UNAIR NEWS 鈥 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 东京热 (UNAIR) Kawasan Transmigrasi Bungku berkolaborasi bersama Balai Pelatihan Pertanian dan Manajemen Transmigrasi (BPPMT) Banjarmasin. Kolaborasi ini terwujud melalui kegiatan Pendampingan Alumni Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) Cabai Angkatan IX di Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pada Rabu hingga Kamis (26鈥27/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut terselenggara untuk memfasilitasi para alumni pelatihan dalam merealisasikan Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) yang telah dirancang sebelumnya. Sehingga target peningkatan produktivitas pertanian dapat tercapai secara terukur.
Sinergi Antar-Lembaga dan Mentoring Interaktif
Selain BPPMT Banjarmasin, hadir pula pelatih eksternal dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah serta UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah. Rangkaian agenda diawali dengan sesi evaluasi RKTL di dalam kelas, diskusi kelompok (mentoring), hingga penyampaian program prioritas dari TEP.
Dalam sesi diskusi, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Terutama ketika membahas pengembangan potensi lokal seperti rencana inovasi pembuatan serundeng lengkuas.
“Masyarakat petani dan desa lain sangat antusias dengan rencana tim TEP untuk membuat desa percontohan agar kemudian bisa terimplementasi ke desa mereka juga nantinya,” tutur Narendrani, salah satu anggota tim.
Inovasi Pestisida Nabati
Salah satu agenda praktik yang menjadi sorotan adalah pembuatan pestisida nabati ramah lingkungan dengan memanfaatkan penggilingan sereh untuk mengekstrak zat alami (Citronella). Langkah ini selaras dengan peninjauan lahan pertanian cabai milik alumni guna melihat langsung hasil penerapan materi pelatihan terdahulu.
“Penggilingan sereh itu adalah praktik pembuatan pestisida nabati yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pendampingan HPT Cabai ini. Sereh digiling untuk diekstrak zat alaminya sebagai pengusir atau pengendali hama cabai yang ramah lingkungan,” jelas Narendrani.
Komitmen dan Peran Berkelanjutan
Sebagai bentuk kontribusi nyata di lapangan, tim UNAIR berkomitmen untuk mengambil peran strategis sebagai fasilitator lokal yang menjembatani antara petani transmigran, BPPMT, dan Dinas Pertanian daerah. Selain itu, TEP berfokus pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi dan replikasi teknologi pertanian ramah lingkungan.
“Rencana kontribusi dari TEP mencakup pendampingan berkelanjutan dengan menjadi fasilitator lokal dan jembatan penghubung, serta membantu sosialisasi dan replikasi teknologi ramah lingkungan. Seperti pembuatan pestisida nabati ke kelompok tani lainnya,鈥 imbuhnya.
Ke depan, pengawalan serta pengawasan berkala akan terus tim lakukan agar alumni dapat secara konsisten dan mandiri mengaplikasikan teknik HPT cabai di lahan masing-masing. Terlebih, masyarakat petani dari berbagai desa sesama Kecamatan Bungku Barat telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra kolaborasi aktif.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rochmawati





