UNAIR NEWS 鈥 Gelar akademik bukan sekadar tanda kelulusan, melainkan jangkar etika di tengah derasnya arus disrupsi teknologi. Pesan tersebut ditegaskan Rektor 东京热 (UNAIR), Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin, saat mengukuhkan 937 lulusan pada Wisuda Periode 263 di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C, Minggu (6/9/2026). Bagi Rektor, penyematan gelar ini menjadi titik awal perjalanan pengabdian yang sesungguhnya.
Jangkar Etika Era AI
Di tengah prosesi, Prof Madyan menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana alam di NTT hingga kebakaran hutan di Kalimantan, Maluku Utara, dan Aceh Besar. Sikap ini menjadi cermin karakter untuk seluruh Ksatria Airlangga.
Memasuki era yang penuh dengan perubahan, penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi menuntut lulusan untuk tidak sekadar menguasai keahlian teknis, melainkan juga memegang teguh integritas moral. Kecanggihan teknologi, lanjutnya, tanpa landasan etika hanya akan kehilangan arah pengabdiannya di tengah masyarakat.
鈥淭eknologi membutuhkan arah. AI membutuhkan manusia yang memiliki tanggung jawab. Data membutuhkan manusia dengan kebijaksanaan. Kecepatan membutuhkan manusia dengan nilai moral, dan masa depan adalah milik mereka yang mampu menggabungkan kecerdasan dengan kemanusiaan,鈥 tegas Prof Madyan.

Reputasi Global dan Solusi Membumi
Di sela pemaparannya, Prof Madyan menyinggung jargon viral ‘Enggak sombong, enggak pamer, UNAIR!’. Sembari memandu wisudawan menyerukan tagline tersebut, ia menekankan bahwa prestasi almamater harus disikapi dengan kerendahan hati, sekaligus menjadi pendorong kebermanfaatan alumni di tingkat global.
鈥淪aya ingin Saudara melihat capaian ini bukan hanya sekadar peringkat, melainkan hasil kerja keras seluruh keluarga besar sivitas akademika, dan kesempatan untuk wisudawan sekalian,鈥 tegasnya.
Prof Madyan menambahkan bahwa reputasi internasional tidak boleh membuat alumni terlepas dari persoalan nyata di lapangan. Kebanggaan atas nama besar almamater harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak langsung bagi lingkungan sekitar.
“Menjadi universitas yang mendunia tidak berarti kita harus mangabaikan persoalan di sekitar kita. Kita juga harus mampu memahami kebutuhan lokal, menghadirkan solusi nyata, dan membawa pembelajaran tersebut ke tingkat yang lebih luas. Inilah makna local relevance, real impact, dan global resonance,鈥 paparnya.
Kiprah alumni seperti Dr Agus Harimurti Yudhoyono MSc MPA MA hingga Prof Sunarto menjadi bukti nyata keberlanjutan kontribusi tersebut bagi bangsa. Menutup pidatonya, Rektor menegaskan pesan moral dengan mengutip Aristoteles.
鈥The roots of education are bitter, but the fruit is sweet. Buah terbaik dari pendidikan bukan hanya apa yang kita peroleh untuk diri sendiri, melainkan apa yang mampu kita berikan kepada orang lain,鈥 pungkasnya
Penulis: M. Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





