UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Wanala 东京热 (UNAIR) berkesempatan melakukan analisis mikroplastik dalam kandungan air dari Kali Tebu, sekaligus melaksanakan uji kualitas air yang yang berlokasi Kantor MOZAIK ECOTON, Surabaya, pada Sabtu (23/05/2026). Sebelum itu, para mahasiswa mendapatkan paparan sosialisasi mengenai mikroplastik serta ancaman yang menyertainya dari Manajer Divisi Advokasi ECOTON, Mohammad Alaika Rahmatullah yang akrab disapa Alex.
Kegiatan ini melibatkan 12 anggota Wanala yang tengah menjalani Pendidikan Intermediate Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas (PLHAB) dan tiga anggota lainnya sebagai pendamping. Ketua Umum Wanala Abdul Hafizh Zakariyya menyampaikan bahwa pendidikan lanjutan ini merupakan suatu hal yang anggota baru Wanala UNAIR butuhkan. Sebab isu lingkungan semakin mengkhawatirkan.
鈥淎nggota baru Wanala wajib mengikuti pendidikan lanjutan divisi lingkungan hidup agar memiliki kemampuan analisis yang mumpuni di tengah keadaan lingkungan yang semakin terancam kelestariannya,鈥 ujar Hafizh.
Mikroplastik menjadi sorotan utama sebab dampaknya bisa mengancam kualitas hidup masyarakat. 鈥淜ami ingin mengetahui seberapa banyak residu dari sampah plastik yang sering ditemukan di alam bebas hingga dampaknya terhadap manusia ketika berinteraksi dengan hal itu secara terus-menerus,” jelas Hafizh.
Menuju Aksi Riset di Bawean
Sosialisasi mikroplastik dari ECOTON merupakan salah satu rangkaian kegiatan persiapan Pendidikan Intermediate PLHAB menuju kegiatan utama. Yaitu Aksi Riset dan Edukasi Satwa Lestari Bawean yang akan terselenggara di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Riset terkait mikroplastik menjadi salah satu target yang akan dilakukan. Hal ini akan berkaitam dengan cara hidup masyarakat guna menunjang temuan penelitian agar bisa menjadi data yang bermanfaat bagi penanggulangan mikroplastik di masa yang akan datang.
Praktik analisis kandungan mikroplastik serta uji kualitas air oleh dua kelompok yang terdiri dari masing-masing enam orang anggota Wanala. Kelompok pertama melakukan pengambilan sampel air di Kali Tebu. Kemudian dibawa kembali ke kantor untuk analisis jumlah mikroplastik yang ada di dalamnya. Sedangkan, kelompok kedua melakukan uji kualitas air dengan langkah pertama mengambil sampel air serta mengukur total dissolved solution (TDS) secara langsung di Kali Tebu.

Bagi Zalfa Zahirah Febriyani, salah seorang mahasiswa peserta Pendidikan Intermediate PLHAB yang mengikuti sosialisasi serta praktik analisis mikroplastik, kegiatan ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berguna untuk menambah ilmu serta memperluas wawasan terkait isu mikroplastik yang semakin mengkhawatirkan.
鈥淪aya pribadi merasa senang karena berkesempatan menambah pengalaman dan wawasan mengenai pencemaran lingkungan. Materi yang disampaikan mudah dicerna. Kemudian kami juga mendapatkan kesempatan merasakan langsung bagaimana caranya menganalisis kandungan mikroplastik. Jadi bukan sekadar mendapatkan teori, kami juga diajak untuk melakukan praktik secara langsung.鈥 Ujarnya.
Pengurangan Penggunaan Plastik sebagai Langkah Awal
Zalfa berpendapat bahwa mengetahui ilmu terkait mikroplastik merupakan hal dasar sebagai langkah awal melahirkan solusi untuk permasalahan lingkungan. Menurutnya, sikap yang perlu diambil sebagai tindak lanjut adalah mengurangi penggunaan plastik dari diri sendiri. Hal ini bisa menjadi contoh nyata ketika menyerukan ajakan kepada masyarakat sekitar guna lebih peduli dengan sampah agar tidak semakin mencemari lingkungan.
Kolaborasi antara Wanala UNAIR dengan ECOTON harapannya bisa menjadi jembatan awal tumbuhnya kepedulian terhadap pencemaran lingkungan. Sehingga memunculkan aksi nyata yang terintegrasi. Baik dalam lingkup kampus maupun masyarakat yang lebih luas.
Penulis: UKM WANALA





