegi. Yang krusial: mikroplastik tidak hanya berada di permukaan pantai; banyak studi menemukan partikel menembus vertikal hingga kedalaman inkubasi telur (sekitar 60–70 cm). Artinya, embrio bertelur berpotensi terkena paparan sejak fase awal perkembangan.
Dampak mikroplastik pada reproduksi penyu meliputi mekanisme fisik, kimiawi, dan biologis. Perubahan sifat fisik pasir: Partikel plastik dapat mengubah porositas, kapasitas termal, dan retensi air pasir. Perubahan ini memengaruhi suhu inkubasi dan pertukaran gas di sekitar telur — dua faktor krusial untuk perkembangan embrio. Untuk spesies dengan penentuan jenis kelamin bergantung suhu (temperature-dependent sex determination), kenaikan suhu lokal karena adanya partikel gelap yang menyerap panas dapat mendorong ketidakseimbangan rasio jenis kelamin, mengarah pada dominasi betina yang membahayakan stabilitas populasi jangka panjang. Gangguan pertukaran gas: Akumulasi serat dan busa dalam pori-pori pasir dapat menurunkan permeabilitas, sehingga meningkatkan risiko hipoksia pada embrio. Paparan kimia: Mikroplastik membawa atau melepaskan aditif plastik seperti phthalates (PAEs) yang bersifat lipofilik dan dapat terakumulasi dalam kuning telur. Studi menemukan PAEs dan partikel MP berukuran <5 µm dalam kuning telur dan jaringan hati embrio, bukti adanya transfer maternal selama pembentukan telur (vitellogenesis). Phthalates dan beberapa bahan kimia terkait berpotensi mengganggu hormon, memengaruhi organogenesis, perkembangan gonad, dan fungsi metabolik embrio. Efek subletal dan mekanis: Selain keracunan kimia, partikel fisik dapat memicu respons imun (mis. peningkatan proliferasi melanomacrophage centers di hati embrio sebagai tanda stres oksidatif dan inflamasi). Setelah menetas, hatchling yang mengandung sampah mikroplastik di saluran pencernaan sering menunjukkan kondisi tubuh lebih buruk, kemampuan renang menurun, dan risiko kematian lebih tinggi akibat obstruksi usus.
Analisis pada post-hatchlings menunjukkan frekuensi tinggi ingestasi plastik pada tahap awal kehidupan. Plastik yang tertelan tidak hanya mengurangi kapasitas pengambilan makanan dan penyerapan nutrisi (dilusi diet), tetapi juga dapat menyebabkan luka mekanis, penyumbatan, dan inflamasi usus. Penahanan plastik dalam saluran pencernaan dilaporkan dapat berlangsung hingga puluhan hari, memungkinkan pelarutan bahan kimia berbahaya ke jaringan tubuh. Mengingat tingkat mortalitas alami penyu hingga dewasa sangat tinggi (<1% mencapai dewasa), setiap faktor tambahan yang mengurangi kebugaran awal atau memengaruhi rasio jenis kelamin memiliki efek demografis jangka panjang. Meskipun ada peningkatan studi tentang mikroplastik di laut, kajian khusus yang menghubungkan MP dengan hasil reproduksi penyu relatif terbatas. Tantangannya termasuk kesulitan teknis mengekstraksi dan mengidentifikasi partikel dari matriks pasir yang heterogen, kurangnya protokol standar global, dan variasi unit pelaporan (items/kg, particles/m², particles/m³), yang menyulitkan perbandingan antar studi. Banyak penelitian bersifat deskriptif, menunjukkan keberadaan MP, namun masih sedikit studi eksperimental yang menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara paparan MP dan hasil penetasan atau perkembangan embrio.
Untuk melindungi reproduksi penyu, langkah-langkah berikut direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, pengurangan sumber plastik: Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, perbaiki manajemen limbah, dan regulasi penggunaan busa (EPS) di kawasan pesisir dan sektor perikanan/aquaculture. Kedua, pembersihan pantai teratur: Program bersih-bersih pantai yang terkoordinasi membantu mengurangi akumulasi sampah sebelum menjadi sumber MP sekunder. Ketiga, perbaikan pengolahan air limbah: Tangkap serat mikro (misalnya dari mesin cuci) sehingga tidak memasuki sistem sungai dan pesisir. Keempat, standarisasi metodologi: Kembangkan dan adopsi protokol sampling dan analitik mikroplastik yang seragam agar data antar wilayah dapat dibandingkan dan trennya dipantau. Kelima, riset eksperimental dan pemantauan jangka panjang: Studi yang menguji efek termal dan toksikologis MP di lapangan maupun eksperimental diperlukan untuk memahami mekanisme dan dampak populasi. Monitoring multisitus jangka panjang akan mengidentifikasi tren temporal dan efektivitas intervensi. Keenam, kerja sama regional: Karena plastik bergerak lintas batas lewat arus laut, upaya kolaboratif antarnegara di kawasan penting untuk mitigasi lintas-batas.
Mikroplastik bukan sekadar butiran kecil yang mengotori pantai; mereka telah menyusup ke lapisan inkubasi telur, masuk ke kuning telur dan jaringan embrio, serta membawa bahan kimia yang berpotensi mengganggu perkembangan. Dampaknya bersifat multifaset, yaitu fisik, kimia, dan biologis, yang dapat mengurangi keberhasilan penetasan, menurunkan kebugaran hatchling, dan mengubah rasio jenis kelamin populasi. Untuk melindungi penyu, simbol warisan laut dan penjaga ekosistem pesisir, tindakan pengurangan plastik di sumber, pembersihan habitat, penelitian terintegrasi, dan kebijakan publik yang kuat menjadi hal mendesak. Tanpa langkah-langkah nyata untuk mengurangi beban mikroplastik, masa depan reproduksi penyu dan kelestarian populasi mereka menjadi semakin rentan.
Penulis: Prof. Dr. Suherni Susilowati, drh., M.Kes.
Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0166445X26001153





