UNAIR NEWS – ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) terus memantapkan langkahnya dalam kancah internasional dengan menjajaki peluang kolaborasi strategis bersama Renaissance University, Uzbekistan. Pertemuan yang berlangsung secara daring pada Selasa (5/5/2026) ini berfokus pada penguatan mobilitas mahasiswa dan pengembangan program akademik bersama. Diskusi ini menjadi pintu pembuka bagi kedua institusi untuk saling mengenal profil dan potensi keunggulan masing-masing.
Akselerasi Mobilitas Mahasiswa dan Program Budaya
Dalam diskusi tersebut, UNAIR memaparkan berbagai program unggulan internasional seperti AMERTA (Academic Mobility Exchange at ¶«¾©ÈÈ). Program tersebut mencakup jalur reguler, magang, hingga riset. Selain itu, terdapat program tailor-made yang dirancang khusus untuk pengenalan budaya Indonesia, bahasa, hingga bidang kesehatan masyarakat.
Direktur Airlangga Global Engagement (), Irfan Wahyudi SSos MComms PhD menekankan pentingnya pengalaman langsung bagi mahasiswa internasional di UNAIR. “Kami memiliki program AMERTA yang dirancang sebagai pintu gerbang bagi mahasiswa asing untuk merasakan atmosfer akademik di UNAIR. Baik melalui jalur riset maupun magang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Irfan juga mengundang delegasi Renaissance University untuk terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat. “Kami mengundang mahasiswa dan staf Renaissance University untuk bergabung dalam program SECTA yang akan diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) pada akhir Juli hingga Agustus 2026 mendatang,” tambahnya.
Transformasi Digital dan Rencana Strategis Menuju 2027
Selain fokus pada mahasiswa, kedua universitas membahas penguatan kapasitas staf, terutama dalam menghadapi tantangan teknologi global. Renaissance University yang memiliki basis kuat di bidang teknik komputer menyatakan ketertarikannya untuk mendalami keahlian di UNAIR.
Wakil Rektor bidang Kerja Sama Internasional Renaissance University, Bekzod Rozimov menyampaikan antusiasmenya terhadap peluang pelatihan bagi staf mereka. “Kami sangat tertarik untuk mengembangkan modul pelatihan selama dua minggu bagi staf kami. Khususnya yang berfokus pada bidang transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI),” tuturnya.
Sebagai langkah konkret, UNAIR mengusulkan skema visiting fellows agar staf Renaissance University dapat mengevaluasi fasilitas dan kepakaran di UNAIR sebelum melangkah ke modul pelatihan formal pada 2027. Kerja sama ini akan segera terealisasi melalui penyusunan draf Memorandum of Understanding (MoU) dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Sebagai puncaknya, kunjungan tingkat rektor ke Tashkent dijadwalkan pada akhir 2026 untuk menandatangani kesepakatan tersebut secara resmi.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





